Jika di Aceh dikenal dengan sebutan keumamah, di Maladewa disebut valhomas. Kuliner ini dikenal sebagai bahan pangan tradisional berbasis ikan tongkol atau tuna.
Bagi masyarakat Maladewa, dapur belumlah lengkap tanpa kehadiran Valhomas. Hidangan berbahan dasar tuna asap ini bukan sekadar bahan makanan, melainkan makanan pokok sekaligus warisan budaya yang mengakar kuat di setiap rumah tangga negara kepulauan tersebut.
Warisan Tradisi yang Bertahan zaman
Dahulu, sebelum teknologi lemari es masuk ke Maladewa, masyarakat setempat harus memutar otak untuk mengawetkan hasil laut yang melimpah. Dari sanalah tradisi membuat valhomas lahir.
Di masa lalu, valhomas memiliki nilai ekonomi yang tinggi hingga digunakan sebagai alat barter dalam perdagangan, serta menjadi hadiah kehormatan bagi para tamu yang berkunjung.
Meski saat ini valhomas sudah diproduksi secara massal oleh pabrik modern untuk komoditas ekspor, metode tradisional masih tetap lestari di pulau-pulau kecil. Warga lokal terus menjaga cita rasa autentik yang diwariskan turun-temurun.
Proses Pembuatan Valhomas yang Unik dan Alami
Valhomas bisa dibuat menggunakan berbagai jenis ikan laut (kandu mas), namun ikan tuna tetap menjadi primadona. Jenis yang paling sering digunakan adalah kanneli (tuna sirip kuning), latti (tuna kecil), dan raagondi (tuna banyar).
Baca: Harmoni Islam dan Pariwisata di Maladewa
Proses pembuatannya membutuhkan ketelatenan yang tinggi melalui beberapa tahapan khusus:
Pembersihan: Bagian kepala, ekor, tulang belakang, insang, dan jeroan ikan dibuang terlebih dahulu.
Pemotongan dan Perebusan: Daging ikan dipotong memanjang (disebut ari), lalu direbus di dalam kuali logam besar berisi air garam. Perebusan ini secara tradisional menggunakan bahan bakar kayu dan sabut kelapa.
Pengasapan: Setelah matang, ikan diletakkan di atas rak khusus bernama dhumashi yang terbuat dari pelepah kelapa kering atau besi. Ikan kemudian diasapi di atas tungku selama satu malam penuh.
Pengeringan: Proses terakhir adalah menjemur ikan di bawah terik matahari selama tiga hari.
Sentuhan asap dan sinar matahari ini mengubah tekstur ikan menjadi keras, mengurangi kadar airnya, dan memberikan rasa asin-gurih yang khas serta aroma asap yang memikat.
Dari Camilan Tradisional hingga Kuliner Modern
Fleksibilitas keumamah membuatnya bisa diolah menjadi makanan apa saja. Cara paling sederhana untuk menikmatinya adalah dengan memakannya langsung bersama irisan kelapa tua, sebuah camilan lokal yang dikenal dengan nama mas kaashi.
Dalam masakan rumahan Maladewa, ikan asap ini kerap diolah menjadi:
Mas Fen: Sup kaldu ikan yang segar.
Valhomas Kirugarudhiya: Kari gurih berbasis santan kelapa.
Valhomas Hiki Riha: Kari kering dengan bumbu rempah yang pekat.
Menariknya, keumamah kini juga merambah ke kuliner modern ala Barat. Banyak restoran di Maladewa yang memanfaatkan valhomas sebagai pengganti daging atau hidangan laut pada menu pizza, roti submarine, mi goreng, hingga spageti. Cita rasa asapnya yang kuat memberikan dimensi rasa baru yang sangat disukai oleh lidah lokal maupun wisatawan mancanegara.













