
Komparatif.ID, Bireuen— Kabupaten Bireuen menjadi daerah pertama di Pulau Sumatra yang menginisiasi program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan pada Senin (13/4/2026).
Program ini digelar dalam rangka memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) sebagai upaya memperkuat kesiapan sekolah dalam menghadapi potensi bencana.
Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa, Pemerintah Kabupaten Bireuen melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, serta Yayasan JDP28.
Sebanyak 100 peserta dari 20 sekolah turut ambil bagian dalam pelatihan yang difokuskan pada peningkatan kapasitas guru sebagai garda terdepan dalam mitigasi bencana di lingkungan pendidikan.
Melalui pelatihan ini, para tenaga pendidik dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk mengidentifikasi risiko, menyusun rencana evakuasi, serta melaksanakan simulasi kebencanaan secara mandiri di sekolah.
Langkah ini diharapkan mampu menekan risiko dan dampak bencana, sekaligus membangun budaya sadar bencana di kalangan siswa dan komunitas sekolah.
Perwakilan Dompet Dhuafa, Achmad Lukman menjelaskan para peserta dibagi ke dalam dua gelombang pelatihan, dengan masing-masing sekolah mengirimkan lima orang utusan. Skema ini diterapkan untuk memastikan efektivitas implementasi program di tingkat satuan pendidikan.
Baca juga: Disdik Aceh Larang Pungutan Kelulusan dan Tamasya Ke Luar Daerah
Achmad menyebutkan kesiapsiagaan bencana merupakan bagian dari investasi jangka panjang yang harus dibangun secara sistematis. Ia menilai peningkatan kapasitas guru sebagai fasilitator lokal menjadi kunci dalam meminimalkan risiko serta dampak bencana di lingkungan sekolah.
“Kesiapsiagaan bencana adalah investasi jangka panjang. Dengan meningkatkan kapasitas guru sebagai fasilitator lokal, maka risiko serta dampak bencana di lingkungan pendidikan dapat diminimalisir secara signifika,” ungkapnya.
Menurutnya, pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan diharapkan dapat disebarluaskan secara berkelanjutan melalui simulasi mandiri dan latihan bersama di masing-masing sekolah.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bireuen, Muslim, M.Si, menekankan pentingnya manajemen mitigasi yang berjalan seiring dengan upaya perbaikan infrastruktur pendidikan.
Ia menyampaikan pihaknya saat ini tengah mempercepat pemulihan fasilitas pendidikan pasca-banjir dengan menggunakan sistem pendataan berbasis koordinat dan dokumentasi foto yang akurat.
Muslim mengungkapkan sekitar 90 persen sekolah terdampak telah memasuki tahap verifikasi perbaikan. Namun demikian, ia menilai bahwa aspek edukasi tetap menjadi hal yang tidak kalah penting. Pemerintah daerah, kata dia, berkomitmen untuk terus mendampingi sekolah agar para guru memiliki pemahaman yang tepat dalam melindungi siswa, yang termasuk kelompok paling rentan dalam situasi darurat.
Wakil Bupati Bireuen, Ir. Razuardi, M.T., dalam arahannya menyampaikan dukungan penuh terhadap penguatan kapasitas sumber daya manusia di sektor pendidikan.
Ia menilai sekolah harus menjadi lingkungan yang tangguh dan aman bagi peserta didik.
Razuardi berharap para tenaga pendidik tidak hanya mampu mengidentifikasi risiko dan menyusun rencana evakuasi, tetapi juga berperan sebagai agen perubahan dalam menumbuhkan budaya sadar bencana di lingkungan sekolah dan masyarakat.
“Sekolah harus menjadi lingkungan yang tangguh dan aman bagi anak-anak kita. Saya berharap para tenaga pendidik tidak hanya mampu mengidentifikasi risiko dan menyusun rencana evakuasi, tetapi juga menjadi agen perubahan yang menyebarluaskan budaya sadar bencana,” imbuh Razuardi.












