Komparatif.ID, Banda Aceh— Wilayah Kerja South Block Aceh (SBA) akhirnya kembali menjadi bagian dari pengelolaan migas Aceh setelah melalui proses panjang yang melibatkan berbagai pihak.
Blok yang sebelumnya sempat tergabung dalam Wilayah Kerja Meuseuraya itu kini resmi berdiri sendiri dan diproyeksikan akan dikelola oleh Badan Usaha Milik Daerah, PT Pembangunan Aceh (PEMA).
Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), Nasri Djalal, mengungkapkan proses pengembalian WK SBA tidak berlangsung singkat. Ia menyebut pihaknya harus melalui serangkaian diskusi dan koordinasi intensif dengan pemerintah pusat, khususnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, guna memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai regulasi.
Nasri menyebut Kementerian ESDM akhirnya secara resmi menetapkan WK SBA sebagai wilayah kerja tersendiri, terpisah dari Blok Meuseuraya.
“Alhamdulillah, WK SBA akhirnya ditetapkan kembali sebagai wilayah kerja mandiri. Ini menjadi langkah penting dalam pengelolaan migas di Aceh ke depan,” katanya, Senin (6/4/2026).
Ia menjelaskan sebelumnya WK SBA merupakan wilayah yang dikelola oleh PT Renco Elang Energy hingga masa kontraknya berakhir pada 2023. Setelah terminasi, wilayah tersebut sempat dikategorikan sebagai open area dan kemudian digabungkan ke dalam WK Meuseuraya bersama blok lainnya.
Baca juga: Jaringan Rusak, BPMA Target Produksi Migas Kembali Normal Maret
Dalam prosesnya, PT Pembangunan Aceh (PEMA) menyatakan minat untuk mengelola WK SBA. Hal ini menjadi salah satu faktor yang mendorong BPMA untuk mengupayakan pemisahan kembali wilayah tersebut agar dapat dikelola sesuai ketentuan yang berlaku.
Nasri menilai, kehadiran BUMD dalam pengelolaan ini membuka peluang bagi daerah untuk mengambil peran lebih besar dalam sektor energi.
“Kami memastikan bahwa mekanisme yang berjalan tetap berada dalam koridor aturan. BUMD memiliki ruang untuk berpartisipasi, dan itu yang coba kami dorong,” katanya.
Saat ini, BPMA dan PEMA telah melakukan pertemuan awal guna membahas langkah lanjutan terkait pengelolaan WK SBA. Pembahasan tersebut mencakup aspek teknis dan administratif yang harus dipenuhi sebelum kegiatan eksplorasi dan pengembangan dapat dijalankan secara penuh.
Nasri juga menyampaikan WK SBA memiliki potensi migas yang cukup menjanjikan, meskipun masih memerlukan kajian lebih lanjut untuk memastikan besaran cadangan secara pasti.
Kajian tersebut dinilai penting agar pengelolaan dapat dilakukan secara optimal dan berkelanjutan.
“Kita melihat ada potensi di wilayah ini. Namun tentu perlu kajian lebih mendalam agar pengelolaannya bisa optimal,” imbuh Nasri.












