BREAKING
Khazanah

Sang Filantropis itu Bernama Muazzinah

rasa malu Muazzinah
Muazzinah Yakob. Foto: Doc pribadi.

Muazzinah memilih menjadi burung pembawa air ketimbang pengutuk keadaan. Manifestasi dari semangat Darussalam sebagai jantong hate rakyat Aceh. 

Ada rasa bahagia ketika mendengar bahwa Muazzinah Yakop, dosen FISIP UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, dilantik sebagai Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan.

Kak Ina, demikian kami memanggilnya. Saya kenal dengan dirinya secara tak sengaja. Tepatnya ketika duduk semeja saat ngopi bersama almarhum Zulfikar, politisi Partai Demokrat yang pernah duduk sebagai Pengganti Antar Waktu (PAW) anggota dan Wakil Ketua DPRK Bireuen.

Saat itu Muazzinah masih lajang, dan berkiprah di Partai Demokrat. Perempuan asal Cot Buket, Peusangan, Bireuen, itu dikenal sangat aktif di organisasi kepemudaan seperti KNPI.

Ada satu pertanyaan yang ia ajukan ketika kami pertama kali bertemu di meja kopi di Banda Aceh, kala itu.

“Mohon maaf ya. Muhajir kelahiran tahun berapa? Maaf ya. Supaya tidak salah panggil nantinya.”

“Saya kelahiran 1985, Kak,” jawab saya sembari tersenyum. Ia pun tersenyum. Setelah itu kami berkawan sampai hari ini.

Sebagai politisi, kala itu, ia pernah maju dalam pemilihan anggota legislatif DPRK Bireuen. Saat itu tantangan Muazzinah tiga. Pertama, dia perempuan. Kedua, dia dari partai nasional, dan ketiga tidak cukup familiar di kalangan akar rumput. Kala itu Muazzinah pun tidak berharap muluk-muluk. Setidaknya dia sudah mencoba. Perihal kemudian tidak berhasil mendapatkan kursi, merupakan konsekuensi dari pemilihan one man one vote.

Tak terpilih sebagai anggota legislatif bukan berarti dia berhenti memberikan perhatian kepada isu-isu publik. Ia bahkan tak segan-segan turun ke lapangan, mendampingi mahasiswa yang menggelar unjuk rasa menuntut hal-hal ideal menurut mahasiswa.

Jalan takdir membawa Muazzinah ke panggung akademisi. Ia lulus tes CPNS di UIN-Ar-Raniry Banda Aceh. Dia berkhidmat di FISIP sebagai dosen. Di UIN Ina menemukan dunia yang telah lama didambakannya, menjadi pendidik anak bangsa di tingkat perguruan tinggi.

Baca: Reza Idria, Ingatan Orang Aceh Sangat Pendek, Hanya Snouck Hurgronje

Sejak muda—sebelum menikah— Ina telah dikenal sebagai sosok perempuan Aceh yang memiliki semangat filantropis. Bila sebuah cerita sampai kepada dirinya, ia akan berusaha ikut memberikan bantuan. Dengan pendapatannya yang tidak begitu besar kala itu, Ina memilih ambil bagian. Meski sedikit, setidaknya ia turut berpartisipasi.

Seiring waktu, semangat membantu sesama tetap bersemai di dalam jiwanya. banyak cerita-cerita kecil di kalangan mahasiswa yang saya dengar dari mahasiswa, bahwa Muazzinah selalu mencoba mencari jalan keluar bila ada mahasiswa yang curhat kepadanya. Ada dalam bentuk bantuan uang, ataupun dengan dukungan lainnya.

Ketika setelah menikah, Muazzinah tetap tak berubah dalam konteks peduli. Apalagi sang suami, Achyar Rasyidi, yang merupakan mantan aktivis mahasiswa di Universitas Syiah Kuala, dan cukup lama bekerja di Jakarta, turut mendukung apa yang telah dan sedang istrinya lakukan.

Setiap kali menyebut nama Muazzinah, saya selalu teringat dengan semangat Darussalam, peduli dan berbagi. Bukankah semangat itu yang membuat Kopelma Darussalam berhasil dibangun oleh tokoh-tokoh Aceh di masa lampau? Darusslam yang disebut jantong hate rakyat Aceh, merupakan pelita bagi Serambi Mekkah. Orang-orang yang berkhidmat di Darussalam merupakan obor penerang sekaligus problem solver bagi negeri ini.

Hari ini, Jumat, 11 September 2026, Rektor UIN Ar-Raniry Prof. Dr. Mujiburrahman, melantik 67 pejabat di lingkungan universitas tersebut. Salah satunya Muazzinah. Mereka dilantik di Auditorium Prof. Ali Hasyimi, seorang tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, tokoh pendidikan, dan Gubernur Aceh di masanya.

Tentu, Muazzinah bukan satu-satunya akademisi yang memiliki jiwa filantropis di UIN Ar-Raniry. Kolega-koleganya yang lain juga banyak yang demikian. Misalnya Reza Idria, Teuku Murdhani, Budi Azhari, Syarifuddin Abe, dll. Mereka memilih menjadi burung pengantar air ketimbang menjadi pencela keadaan. Tak terkecuali Prof. Mujiburrahman yang sangat peduli kepada mahasiswanya di kampus.

Bicara tentang semangat filantropisnya orang-orang Ar-Raniry, saya teringat kepada Prof. Dr. H. Farid Wajdi Ibrahim, M.A. Setiap memasuki semester baru, dia harus menghitung ulang jumlah pendapatannya, karena ada mahasiswa yang harus ia bayarkan uang SPP-nya.

“Pak Farid tidak memiliki banyak uang. Tapi ketika ada mahasiswa yang mengadu kepada dirinya tidak bisa membayar SPP, beliau selalu mencari cara. Bila tak ada cara lain, maka gajinya diambil sebagian untuk membayar SPP itu,” cerita seorang dosen, ketika mengenang kepergiaan sang pendidik ke yaumil barzah beberapa tahun lalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *