BREAKING
Daerah

Teungku Kasem, Oratori Ragawi Sang Legenda Meukat Ubat Kini Telah Pergi

Teungku Kasem, Oratori Ragawi Sang Legenda Meukat Ubat Kini Telah Pergi
Teungku Kasem. Foto: HO for Komparatif.ID.

Teungku Kasem lebih dikenal sebagai pedagang obat keliling ketimbang lulusan dayah. Lewat meukat ubat bak aki limöng—berdagang obat di kaki lima— ia terkenal sebagai orator ulung yang jenaka.

Selasa, 18 Agustus 2026, satu hari setelah peringatan HUT ke-81 Rèpublik Indonesia, atau dua hari setelah peringatan ke-21 Damai Aceh, Teungku Kasem menutup mata. Sang legenda jalanan meninggal dunia pada pukul 10.00 WIB, di sebuah rumah sakit di Tanjungpura, Sumatera Utara.

Kabar meninggalnya Teungku Kasem disampaikan secara berantai di berbagai media sosial. Mulai grup WhatsApp hingga linimasa Facebook. Ia akan dimakamkan di Samalanga,, Kabupaten Bireuen, setelah jenazahnya disinggahkan di Sungai Raya, Aceh Timur, untuk disalatkan.

Profesor (Guru Besar), demikian gelar disematkan oleh publik kepada Teungku Kasem, sejak orasi-orasinya saat menjual obat keliling, viral di media sosial. Ia menjadi perhatian karena kemampuannya menyampaikan fenomena secara jenaka, berisi, dan kritis.

Ia tidak memaki, kritiknya untuk internal Aceh. Ia mengkritik perilaku pemimpin di Aceh, juga, mengkritik perilaku orang Aceh yang cakap tak sesuai bikin. Haba hana lagèe but. (Bicara dan tindakan bertolak belakang).

Baca juga: OBITUARI: Prof. Warul Walidin, Lentera Aceh dari Jantong Hate

Pemberian gelar informal Profesor Kasem, tidak lahir dari akar rumput. Tapi dari kelompok terpelajar muda yang jengah dengan kondisi politik Aceh. Juga dari dosen-dosen Darussalam yang berasal dari angkatan muda. Mereka yang menggeluti filsafat, komunikasi politik, antropologi, sosiologi, memberikan dukungan moral atas lakap Profesor untuk Teungku Kasem.

Empat tahun terakhir, Teungku Kasem sudah sering tampil di atas mimbar ceramah maulid. Kontennya tetap senada seperti saat ia berdagang obat segala khasiat di kaki lima pertokoan. Isinya nasihat, teguran, fenomena sosial. Disampaikan secara jenaka, filosofis, dan dicampur satire yang nyelekit.

Ia telah terlibat kegiatan membangun kesadaran politik sejak muda. Setelah keluar pondok pesantren, ia berdagang obat dari satu tempat ke tempat lain. Pada masa Aceh Madihin berstatus wilayah Operasi Jaring Merah atau Leni dikenal Daerah Operasi Militer (DOM) dia bersama Teungku Ahmad Dewi pernah ditangkap ABRI. Di dalam tahanan dia habis-habisan dianiaya. Sedangkan Teungku Ahmad Dewi tidak banyak disentuh.

“Itulah keuntungan orang ganteng. Teungku Ahmad Dewi ganteng makanya tidak dianiaya. Saya sudah jelek, bawel pula. Kena hajarlah berkali-kali, ” Kata Teungku Kasem pada suatu ketika.

Mereka berdua dibebaskan. Teungku Ahmad Dewi melanjutkan aktivitas politiknya mendukung Aceh Merdeka, kemudian hilang dan tak pernah ditemukan hingga saat ini. Sedangkan Prof. Kasem, setelah bebas, langsung tancap gas ke luar Sumatra.

Kullu nafsin dzāiqatul maût, setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Kini setelah puluhan tahun berlalu sejak Teungku Ahmad Dewi dinyatakan hilang, Teungku Kasem juga pamit dari dunia fana.

Seorang politisi di Bireuen Muchlis Rama, menulis di timeline Facebook.

“Innalillahi Wainna Ilaihi Raji’un. Ia bukan sekadar penjual obat kaki lima, tapi ia apoteker nurani Aceh yang sebenarnya . Teungku Kasem meracik sejarah, agama, dan politik dalam satu takaran sabar, lalu menelannya sendiri dalam sepi. Selamat Jalan Tgk Kasem Idola Hati. Insya Allah Khusnul Khatimah.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *