Home Gaya Hidup Wisata Pucok Krueng, Keindahan Ekskosrts Tua Berusia 250 Juta Tahun

Pucok Krueng, Keindahan Ekskosrts Tua Berusia 250 Juta Tahun

obejk wisata pucok krueng
Objek wisata Pucok Krueng, di hulu Krueng Raba, Desa Mon Ikeun, Lhonga, Aceh Besar. Foto: Muhajir Juli/Komparatif.ID.

Objek Wisata Pucok Krueng berjarak 2,8 kilometer dari tepian lintas nasional Banda Aceh-Meulaboh, Provinsi Aceh. Tersembunyi ratusan tahun dari pengetahuan umum, Pucok Krueng kini dikenal luas sebagai destinasi wisata alam yang eksotis. 

Komparatif.ID,Aceh Besar–Aceh Besar merupakan negeri yang indah. Memiliki wilayah gunung yang asri, serta pantai yang molek. Keunikan sekaligus kelebihan lainnya Aceh Besar yaitu memiliki kawasan pantai yang langsung dipeluk oleh deretan pegunungan yang sangat indah.

Siapa tidak kenal Lhoknga, sebuah kecamatan di Aceh Besar, yang sejak dulu dikenal sebagai salah satu wilayah yang indah. Garis pantai Samudera Hindia bersisian langsung dengan pegunungan karst. Pegunungan karst di Lhoknga merupakan formasi karst wilayah barat Aceh yang terdiri dari Karst Lam Badeuk, Karst Mata Ie, Karst Lampuuk, Karst Lhok Nga, Karst Leupung, Karst Lamno, Karst Teunom, Karst Labuhan Haji, dan Karst Tapak Tuan. Jajaran karst ini membentang dari Aceh Besar, Aceh Jaya, hingga Aceh Selatan.

Menurut catatan resmi, Karst Lhoknga telah dikomersialisasi sejak 1983, sejak PT Semen Andalas Indonesia (PT SAI) mulai berproduksi sebagai pabrik semen pertama dan satu-satunya di Aceh hingga saat ini.

Bentang alam yang dipenuhi oleh pegunungan karst, telah menjadikan Aceh Besar sebagai salah satu daerah di Aceh, yang memiliki pemandangan yang sanat eksotis. Udara bersih, pemandangan hijau, birunya laut, dan hijaunya air sungai, berpadu dalam satu kata: surga.

Di celah-celah tebing karst yang menjulang tinggi ke langit, terdapat salah satu kepingan surga di Aceh Besar. Namanya Pucok Krueng, berada di Desa Moen Ikeun, Kecamatan Lhoknga. Meski telah ada sejak formasi karst diciptakan Ilahi di kawasan itu, tapi nama Pucok Krueng baru dikenal luas akhir-akhir ini. Setidaknya beberapa tahun ke belakang.

Baca: Setengah Hari di Negeri Deli

Lokasi objek wisata Pucok Krueng berjarak 2,8 kilometer dari tepian lintas nasional Banda Aceh-Meulaboh. Jalan masuknya berhadap-hadapan dengan jalan masuk ke objek wisata Pantai Kapuk. Dua-duanya berada di desa Mon Ikeun. Bedanya, Pantau Kapuk berada di tepi pantai, Pucok Krueng di kaki gunung karst yang tidak jauh dari pantai.

Aliran sungai antara Pucok Krueng-Pulau Kapuk bernama Krueng Raba, sebuah sungai yang panjangnya hanya lima kilometer. Meski pendek, sungai yang juga dikenal dengan sebutan Krueng Lhoknga, memiliki vegetasi yang lengkap.

Menurut penelitian Laina Mukarramah, yang disusun dalam tesisnya berjudul Pola Distribusi Asosiasi dan Interaksi Vegetasi Pohon di Kawasan Wisata Sungai Pucok Krueng Raba Kecamatan Lhoknga Kabupaten Aceh Besar Sebagai Referensi Matakuliah Ekologi Tumbuhan, Krueng Raba memiliki vegetasi hutan riparian (pinggiran sungai), tanaman rawa payau/mangrove di area hilir, hingga vegetasi hutan hujan tropis.

Hijaunya Air Pucok Krueng dan Kokohnya Dinding Karst

Sabtu, 27 Juni 2026, Siti Anisa, seorang pelancong lokal dari Bireuen, berkunjung ke objek wisata Pucok Krueng. Dara berusia 18 tahun tersebut berlibur ke Aceh Besar, dalam rangka menikmati masa jeda studi, sebelum masuk ke perguruan tinggi.

