
Komparatif. ID, Jakarta– Dugaan bahwa Pertalite akan dihapus semakin kencang didiskusikan publik sejak naiknya harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter dan Pertamax Green 95 (RON 95) mengalami kenaikan dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Seorang pengguna Thread, Ferivano Febian, dalam utasnya yang disitat Komparatif. ID, Sabtu, 13 Juni 2026, menulis tentang langkah [pemerintah] menghilangkan Pertalite tanpa protes.
Langkah awal dari strategi Pertalite akan dihapus yaitu dengan menaikkan harga Pertamax (RON 92). Ketika Pertamax makin mahal, jurang harga (price gap) antara Pertalite dan Pertamax menjadi selebar jurang pemisah antara harapan dan kenyataan, antrean di jalur Pertalite akan mengular panjang.
Kondisi ini menyebabkan jalur Pertamax sepi, hanya dilewati oleh mobil-mobil sultan yang pemiliknya sudah tidak peduli lagi dengan arti kata “hemat”. Setelah masyarakat terbiasa mengantre demi Pertalite, masuklah ke babak inti: Pertalite akan dihapus. Penghapusan secara perlahan dari Nozel SPBU.
Taktik ini tidak menggunakan pengumuman resmi yang dramatis di televisi, melainkan menggunakan seni menghilang (ghosting) yang sangat halus. Di depan SPBU akan sering muncul papan bertuliskan: “Pertalite Dalam Perjalanan” atau “Maaf, Pertalite Habis”.
Perlahan tapi pasti, dispenser warna hijau di pojokan SPBU mulai ditutupi kain hitam atau diganti warnanya menjadi biru/hijau tua. Hingga akhirnya, Pertalite resmi punah dari muka bumi pom bensin, menyisakan kenangan indah tentang bensin murah seharga Rp10.000.
“Coba membaca kembali buku sejarah regulasi energi kita. Strategi ini sejatinya adalah sebuah remake film sukses masa lalu, “ tulisnya.
Lebih lanjut ia menulis, pemerintah tidak perlu pusing menciptakan taktik baru. Mereka cukup membuka kembali cetak biru (blueprint) legendaris dari era pemerintahan Presiden Joko Widodo saat sukses melenyapkan bensin jenis Premium (RON 88) dari peradaban tanpa memicu keributan massal. Kunci utama dari kesuksesan operasi ini adalah tidak mematikan secara mendadak, melainkan menggeser secara perlahan.
Teknik ini dilakukan Presiden Joko Widodo di awal era pemerintahannya, Presiden Jokowi secara perlahan tapi pasti mulai menggeser beban subsidi dari Premium ke Pertalite.
Tujuannya mulia, demi menyelamatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang sudah megap-megap menahan beban subsidi energi.
Dengan meniru formula 2015, pemerintah sekarang bisa mulai mengumumkan bahwa subsidi Pertalite dialihkan untuk “pengembangan energi hijau” atau subsidi Pertamax Green.
Anggaran Pertalite dikurangi pelan-pelan hingga nozzle hijau di SPBU mulai mengalami gejala “kurang gizi” pasokan.
“Sebelum sebuah barang dihilangkan, buatlah masyarakat merasa bahwa barang tersebut sudah kuno dan tidak layak untuk masa depan kendaraan mereka,” tulisnya.
Dulu, masyarakat dihujani edukasi bahwa Premium itu bikin mesin berkerak, tidak ramah lingkungan, dan merusak harga diri kendaraan modern. Hasilnya? Konsumen dipaksa bermigrasi secara psikologis ke Pertalite yang dianggap lebih “sehat”.
Sekarang, saatnya Pertalite yang diposisikan sebagai “pesakitan”. Kampanye masif akan digaungkan. “Hari gini masih pakai RON 90? Mesin Anda berhak mendapatkan Pertamax!”
Baca juga: Pertamax Tembus Rp16.250 per Liter, Pertamina Naikkan Harga Mulai 10 Juni
Masyarakat yang gengsinya setinggi langit akan langsung berpindah ke nozel biru, meskipun setelah itu mereka harus makan mi instan di akhir bulan. Babak final dari skenario kolosal ini adalah penutupan jalur pasokan yang dikunci rapat menggunakan jaring-jaring birokrasi dan regulasi resmi secara terpusat.
Setelah pasokan dikurangi di kota-kota besar, Premium dipindahkan hanya untuk wilayah pelosok (3T), hingga akhirnya terbitlah regulasi resmi yang mencabut Premium dari daftar BBM penugasan nasional.
Plang kuning berlogo Premium pun resmi diturunkan dan masuk ke museum sejarah otomotif Indonesia. Mengikuti jejak sang kakak (Premium), Pertalite nantinya akan mengalami fase kelangkaan terstruktur.
Di setiap SPBU, pemandangan papan bertuliskan “Pertalite Habis, Silakan Gunakan Pertamax” akan menjadi hal yang biasa, se-biasa melihat mantan jalan dengan pacar barunya.
Hingga akhirnya, pada suatu pagi yang cerah, pemerintah merilis aturan resmi: Pertalite dinyatakan pensiun dini [Pertalite dihapus]. Sejarah membuktikan bahwa cara terbaik untuk menghilangkan sesuatu bukanlah dengan cara melarangnya, melainkan dengan membuatnya langka sampai masyarakat lelah mencari dan akhirnya terbiasa hidup tanpanya.
“Premium sudah membuktikannya, dan Pertalite tampaknya sedang bersiap-siap memakai gaun perpisahan yang sama, “ tutupnya.












