Wednesday, 21 October 2026

Komparatif.ID

Situs Berita Aceh Inspirasi Indonesia

Wisata

Benteng Kuta Kaphe, Saksi Bisu Perang Aceh di Alue Naga

Benteng Kuta Kaphe, Saksi Bisu Perang Aceh di Alue Naga
Salah seorang wisatawan saat membaca enkripsi di monumen Benteng Kuta Kaphe. Foto: Komparatif.ID/Rizki Aulia Ramadan.

Komparatif.ID, Banda Aceh– Tak jauh dari tepian jalan menuju Pantai Alue Naga, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, berdiri dua tugu yang menandai lokasi bekas Benteng Kuta Kaphe, benteng yang dibangun pemerintah kolonial Belanda pada masa awal Perang Aceh.

Dalam bahasa Aceh, Kuta Kaphe berarti bentengnya si kafir, sebutan masyarakat setempat untuk benteng milik pasukan kolonial. Benteng ini juga dikenal dengan nama Benteng Lamjong atau Lamnyong.

Sejarawan Iskandar Norman menjelaskan pembangunan Benteng Kuta Kaphe tak lepas dari Perang Aceh. Berdasarkan buku The Dutch Colonial War in Aceh terbitan PDIA tahun 1990, Belanda memaklumatkan perang terhadap Kesultanan Aceh pada 26 Maret 1873.

Iskandar menuturkan Sultan Alaidin Mahmud Syah kemudian memanggil para wazir, menteri, dan uleebalang untuk menyampaikan sikap kerajaan bahwa gertakan Belanda akan dijawab dengan perlawanan besar.

Pada 5 April 1873, Belanda mencoba mendaratkan pasukan di Pante Ceureumen, sekitar pelabuhan Ulee Lheue, dengan membawa belasan kapal dari berbagai jenis. Upaya itu gagal karena dihalau meriam Kesultanan Aceh.

Belanda kembali mendarat pada 8 April 1873 dengan 3.198 prajurit dan 168 perwira di bawah pimpinan Mayor Jenderal JHR Kohler. Sang jenderal tewas ditembak pejuang Aceh di halaman Masjid Raya Baiturrahman.

Setelah beberapa hari bertempur, pasukan Belanda hanya mampu menduduki wilayah pantai dan tak berhasil menembus perkampungan maupun pusat pemerintahan. Di tengah situasi itu, mereka membangun sejumlah benteng di pesisir yang diduduki, dan Kuta Kaphe di Alue Naga adalah salah satunya.

Benteng ini diperkirakan dibangun sekitar tahun 1874 hingga 1876 sebagai pos pertahanan pesisir untuk menahan serangan balik dan melindungi jalur logistik.

Baca juga: Masjid Tuha Ulee Kareng, Jejak 2 Abad Islam di Tengah Permukiman Banda Aceh

Lokasi ini juga tercatat dalam sejarah sebagai tempat berakhirnya hidup salah satu jenderal Belanda. Pada malam 24 hingga 25 Februari 1876, Jenderal Johannes Ludovicus Hubertus Pel, yang menjabat penguasa sipil dan militer Belanda di Aceh, meninggal dunia.

Sejumlah sumber memberikan keterangan yang tidak sepenuhnya sama. Buku The Dutch Colonial War in Aceh menyebut Pel meninggal di bivak Tunggay, Lamnyong.

Buku De Krijgsgeschiedenis van Nederlandsch-Indië karya GB Hooyer mencatat ia meninggal akibat pecahnya pembuluh darah di tengah serangan mendadak pejuang Aceh.

Adapun Tjoetje dalam bukunya tentang Perkuburan Belanda Peutjoet menuliskan pasukan Pel tiba di bivak Krueng Cut setelah perjalanan panjang, lalu diserang dan Pel wafat sekitar pukul sebelas malam.

Pel dimakamkan di Kerkhof Peucut, kompleks pemakaman serdadu Belanda yang gugur dalam Perang Aceh. Monumen untuk Pel di sana disebut sebagai yang termegah, melebihi monumen Kohler. Namun menurut Tjoetje, jasad Pel tidak berada di bawah monumen tersebut, melainkan di tempat lain di kompleks itu yang hingga kini dirahasiakan.

Kondisi Benteng Kuta Kaphe

Benteng Kuta Kaphe dibongkar antara tahun 1989 dan 1990 saat proyek normalisasi Krueng Aceh. Kini yang tersisa hanyalah dua tugu beton berukuran sekitar satu kali satu meter dengan tinggi hampir tiga meter.

Satu tugu berada di sisi timur dan satu lagi di sisi barat, dipisahkan oleh kuala. Pada tugu terpasang plakat marmer yang menerangkan keberadaan benteng di lokasi tersebut.

Meski wujud aslinya telah hilang, penanda ini tetap memiliki nilai bagi pengunjung yang tertarik pada sejarah. Lokasinya mudah dijangkau karena berada di jalur menuju Pantai Alue Naga, sehingga dapat dikunjungi sekaligus dengan wisata pantai.

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *