
Nilai mata uang kita jatuh. Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS anjlok parah. Tapi Presiden Prabowo menganggapnya bukan persoalan. Melalui pidatonya di depan publik di Nganjuk, Jawa Timur, ia menyepelekan semuanya. Seolah-olah jatuhnya nilai tukar rupiah merupakan hal biasa.
Dia bicara itu bukan di forum terbatas. Bukan juga kesalahan ucap –slip of the tongue. Dia mengucapkannya dengan kesadaran penuh di depan ribuan rakyat. Dia menunjukkan ketidakpedulian, mau dollar berapa ribu kek, menurutnya rakyat di desa-desa tidak belanja pakai dollar, sehingga tidak memiliki pengaruh.
Menurut Presiden, yang akan pusing dengan situasi anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, adalah mereka yang suka bepergiaan ke luar negeri.
Presiden sedang tidak bercanda saat menyampaikan itu. Dia sedang berpidato seperti biasa: berapi-api.
Di sinilah letak bahaya laten cara pandang Presiden terhadap anjloknya nilai tukar rupiah. Ia seperti tidak memahami dampak buruk jatuhnya nilai tukar mata uang terhadap perekonomian mikro hingga makro.
Dulu, Presiden Zimbabwe Robert Mugabe punya cara pandang yang sama dengan Presiden Prabowo. Ia mengatakan rakyat di desa-desa tidak membutuhkan mata uang yang kuat. Selama bertahun-tahun Robert Mugabe menyampaikan kepada rakyatnya bahwa pelemahan nilai mata uang adalah konspirasi barat. dia meyakinkan bahwa rakyat yang bertransaksi dalam mata uang lokal tidak perlu khawatir.
Tara! Hasil dari propaganda murahan itu, inflasi Zimbabwe mencapai 89,7 sextillion persen per tahun 2008. Ketika itu terjadi, hanya demi membeli roti, penduduk Zimbabwe harus membawa uang dalam keranjang penuh.
Petani di desa yang “tidak pakai dollar” mendapatkan kenyataan bahwa hasil panen mereka tidak bisa dibeli siapapun karena harga berubah setiap jam. Tabungan seumur hidup hilang nilainya dalam satu malam.
Pemerintah Zimbabwe akhirnya menyerah. Mereka mau tak mau harus menggunakan dollar sebagai mata uang resmi. Mata uang Zimbabwe tidak memiliki nilai sama sekali. Hancur berkeping-keping.
Baca: Presiden Prabowo Tak Takut Nilai Tukar Rupiah Anjlok
Lalu ada pelajaran dari Venezuela. Saat itu Presiden Hugo Chavez dan Maduro selama bertahun-tahun melarang rakyatnya khawatir soal kurs. Mereka mengatakan bahwa kurs tidak relevan bagi rakyat kecil. Yang penting ada subsidi, yang penting ada program sosial.
Hasilnya? Inflasi Venezuela mencapai 1.000.000 % pada tahun 2018. Dokter, guru, insinyur, dan semua yang punya pendidikan pergi dari negara itu. Lebih dari tujuh juta warga Venezuela meninggalkan negaranya. Rakyat desa yang “tidak pakai dollar” itu akhirnya mengantre berhari-hari untuk dapat sekarung tepung.
Mereka akhirnya terpaksa bertransaksi menggunakan dollar di pasar gelap karena mata uang mereka sendiri tidak dipercaya siapapun.
Nilai Tukar Rupiah Anjlok, Ekonomi Pasti Jeblok
Mari kita kembali ke Indonesia. Sekarang ini ternyata sangat relevan. Prabowo bilang rakyat desa tidak pakai dollar. Benarkah demikian?
Kedelai yang menjadi bahan baku tempe dan tahu, yang dimakan oleh rakyat setiap desa di Indonesia, 90% diimpor dari Amerika Serikat. Harganya ditentukan dalam dollar. Ketika rupiah melemah dari Rp13 ribu ke Rp17 ribu, harga kedelai naik. Dengan demikian harga tempe dan tahu juga naik.
