BREAKING
Daerah

Kadisdik Aceh Raih Penghargaan Pemerhati Pendidikan dan Praktik Baik Sastra 2026

Plt Kadisdik Aceh Minta Kacabdin Pastikan Kebutuhan Dasar Siswa Terdampak Banjir Terpenuhi SMAN 3 Manyak Payed Rampungkan Rehabilitasi Mobiler Pakai Dana BOSP 2026 Disdik Aceh Buka Program SMA Jarak Jauh Untuk Anak Putus Sekolah Kadisdik Aceh Raih Penghargaan Pemerhati Pendidikan dan Praktik Baik Sastra 2026
Kadisdik Aceh Murthalamuddin. Foto: HO for Komparatif.ID.

Komparatif.ID, Banda Aceh— Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Aceh, Murthalamuddin, S.Pd., MSP, menerima Penghargaan Pemerhati Pendidikan dan Praktik Baik Sastra, Bahasa, dan Budaya Tahun 2026 dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang bekerjasama dengan Kementerian Kebudayaan dan Kementerian Ekraf.

Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas perhatian dan kontribusi Murthalamuddin dalam mendorong penguatan pendidikan yang sejalan dengan pengembangan bahasa, sastra, dan kebudayaan di tengah masyarakat.

Kegiatan penghargaan dilaksanakan dalam rangkaian kegiatan yang melibatkan Kemendikdasmen bekerja sama dengan Pertemuan Penyair Nusantara XIV.

Murthalamuddin menyampaikan rasa syukur atas penghargaan tersebut. Menurutnya, apresiasi itu tidak semata-mata ditujukan kepada dirinya secara pribadi, tetapi juga merupakan penghargaan terhadap kerja bersama seluruh ekosistem pendidikan di Aceh.

“Penghargaan ini tentu menjadi suatu kehormatan. Namun bagi saya, ini bukan penghargaan personal, melainkan apresiasi bagi para guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pegiat literasi, sastrawan, budayawan, serta seluruh pihak yang selama ini ikut menjaga agar pendidikan Aceh terus berkembang tanpa kehilangan identitas dan nilai budayanya,” ujar Murthalamuddin, Minggu (9/8/2026).

Menurut Murthalamuddin, pendidikan memiliki hubungan erat dengan bahasa, sastra, dan kebudayaan. Sekolah, kata dia, tidak cukup hanya menjadi tempat untuk mentransfer pengetahuan, tetapi juga harus menjadi ruang tumbuhnya daya pikir, kreativitas, karakter, dan kesadaran generasi muda terhadap identitasnya.

“Bahasa dan sastra mengajarkan anak-anak kita memahami gagasan, perasaan, sejarah, dan lingkungan sosialnya. Sedangkan budaya memberikan akar agar mereka mengetahui dari mana mereka berasal. Karena itu, kemajuan pendidikan harus tetap berjalan beriringan dengan penguatan literasi dan kebudayaan,” katanya.

Murthalamuddin menilai Aceh memiliki modal besar dalam pengembangan pendidikan berbasis literasi dan kebudayaan. Aceh memiliki sejarah panjang pendidikan Islam dan tradisi intelektual, sekaligus khazanah sastra, manuskrip, seni, bahasa daerah, hikayat, hingga tradisi tutur yang dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi muda.

Baca juga: Bahasa Aceh dan 11 Pertimbangan Dalam Standarisasinya

Menurutnya, kekayaan tersebut perlu semakin didekatkan dengan lingkungan sekolah agar peserta didik tidak hanya mengenal budaya sebagai materi pelajaran, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan dan identitas mereka.

“Anak-anak Aceh harus mampu bersaing dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi pada saat yang sama mereka juga harus mengenal bahasa, sejarah, sastra dan kebudayaannya. Kita ingin melahirkan generasi yang cerdas, adaptif terhadap perubahan zaman, tetapi tetap mempunyai karakter dan akar identitas yang kuat,” ujarnya.

Ia mengatakan Dinas Pendidikan Aceh akan terus mendorong tumbuhnya budaya membaca, menulis, diskusi, kreativitas, serta ruang apresiasi sastra dan kebudayaan di lingkungan pendidikan.

Menurut Murthalamuddin, guru memegang posisi penting dalam agenda tersebut. Kreativitas guru diperlukan agar bahasa, sastra, sejarah, dan kebudayaan tidak berhenti sebagai materi yang harus dihafal, tetapi hadir sebagai proses pembelajaran yang menarik dan relevan dengan kehidupan peserta didik.

“Penghargaan ini justru menjadi pengingat bahwa masih banyak pekerjaan yang harus kita lakukan. Tantangannya adalah bagaimana sekolah di Aceh dapat semakin menjadi ruang yang menyenangkan untuk membaca, menulis, berpikir kritis, berkarya dan memahami kebudayaan,” katanya.

Ia juga mengapresiasi Kemendikdasmen, Pertemuan Penyair Nusantara XIV, Kementerian Kebudayaan RI, Perpustakaan Nasional, Pemerintah Aceh, serta seluruh pihak yang memberikan ruang bagi penguatan bahasa, sastra, dan budaya dalam ekosistem pendidikan.

“Pendidikan merupakan kerja bersama. Semakin kuat kolaborasi antara sekolah, keluarga, masyarakat, pegiat literasi dan kebudayaan, semakin besar peluang kita melahirkan generasi Aceh yang berpengetahuan luas, berkarakter dan memiliki kecintaan terhadap daerahnya,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *