Komparatif.ID, Banda Aceh– Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Aceh mencatat nilai devisa ekspor kopi yang dideklarasikan berasal dari Aceh mencapai Rp440,99 miliar sepanjang Januari hingga April 2026.
Capaian tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp619,21 miliar, serta lebih rendah dibandingkan periode Januari hingga April 2024 yang mencapai Rp925,67 miliar.
Berdasarkan data kepabeanan, tren penurunan juga terlihat pada akumulasi devisa ekspor kopi dalam satu tahun penuh. Pada tahun 2024, nilai devisa ekspor kopi Aceh tercatat mencapai Rp2,45 triliun. Namun pada tahun 2025, angka tersebut turun signifikan menjadi Rp1,21 triliun.
Kepala Kantor Wilayah DJBC Aceh, M. Rizki Baidillah, mengatakan pihaknya berkomitmen menyampaikan informasi perkembangan ekspor dan impor secara berkala dan transparan kepada publik.
Menurutnya, data kepabeanan yang disajikan memberikan gambaran mengenai kondisi riil komoditas unggulan daerah, termasuk sektor kopi yang selama ini menjadi salah satu andalan ekspor Aceh.
Ia menjelaskan, berdasarkan data yang tersedia, secara agregat terjadi penyusutan volume pengiriman barang atau netto pada komoditas kopi. Kondisi tersebut terjadi meskipun harga rata-rata kopi di pasar global saat ini sedang berada dalam tren kenaikan.
Baca juga: Bangladesh Ingin Impor Kopi, Rempah & Migas Aceh
“Melalui penyajian data yang readiness criteria ini, kami ingin memberikan gambaran utuh mengenai peta kekuatan komoditas daerah. Data kinerja ekspor kopi ini memberikan informasi faktual di lapangan,” ungkapnya, Rabu (3/6/2026).
DJBC Aceh juga melakukan analisis terhadap data kepabeanan tahun 2024 dan 2025. Hasil analisis menunjukkan bahwa penurunan volume ekspor turut dipengaruhi oleh dinamika pelaku usaha.
Sejumlah perusahaan yang memberikan kontribusi besar terhadap ekspor kopi pada tahun 2024 tidak lagi tercatat melakukan kegiatan ekspor pada 2025.
Selain itu, mayoritas perusahaan yang masih konsisten melakukan ekspor juga mengalami penurunan volume pengiriman. Kondisi tersebut turut memengaruhi total devisa ekspor yang dihasilkan dari komoditas kopi asal Aceh.
Catatan lain dari data kepabeanan menunjukkan bahwa sekitar 99 persen kegiatan ekspor kopi yang berasal dari Aceh dilakukan melalui pelabuhan muat di luar wilayah Aceh.