Penjual tempe dan tahu di desa yang “tidak pakai dollar” langsung merasakan dampaknya di meja makan mereka.
Gandum bahan baku roti, mi instan, biscuit, yang dikonsumsi rakyat desa, 100 persen bahan bakunya diimpor. Harganya dalam dollar.
Pupuk yang dipakai petani desa untuk bercocok tanam sebagian besar bahan bakunya diimpor. Harganya dalam dollar.
Obat-obatan generik bahan bakunya sebagian diimpor dari Cina dan India. Harganya dalam dollar.
Rakyat desa tidak memegang dollar dalam bentuk fisik. Tapi seluruh kehidupan mereka dari makan pagi sampai obat yang mereka minum, harganya ditentukan oleh kurs dollar.
Hal yang paling miris, Presiden yang seharusnya menjaga kepercayaan pasar terhadap mata uang negaranya, justru dengan entengnya bilang kurs dollar tidak relevan bagi rakyat. Padahal kepercayaan itulah yang membuat rupiah bisa stabil. Kepercayaan itulah yang membuat investor mau masuk.
Kepercayaan itulah yang membuat rakyat tidak lari ke dollar dan emas seperti yang sedang terjadi dan sedang dikhawatirkan oleh para ekonom kita.
Ketika Presiden sendiri tidak menganggap serius pelemahan mata uang negaranya, signal apa yang dikirim ke pasar?sinyal apa yang dikirim kepada investor asing? Sinyal apa yang dikirim ke rakyat yang tabungannya dalam rupiah?
Harusnya Sempat Membaca Singapura
Kalau ingin belajar mengelola negara dengan benar, Prabowo bisa belajar dari tetangga terdekat: Singapura. Ilmu manajemen kepmimpinan, manajemen ekonomi, dan ilmu-ilmu manajemen lainnya, ada di sana.
Lee Kuan Yew menyadari bahwa Singapura bukan negara yang memiliki sumber daya alam. Negara tersebut dibangun di atas tanah yang tak mengandung sumber daya alam. Tak ada apa pun yang bisa dijadikan prioritas untuk menjaga kestabilan mata uangnya.
Lee Kuan Yew tahu bahwa kepercayaan terhadap mata uang adalah kepercayaan terhadap negaranya secara keseluruhan. Dia pun bekerja ekstra, dan hasilnya, Singapura hari ini memiliki GDP per kapita lebih dari 80.000 dollar.
Rakyat Singapura yang cuma “pegadang kecil” pun hidupnya jauh lebih sejahtera dari rakyat kita yang punya sumber daya alam melimpah.
Semua itu bisa diraih Singapura karena pemimpinnya tidak menganggap remeh nilai mata uangnya.
Pernyataan “mau dollar berapa ribu kek, di desa tidak pakai dollar” bukan pernyataan yang menunjukkan ketenangan seorang pemimpin. Itu adalah kenyataan yang menunjukkan ketidakpahaman, atau lebih buruk lagi, ketidakpedulian terhadap bagaimana ekonomi nyata bekerja di tingkat bawah.
Rakyat desa tidak pegang dollar. Itu benar adanya. Tapi rakyat desa makan tempe dan tahu yang dibuat dari kedelai impor yang harganya dalam dollar.
Rakyat desa bertani dengan pupuk yang bahan bakunya dalam dollar, obat yang bahan bakunya dalam dollar, dan ketika Presiden tidak peduli terhadap kurs, yang tidak peduli bukan hanya presidennya, tapi seluruh sistem di bawahnya ikut tidak peduli.
Ketika seluruh sistem tidak peduli dengan nilai mata uangnya sendiri, kita tinggal menunggu giliran menjadi Zimbabwe atau Venezuela.
Semoga kita tidak sampai ke sana. Tapi saya tidak yakin bahwa Indonesia sedang bergerak menjauh dari arah itu.
Tulisan: Taufik Maulana. Edukator finansial. Disitat dari Threads.












