Home Khazanah Mengapa Bekas Jajahan Inggris Lebih Maju Ketimbang Bekas Jajahan Spanyol dan Belanda?

Mengapa Bekas Jajahan Inggris Lebih Maju Ketimbang Bekas Jajahan Spanyol dan Belanda?

Bendera negara Persemakmuran bekas jajahan Inggris
Bendera negara bekas jajahan Inggris. Foto: Ist.

Mengapa bekas jajahan Inggris lebih maju ketimbang bekas jajahan Spanyol dan Belanda? Pertanyaan itu mengemuka setiap kali debat tentang siapa lebih baik, antara Inggris, Spanyol, dan Belanda?

Abe Nazz Zain, seorang influencer kebebasan finansial asal Malaysia, menyebutkan menyebutkan selalu timbul pembahasan terkait mengapa banyak negara bekas jajahan Ingris lebih maju,lebih stabil, dan makmur, dibandingkan bekas jajahan Spanyol dan Belanda.

Bandingkan ekonomi Brunai Darussalam,Singapura, Malaysia, Filipina, dan Indonesia di kawasan Asia Tenggara.

Baca: Harmoni Islam dan Pariwisata di Maladewa

Brunai Darussalam, Singapura, dan Malaysia merupana negara-negara dengan ekonomi maju di Asia Tenggara. Negara tersebut lebih maju dengan minim korupsi, dibandingkan Filipina dan Indonesia.

Menurut Abe Nazz Zain, penyebab mengapa bekas jajahan Inggris lebih maju, bukan karena genetik, bukan sebab asal-muasal bangsa. Tapi karena sistem yang diwarisi.

Ketika Inggris (British) datang—sebagai penjajah–, empayer tersebut membawa serta undang-undang (rule of law), administrasi pemerintahan, sistem cukai, pendidikan, dan tidak ada pemaksaan penduduk lokal berpindah keyakinan kepada agama penjajah.

Pemerintah Spanyol (Spanish Empire) dan Belanda datang ke tanah jajahan dengan misi berbeda. Kedua negara tersebut hanya melakukan tindakan; gali, perah, bawa sebanyak-banyaknya ke Eropa, Spanyol paksa penduduk tempatan berganti agama dengan taglinenya gold, glory, gospel.

Bahkan untuk Nusantara yang kini disebut Indonesia, Belanda tidak langsung datang sebagai entitas negara. Tapi hadir melalui sebuah persekutuan datang bernama Vereenigde Oostindische Compagnie; disingkat VOC. Perusahaan ini hanya mencari untung semata. Mereka sangat licik.

Key performance indicators (KPI) VOC hanya menitikkan pada dividen yang harus semakin meningkat.

Jadi, melihat banyaknya kasus korupsi di Indonesia dari dulu hingga saat ini, akibat pengajaran yang diberikan oleh Pemerintah Kerajaan Belanda kepada warga Indonesia?

Belanda tidak secara langsung mengajarkan korupsi, kolusi, dan nepotisme kepada pejabat dan rakyat di Nusantara. Tapi mereka telah membangun sistem yang subur untuk berlangsungnya korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Sistem yang dibangun seperti ini: kekuasan berkonsetrasi pada kelompok elit yang jumlahnya sedikit. Rakyat kecil dipersulit melalui proses administrasi yang ribet, dan hukum mengikuti yang memiliki banyak uang, dan yang memegang pekerjaan.

Belanda membangun sistem pemerintahan di Hindia Belanda dengan cara banyak keputusan dibuat untuk keuntungan elit semata, bukan untuk keadilan. Kekuatan lokal dihabisi, dan tenaga lokal dieksploitasi dengan upah murah dan kerja paksa.

Lihatlah, ketika Indonesia merdeka hingga saat ini, struktur korupsinya tidak runtuh; malahan tumbuh subur dan menjadi-jadi. Dari elit kecil hingga elit kelas sangat atas, merupakan penggemar tindakan KKN.

Abe Nazz Zain tidak menafikan bahwa Malaysia juga korup. Tapi tidak separah Indonesia. Mengapa? Karena Inggris meninggalkan buku panduan negara, Belanda meninggalkan buku penerimaan keuntungan semata. Akibatnya, masih banyak yang membaca kuitansi dan berpikir itu adalah konstitusi.

Lihatlah di Asia Tenggara, negara-negara yang maju yaitu Brunai Darussalam, Singapura, dan Malaysia. Negara-negara itu bekas jajahan Inggris. Sedangkan Indonesia, Filipina, ya demikianlah.

Indeks persepsi korupsi global juga demikian. Peringkat Indonesia jauh di bawah Malaysia, konon lagi Singapura dan Brunai Darussalam.

Sisi “positif lainnya”, Inggris mewariskan bahasanya yang menjadi lingua franca dunia perdagangan, politik, pendidikan, kesehatan, sains, level dunia.

Meski Abe Nazz Zain mengatakan demikian, tapi terdapat juga fakta-fakta lain. Bahwa masih ada negara bekas jajahan Inggris yang kondisinya lebih buruk dari Indonesia. Bangladesh, Pakistan, yang lebih jelek IPK-nya ketimbang Indonesia.

Bekas Jajahan Inggris

Di dunia ini terdapat negara-negara bekas jajahan Inggris yang unggul secara ekonomi, politik, budaya, dan lain-lain. Negara-negara tersebut sebagan besar bergabung ke dalam Negara Persemakmuran.

Terdapat 55 negara yang bergabung ke dalam Negara Persemakmuran (Commonwealth of Nations). Meski demikian, tidak semua anggotanya mengakui Raja Britania Raya Charles III sebagai kepala negara.

Negara-negara tersebut antara lain Britania Raya, Siprus, Malta, Canada, Afrika Selatan, Ghana, India, Pakistan, Maladewa, Australia, Selandia Baru, Malaysia, Singapura, Brunai Darussalam, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, dan lain-lain.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia yang juga bekas jajahan Inggris? Ya, fakta itu tidak bisa dibantah. Tapi kehadiran Inggris sebagai penguasa di Hindia Belanda hanya sebentar saja. Mereka menjajah tidak sangat lama, dan mereka masuk setelah Belanda terlebih dahulu bercokol di Nusantara.

Bahkan, karena saking lamanya Indonesia dijajah Belanda, Indonesia tidak bergabung dengan Commonwealth of Nations.

Previous articleDari Honor Rp100 Ribu ke PPPK: Harapan Baru di Tengah Riuh Anggaran
Next articleBPBD: 8 Desa di Aceh Tengah Masih Terisolasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here