Komparatif.ID, Banda Aceh– Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mencatat inflasi di Aceh pada Juni 2026 sebesar 0,56 persen secara bulanan (m-to-m). Sementara itu, secara tahunan (y-on-y), inflasi mencapai 5,84 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 115,59.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala BPS Provinsi Aceh, Abdul Hakim, mengatakan kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar inflasi secara bulanan. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 2,75 persen dan memberikan andil sebesar 0,27 persen terhadap inflasi Aceh pada Juni 2026.
“Secara m-to-m, kelompok ini mengalami inflasi sebesar 2,75 persen dengan kontribusi sebesar 0,27 persen terhadap inflasi Aceh,” ujar Abdul Hakim dalam keterangannya, Kamis (2/7/2026).
BPS mencatat inflasi bulanan dipengaruhi oleh kenaikan harga sejumlah komoditas, di antaranya bensin, cabai merah, bawang merah, ikan dencis, dan beras. Selain mencatat inflasi bulanan sebesar 0,56 persen, Aceh juga mengalami inflasi (y-to-d) sebesar 1,04 persen.
Secara tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi. Kelompok tersebut mengalami inflasi sebesar 7,87 persen dengan kontribusi mencapai 2,95 persen terhadap inflasi tahunan.
Baca juga: Inflasi Aceh Tembus 6,94 Persen, Tertinggi di Aceh Tengah
Selain itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran mengalami inflasi sebesar 10,74 persen dengan andil sebesar 1,14 persen, sedangkan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi sebesar 10,41 persen dengan kontribusi sebesar 0,62 persen.
Kelompok transportasi juga mencatat inflasi tahunan sebesar 5,24 persen dengan andil 0,53 persen. Sementara kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi sebesar 2,05 persen, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 3,28 persen, kelompok kesehatan sebesar 1,68 persen, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 2,93 persen, serta kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 2,89 persen.
Berbeda dengan kelompok lainnya, kelompok pendidikan menjadi satu-satunya kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks atau deflasi secara tahunan sebesar 0,19 persen dengan andil deflasi sebesar 0,01 persen.
Dari sisi komoditas, inflasi tahunan terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga nasi dengan lauk, emas perhiasan, beras, cabai merah, dan bensin.
Penghitungan inflasi dilakukan di lima kabupaten dan kota di Aceh, yakni Banda Aceh, Lhokseumawe, Meulaboh, Kabupaten Aceh Tengah, dan Kabupaten Aceh Tamiang. Seluruh wilayah tersebut mengalami inflasi secara tahunan.
Kabupaten Aceh Tengah menjadi daerah dengan inflasi tahunan tertinggi, yakni sebesar 7,25 persen dengan IHK 119,40. Sementara itu, Meulaboh mencatat inflasi tahunan terendah sebesar 3,89 persen dengan IHK 115,50.
Untuk perkembangan bulanan, Meulaboh menjadi satu-satunya daerah yang mengalami deflasi sebesar 0,03 persen. Sementara empat daerah lainnya masih mengalami inflasi, dengan Kabupaten Aceh Tamiang mencatat inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,79 persen dan Kota Lhokseumawe menjadi yang terendah sebesar 0,28 persen.