Dara tersebut langsung takjub begitu tiba di lokasi. Ia yang tak begitu antusias ketika pertama kali kendaraan memasuki jalan perkampungan yang tidak begitu bagus, seketika bola matanya membulat kala tiba di lokasi.

Objek wisata Pucok Krueng berada di samping sebuah kebun yang ditanami berbagai tanaman, termasuk melinjo yang telah berukuran besar. Tajuk-tajuk pohon yag tumbuh subur di hamparan tanah datar di kaki gunung karst, menjadikan kawasan itu terlihat asri.

Desir angin yang menyapa dedaunan, berpadu dengan suara halus air yang mengalir pelan menuju Samudera Hindia. Sebuah bendungan kecil telah dibangun, demi membentuk sebuah kolam indah. Di bawah tembok bendungan kecil itu, disediakan ruangan, supaya air tetap mengalir lancar ke hilir.

Warna airnya hijau toska, mengalir pelan dari tebing kapur vertikal dan goa karst berusia ratusan juta tahun. Warna hijau toska lahir dari proses pelarutan terus menerus kalsium karbonat dari dinding batuan gamping purba.

Siti Anisa menyapu pandangan ke seluruh ruang terbuka hijau nan indah itu. Matanya berbinar. Dara kelahiran Bireuen itu diliput antusias luar biasa. Ketika teman seperjalannya sedang menikmati keindahan dari tepian sungai, Siti Anisa telah berada di dinding karst, memanjat tebing, demi menikmati pemandangan langsung dari titik nol.

Air di sini cukup dalam. Pengelolanya telah menyediakan pelampung khusus untuk pengunjung yang hendak mandi. Saat Komparatif.ID berkunjung, Sabtu, 27 Juni 2026, para pemuda yang mandi di sana, tidak satupun mengenakan pelampung.

“Kami orang sini, Bang,” jawab seorang remaja yang sedang bersiap memanjat tebing, demi dapat melompat ke bawah, menikmati sensasi tercebur ke dalam kolam besar dari ketinggian.

Hmm, wajar saja mereka tak memakai pelampung, asoe lhok (orang setempat) sudah sangat lihai berenang, dan tentu saja mereka enggan menyewa pelampung.

Objek wisata ini masih dikelola secara tradisional. Pengelola yang merupakan pemilik kebun, telah membangun sebuah musala, dua kamar mandi—dua-duanya sederhana, dan tempat nongkrong seadanya.

Monyet-monyet ekor panjang (macaca fascicularis) yang merupakan penghuni tetap lokasi, sering turun dan menjamah makanan dan minuman yang ditinggalkan pengunjung. Meski cukup berani menikmati sisa hidangan, tapi kawanan monyet-monyet ekor panjang itu masih sangat liar. Mereka tak sudi didekati. Begitu ada yang mencoba mendekat, mereka langsung kari.

merpati kecil yang dalam bahasa ilmiah disebut chalchopas (delimukan zamrud) juga ada di sana. setidaknya satu ekornya terbang rendah, sesekali mendarat di tanah, seolah memandu Komparatif.Id menyusuri jalan di sana.

Biaya masuk per kepala Rp5.000. Parkir disediakan gratis—setidaknya demikianlah fakta saat Komparatif.ID berkunjung. Pengelola tidak komplain bilamana ada pengunjung yang tidak singgah berbelanja makanan.

Rizki (23) seorang pengunjung pria, mengeluarkan smartphone dari saku celana. Dia merekam anugerah Ilahi yang diperkiaran telah berusia ratusan juta tahun. Ia mengabadikan Pucok Krueng yang airnya bersumber dari rekahan batuan kapur gunung (exokarst), terkumpul ke dalam sistem gua penampung, lalu mengalir keluar sebagai mata air bawah tanah raksasa (discharge zone).

Pucok Krueng, merupakan satu-satunya sungai karst yang volume airnya stabil sepanjang tahun di kawasan itu. Jauh berbeda dengan karst Mata Ie.

Rizki berharap ada langkah pasti dari pemerintah melindungi kawasan karst tersebut dari industrialisasi, supaya jaringan lorong-lorong sungai dan stalaktit-stalaktit di dalamnya terus hidup, sehingga Krueng Raba tetap ada hingga Tuhan mengakhiri usia bumi di alam semesta.

Previous articleEkonomi Biru: Menyelamatkan Laut Atau Sekadar Nama Baru Eksploitasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here