Home Opini Tukang Kritik Tak Harus Beri Solusi, Tapi Harus Objektif

Tukang Kritik Tak Harus Beri Solusi, Tapi Harus Objektif

kritik
Masthur Yahya.

Kritik memang tidak mengharuskan pelakunya memberikan solusi. Pun demikian, kritikan yang bagus harus berpijak pada sudut pandang objektif, bukan subjektif. 

Oleh: Masthur Yahya. 

Di layar media sosial hari ini, jempol sering kali bergerak beberapa detik lebih cepat daripada logika. Begitu wasit meniup peluit panjang dan tim jagoan dinyatakan gagal menembus babak 16 besar Piala Dunia 2026, algoritma langsung bekerja. Kolom komentar mendadak riuh, berubah menjadi lautan penghakiman massal. Kalimat seperti “Pelatih gak becus!” atau umpatan khas “hana meuho!” langsung bertebaran di mana-mana.

Mengapa fenomena penghakiman digital ini terus berulang setiap kali sebuah tim mengalami kekalahan? Pakon meunan? Mengapa kita begitu betah merawat siklus makian ini?Jawabannya sebenarnya sangat sederhana: mengkritik itu mudah dan murah.

Mengetik sebuah kritik pedas di media sosial hanya butuh waktu sepuluh detik, modal jempol, dan sisa kuota harian. Sebaliknya, merumuskan sebuah solusi itu barang mahal.

Solusi menuntut pemikiran yang mendalam, pemahaman ruang dan waktu, serta keberanian besar untuk mengambil risiko. Ada tanggung jawab raksasa yang harus digendong jika ide tersebut ternyata gagal di lapangan.

Baca: Dana Otsus Mau Habis, Aceh Mau Dibawa Kemana?

Anehnya, di ekosistem digital kita, alih-alih dihormati, orang yang mencoba menawarkan solusi justru rentan diserang balik dengan kalimat sinis, “Weh kah!” seolah-olah ruang diskusi adalah medan perang ego.Pada akhirnya, media sosial kita telah bertransformasi layaknya sebuah lapangan bola tanpa gawang.

Banyak Kritik Karena Semua Merasa Tahu Semuanya

Di lapangan absurd ini, semua orang merasa paling jago menendang bola, tetapi tidak ada satu pun yang sudi menjadi penjaga gawang. Semua orang merasa pintar menunjuk hidung dan kesalahan orang lain sambil bergumam merendahkan, “Bangai jih!”

Padahal, sejarah sepak bola telah mengajarkan satu hal mutlak: kemenangan sebuah tim tidak pernah ditentukan oleh riuh rendahnya para pendengung (buzzer) di linimasa. Kemenangan dibentuk oleh sebelas pemain di atas rumput hijau yang mau mengoper bola secara kolektif, menekan ego, tanpa berebut gengsi untuk menjadi bintang utama.

Di dalam lingkaran sebuah tim, pelatih dan pemain memikul derajat tanggung jawab yang sama sekali berbeda. Beda peran yang dimainkan, maka beda pula jenis beban yang harus digendong di pundak mereka.

Mari kita bedah beban strategis seorang pelatih. Tanggung jawab seorang juru taktik melampaui durasi pertandingan yang melelahkan itu. Ia harus berpikir untuk 90 menit laga yang sedang berjalan, sekaligus merancang cetak biru untuk 90 hari ke depan.

Dialah manusia yang merancang skema permainan, memilih komposisi pemain yang pas, menghadapi tekanan media yang jeli, dan menjadi orang pertama yang pasang badan paling depan saat timnya tumbang. Salah menyusun formasi sedikit saja, publik langsung gaduh dan melontarkan kalimat konfirmasi kasual yang sangat tajam: “Jiteunak Ma.

Beban pelatih bersifat strategis, berorientasi jangka panjang, dan sering kali tidak pernah tertangkap oleh sorotan kamera.Di sisi lain, ada beban teknis seorang pemain. Tanggung jawab mereka berada tepat di atas rumput hijau selama 90 menit pertandingan berjalan. Tugas mereka adalah mengeksekusi skema pelatih dengan tingkat presisi yang tinggi, menjaga stamina agar tidak gembos, mengelola emosi di bawah tekanan, serta mengoper bola tepat waktu.

Mereka tidak boleh alergi terhadap kehadiran pemain bintang di timnya, apalagi memaksakan diri mencetak gol sendirian demi ego pribadi.Beban pemain ini bersifat teknis, instan, dan disaksikan langsung oleh seisi stadion. Sekali saja mereka salah melakukan operan, wajah mereka bisa langsung menjadi bahan rundungan (bullying) atau korban meme jenaka yang berputar di grup-grup WhatsApp.

Kekacauan besar justru akan muncul jika batasan peran ini mulai kabur. Yaitu ketika pemain mulai sok tahu dan mencampuri urusan skema taktis pelatih, atau sebaliknya, jika pelatih terlalu intervensif mendikte gerakan teknis pemain di lapangan.

Alih-alih tampil solid, kerja sama tim justru akan berantakan karena semua pihak mengalami kelelahan pada porsi yang salah.Oleh karena itu, seyogianya sikap adil harus diletakkan kembali pada tempatnya.

Pelatih tidak boleh sebatas melimpahkan kesalahan kepada pemain saat timnya menelan kekalahan. Di sisi lain, pemain juga tidak perlu merasa paling pintar atau jemawa saat berhasil mencetak gol atau meraih kemenangan.

Terakhir, sebagai penonton, kita juga perlu melatih diri untuk menilai permainan secara objektif, bukan sekadar melempar komentar yang reaktif dan merusak. Kritik itu hak, tetapi akal sehat adalah kewajiban.

Note: Waspadalah Portugal besok pagi.

 

Previous articleTwin Earthquakes: Aceh Governor Condoles Venezuela
Next articleBupati Bireuen Hadiri HUT Ke-26 APKASI, Fokus Perkuat Sinergi Antar Daerah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here