Seniman berkarya dilatarbelakangi oleh ragam alasan. Ada yang untuk mencari sesuao nasi, ada pula untuk apresiasi. Nilainya tentu beda.
HAMPIR tiga minggu lalu, seorang teman yang pelukisโseniman lukis– Nourman, minta pendapat saya untuk lukisan temannya, Zul MS, yang mereka nilai dikembalikan dalam keadaan tidak baik-baik saja oleh penyelenggara lomba lukis, Erlangga.
Baca juga: Made in Made Akan Live Concert Reggae di Banda Aceh
Via WA Saya mengirim pendapat dalam sebait puisi:
๐๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ข๐ณ๐บ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฎ๐ช ๐ด๐ฆ๐ด๐ถ๐ข๐ฑ ๐ฏ๐ข๐ด๐ช? ๐๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ ๐ช๐ต๐ถ.
๐๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฅ๐ช๐ข๐ฑ๐ณ๐ฆ๐ด๐ช๐ข๐ด๐ช? ๐๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ข๐ด๐ถ๐ฌ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ช๐ต๐ถ.
๐๐ด๐ข๐ญ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ช๐ค๐ข๐ค๐ช, ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ฐ๐ญ ๐ฉ๐ข๐ณ๐จ๐ข ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช,
๐๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ-๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ ๐ด๐ข๐ซ๐ข.
๐๐ฐ๐ณ๐ช๐ต๐ป๐ข ๐๐ฉ๐ข๐ฉ๐ฆ๐ณ, ๐ฎ๐ถ๐ด๐ช๐ด๐ช.
Tapi yang sering terjadi, seniman tidak baik-baik saja.
Kenapa?
Apakah karena seniman makhluk naif?
Oh, tentu bukan!
Lihat saja ๐ฎ๐ฐ๐ฅ๐ฆ๐ณ๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ด๐ต๐ฆ๐ณ Indonesia seperti pelukis Mahdi Abdullah, Said Akram, Ahmad Sadali, Mochtar Apin, Umi Dachlan, Popo Iskandar hingga pelukis Indonesia dari masa lalu; Affandi, Basuki Abdullah dan tak terhitung nama besar lainnya.
Semua mereka memperlakukan karya-karyanya layaknya anak kandung.
Maka tidak heran, bila ada yang ingin mengadopsi lukisan itu, para calon pemilik baru berlomba menaikkan sendiri harga lelang agar ‘hak asuh’ lukisan jatuh padanya.
Lukisan Minum Tuak karya Affandi pernah terjual sekitar Rp 4,26 miliar padaย acara “Asian 20th Century & Contemporary Art 2013” silam di Hong Kong. Sedangkan lukisan karya Leonardo da Vinci berjudul Salvator Mundi dibeli Mohammed bin Salman di New York seharga 6,6 triliun pada 2016. Kedua lelang tadi diselenggarakan balai lelang Christie’s.
Jelas yang ingin disampaikan pemilik baru lukisan-lukisan tadi adalah, “Kami mengapresiasi lukisan karyamu melebihi biaya membesarkan anak kandung kami sendiri.”
Maka ketika lukisan dijual dengan harga sesuap nasi, dia bukan lagi karya seni, itu barang dagangan biasa.
Mengirimkan lukisan asli untuk lomba menggambar itu lebih gila lagi!
Bayangkan kalau ribuan karya anak-anak minta dikirim kembali setelah Pak Tino Sidin memamerkan di TVRI dalam acara ‘Ayo Menggambar’ setiap minggu selama bertahun-tahun pada era 80-an, tentu Pak Tino akan ragu memberi komentar: baguuuss, baguuuss.
Lebih baik, jika tidak ada perjanjian lukisan dikembalikan dalam keadaan utuh setelah acara, saran saya hindari lomba tersebut. Itu lebih buruk dari pada menjualnya dengan harga sesuap nasi.
Sepanjang seniman tidak dicaci pribadinya dan tidak tersenggol harga dirinya, semua orang bebas menilai karyanya. Pun bila ada orang membeli dengan niat karya itu untuk ditaruh di kolong tempat tidur, mereka juga berhak.
Tulisan ini bukan bentuk kecaman dan bukan bentuk kekecewaan saya. Tulisan ini hanya pengingat, terutama untuk saya sendiri untuk tetap santun dalam bersikap dan bertutur.
Asal tidak dicaci, menyenggol harga diri, seniman akan baik-baik saja. Demikian juga semua orang, akan baik-baik saja.
