Home Gaya Hidup Wajah Pria Jepang, Rajin Bersih-bersih di Stadion, Ongkang Kaki di Rumah

Wajah Pria Jepang, Rajin Bersih-bersih di Stadion, Ongkang Kaki di Rumah

Wajah Pria Jepang, Rajin Bersih-bersih di Stadion, Ongkang Kaki di Rumah
Para penggemar Jepang membersihkan sampah di tribun usai pertandingan Piala Dunia antara Jepang dan Belanda di Stadion Dallas, Arlington pada 14 Juni 2026. Foto: HO for Komparatif.ID.

Komparatif.ID– Pria Jepang mencuri perhatian dunia sejak aksi Bersih-bersih stadion di ajang FIFA World Cup viral. Para pria Jepang tetap memungut sampah di stadion, tak peduli timnas mereka menang atau kalah.

Aksi serupa kembali ditunjukkan pria Jepang saat perhelatan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat-Kanada-Meksiko. Fans Timnas Jepang memungut sampah seusai menonton pertandingan.

Banyak pujian lahir terhadap aksi yang menunjukkan kedisiplinan tingkat tinggi tersebut. Sesuatu yang tak umum dilakukan oleh fans sepak bola dari negara yang lebih maju sekalipun.

Pun demikian, Baru-baru ini aksi pria Jepang di stadion seusai menonton pertandingan, menuai kritik publik di internet. Warganet mengkritik perilaku mereka, karena dianggap bertolak belakang dengan perilaku mereka sehari-hari di rumah.

Kritik publik terhadap standar ganda ini bukan sekadar asumsi. Berdasarkan data berkala dari Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), pria Jepang tercatat menghabiskan waktu paling sedikit untuk pekerjaan rumah tangga tanpa dibayar (unpaid work) di antara seluruh negara maju anggota OECD.

Rata-rata pria Jepang hanya menghabiskan waktu kurang dari 1 jam per hari (sekitar 51 menit) untuk urusan domestik. Sebagai perbandingan, perempuan Jepang harus menanggung beban kerja domestik yang jauh lebih besar, yakni rata-rata lebih dari 3 hingga 4 jam per hari.

Baca juga: Mengapa Effortless Style Semakin Digemari Anak Muda? Ini Alasannya

Kesenjangan Perilaku Pria Jepang Menurut Riset Lokal

Survei Pemerintah Metropolitan Tokyo berdasarkan laporan berkala, mencatat adanya jurang waktu (gender gap) yang masif. Perempuan di Tokyo rata-rata menghabiskan waktu hingga 7 jam 48 minutes per hari untuk mengurus rumah tangga, mengasuh anak, dan merawat keluarga.

Sementara itu, pria hanya berkontribusi selama 3 jam 29 menit. Terdapat selisih kesenjangan gender yang mencapai 4 jam 19 menit setiap harinya.

Studi dari lembaga riset lokal di Jepang mengungkapkan bahwa pria umumnya hanya mau mengambil tugas domestik yang tampak sederhana dan kasat mata. Contohnya adalah membuang kantong sampah ke luar rumah saat berangkat kerja.

Namun, mereka kerap menghindari invisible housework yang menyita waktu dan pikiran, seperti memilah jenis sampah daur ulang, mengelola stok kebutuhan bulanan, hingga merencanakan menu makanan—di mana 90% beban ini tetap jatuh ke tangan istri.

Lembaga riset menilai standar ganda ini dipicu oleh faktor struktural. Data OECD menunjukkan pria Jepang memikul salah satu jam kerja berbayar (paid work) tertinggi di dunia, yakni rata-rata 442 menit (sekitar 7,4 jam) per hari.

Budaya korporat yang menuntut lembur ekstrem membuat pria kelelahan saat tiba di rumah. Kondisi ini melanggengkan stereotip gender tradisional: pria fokus mencari nafkah di ruang publik, sementara urusan kebersihan dan pengelolaan ruang privat sepenuhnya dibebankan kepada perempuan.

Akibatnya, aksi bersih-bersih stadion yang dipuji dunia internasional kini dikritik tajam secara domestik sebagai bentuk pencitraan yang tidak mencerminkan keadilan di dalam rumah tangga mereka sendiri.

Sumber: NHK. BBC, UnseenJapan, Nippon. Com. Mainichi.jp, the Vibes.

Previous articleMengapa Effortless Style Semakin Digemari Anak Muda? Ini Alasannya
Next articleBelanda Lumat Swedia 5-1, Buka Peluang Lolos ke Babak 32 Besar Piala Dunia 2026

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here