Komparatif.ID, Banda Aceh– Masjid Baitul Musyahadah merupakan salah satu masjid di Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh, yang memiliki ciri khas pada bentuk arsitekturnya. Masjid yang berada di Jalan Teuku Umar, Gampong Geuceu Kayee Jato, Kecamatan Banda Raya, ini dikenal dengan sebutan Masjid Kupiah Meukeutop karena bentuk kubahnya menyerupai penutup kepala tradisional Aceh
Keunikan itu membuat Masjid Baitul Musyahadah berbeda dari kebanyakan masjid lain. Bentuk kubahnya terinspirasi dari kupiah meukeutop, bagian dari pakaian adat Aceh yang lekat dengan sosok pahlawan nasional Teuku Umar.
Kupiah meukeutop dikenal luas melalui perjuangan Teuku Umar melawan penjajahan Belanda, sehingga penggunaannya sebagai inspirasi kubah memberi karakter tersendiri pada bangunan ini.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Banda Aceh, masjid ini menawarkan pengalaman yang sedikit berbeda dari kunjungan ke masjid pada umumnya. Selain dapat digunakan untuk beribadah, pengunjung bisa melihat langsung bagaimana identitas daerah dihadirkan lewat rancangan arsitektur.
Masjid Baitul Musyahadah memperlihatkan perpaduan antara fungsi ibadah dan unsur budaya setempat dalam satu bangunan.
Kubah menjadi ciri yang paling mudah dikenali. Dari kejauhan, bentuknya sudah menyerupai kupiah meukeutop sehingga tidak sulit dibedakan dari masjid lain di sekitarnya. Namun perhatian pada simbol tidak berhenti di kubah. Rancangan bangunan masjid juga memiliki bentuk dasar segi lima.
Bentuk ini dimaknai sebagai simbol lima rukun Islam sekaligus Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Dengan demikian, rancangan masjid memuat nilai keagamaan dan kebangsaan sekaligus, dan tidak semata berkaitan dengan fungsi ruang ibadah.
Dari sisi tampilan, bangunan masjid didominasi warna coklat terang yang memberikan kesan sederhana. Pada bagian depan terdapat anak tangga yang menjadi akses bagi jamaah dan pengunjung untuk memasuki bangunan.
Sejarah pembangunan Masjid Baitul Musyahadah bermula pada 1989. Pada awal pendiriannya, masjid ini bernama Masjid Al-Ikhlas dan dibangun melalui swadaya masyarakat setempat.
Empat tahun kemudian, tepatnya pada 1993, namanya diubah menjadi Masjid Baitul Musyahadah. Perubahan nama tersebut menjadi bagian dari perjalanan masjid yang kemudian dikenal karena bentuk arsitekturnya yang khas.
Baca juga: Menikmati Syahdunya Masjid Raya Baiturrahman
Perancangan arsitektur masjid dikaitkan dengan Ali Hasjmy, mantan Gubernur Aceh yang dikenal memiliki perhatian terhadap bidang agama dan kebudayaan. Rancangan yang ia kaitkan dengan masjid ini mengangkat unsur tradisional Aceh melalui bentuk kubah yang menyerupai kupiah meukeutop.
Simbol yang biasanya ditemukan pada pakaian adat dihadirkan dalam bentuk bangunan yang digunakan untuk kegiatan keagamaan. Hal ini memperlihatkan salah satu cara masyarakat mempertahankan identitas daerah melalui karya arsitektur.
Dari segi wisata, kehadiran masjid ini menambah ragam destinasi religi dan budaya di Banda Aceh. Kota ini selama ini dikenal dengan sejumlah bangunan bersejarah dan tempat ibadah yang menjadi tujuan kunjungan.
Masjid Baitul Musyahadah dapat menjadi pilihan lain bagi pengunjung yang ingin melihat sisi berbeda dari arsitektur masjid di Aceh, terutama yang tertarik pada kaitan antara tempat ibadah, sejarah perjuangan, dan kebudayaan lokal.
Lokasinya yang berada di Jalan Teuku Umar juga memberi nilai tersendiri. Nama jalan tersebut sejalan dengan sosok yang menginspirasi bentuk kubah masjid, sehingga pengunjung dapat memahami keterkaitan antara nama jalan, bentuk bangunan, dan tokoh sejarah yang dikenang masyarakat Aceh.
Pengunjung yang datang tetap diharapkan menjaga adab selama berada di lingkungan masjid, seperti berpakaian sopan, menjaga ketenangan, dan menghormati jamaah yang sedang beribadah. Dengan begitu, kunjungan wisata dapat berjalan selaras dengan fungsi utama masjid sebagai tempat ibadah.
Hingga kini, Masjid Baitul Musyahadah dikenal sebagai tempat ibadah dengan karakter arsitektur yang khas. Keberadaannya menambah keragaman bentuk bangunan masjid di Aceh sekaligus menunjukkan bahwa unsur budaya daerah dapat menjadi bagian dari rancangan tempat ibadah.
Bagi warga maupun wisatawan, masjid ini menjadi salah satu contoh bagaimana nilai agama, sejarah, dan budaya dapat hadir bersama dalam satu bangunan di tengah Kota Banda Aceh.




