Komparatif.ID, Banda Aceh– Masjid Baiturrahim yang hanya berjarak sekitar empat kilometer dari pusat kota Banda Aceh kini menjadi salah satu destinasi wisata religi yang dikunjungi wisatawan lokal hingga mancanegara.
Letaknya yang berdekatan dengan Pantai dan Pelabuhan Ulee Lheue membuat kawasan ini semakin ramai didatangi, baik oleh pelancong maupun masyarakat yang ingin beribadah.
Daya tarik utama masjid ini tidak lepas dari kisahnya pada 26 Desember 2004. Ketika gelombang tsunami setinggi sekitar 21 meter menghantam pesisir utara Banda Aceh, kawasan Ulee Lheue yang berada persis di tepi laut menjadi salah satu wilayah yang terdampak paling parah.
Nyaris seluruh bangunan di sekitarnya rata dengan tanah, sementara masjid ini tetap berdiri di tengah hamparan puing. Hanya sebagian kecil bagian bangunan yang mengalami kerusakan. Banyak orang menyebut keberadaannya saat itu sebagai sebuah keajaiban.
Pengurus Masjid Baiturrahim, Nur, menuturkan saat bencana terjadi, masjid ini menjadi tempat berlindung warga sekitar. Area dalam masjid dipadati orang yang mencari keselamatan.
Dari sekian banyak yang berlindung, hanya sembilan orang yang selamat. Mereka naik ke bagian kubah, dan di antara yang selamat itu terdapat seorang bayi. “Mereka berlindung di atas, di kubah masjid, itu termasuk anak bayi juga ada yang selamat,” ujarnya Kamis (24/9/2026).
Menurut Nur, ada tiga gelombang yang menerjang masjid setelah gempa bumi berkekuatan 9 skala Richter. Setiap gelombang pecah saat menimpa bangunan, lalu bergulung-gulung dengan ketinggian lebih dari sepuluh meter hingga mencapai atap.
Ia menyebut kondisi di dalam masjid relatif tenang sehingga orang bisa berenang menuju tiang, sedangkan di luar arus sangat ganas. Setelah air surut, kata dia, masjid bersih dari jenazah korban, dan banyak mushaf Alquran ditemukan berserakan di lantai dalam keadaan terbuka serta utuh.
Selain kisah tsunami, nilai sejarah masjid ini terentang jauh ke belakang. Masjid Baiturrahim merupakan peninggalan Kesultanan Aceh yang didirikan sekitar abad ke-17 dengan nama Masjid Jami’ Ulee Lheue.
Konstruksi awalnya menggunakan kayu. Ketika Masjid Raya Baiturrahman dibakar pasukan Belanda pada 1873, warga Banda Aceh berbondong-bondong menunaikan salat Jumat di masjid ini. Sejak saat itulah, nama Baiturrahim diperkirakan mulai melekat.
Bangunan masjid juga beberapa kali mengalami pemugaran. Pemerintah Hindia Belanda membangun ulang masjid secara permanen pada awal 1920-an dengan batu bata dan semen tanpa besi, memakai arsitektur bergaya Eropa.
Saat itu masjid belum memiliki kubah dan hanya mampu menampung sekitar 500 jamaah. Pada 1981, dengan bantuan Pemerintah Arab Saudi, masjid diperluas pada sisi kanan dan kirinya sehingga kapasitasnya bertambah menjadi sekitar 1.500 jamaah.
Setelah tsunami, masjid ini sempat berfungsi sebagai pusat penyaluran bantuan kemanusiaan bagi warga terdampak.
Kini, melalui program rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pascabencana, Masjid Baiturrahim kembali berdiri kokoh. Di dalamnya terdapat museum mini yang menyimpan foto-foto kenangan peristiwa tsunami, sehingga masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai destinasi wisata religi sekaligus wisata tsunami.
Statusnya pun telah diakui negara sebagai cagar budaya nasional melalui SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor PM.90/PW.007/MKP/2011.
Pasca tsunami, perhatian dunia tertuju pada masjid ini. Wisatawan lokal maupun mancanegara datang untuk melihat langsung bangunan yang selamat dari bencana tersebut.
Menurut pengurus, kunjungan paling sering datang dari negara tetangga, Malaysia. Para pengunjung biasanya tidak hanya berfoto, tetapi juga menyempatkan diri untuk salat. Posisi Masjid Baiturrahim sebagai salah satu tujuan wisata religi di Banda Aceh pun sejajar dengan Masjid Raya Baiturrahman dan Masjid Rahmatullah Lampuuk.
Bagi wisatawan yang berencana berkunjung, pengurus masjid bersedia memberikan informasi mengenai sejarah bangunan, mulai dari masa Kesultanan Aceh hingga peristiwa tsunami.
Di sekitar masjid juga terdapat kios yang menjajakan pakaian muslim dan suvenir khas Aceh, yang dapat menjadi oleh-oleh setelah berkunjung. Dengan lokasi yang mudah dijangkau dari pusat kota dan berdekatan dengan kawasan pantai, Masjid Baiturrahim menawarkan perpaduan wisata sejarah, religi, dan edukasi kebencanaan dalam satu kunjungan.




