Sunday, 1 November 2026

Komparatif.ID

Situs Berita Aceh Inspirasi Indonesia

Ekonomi

BPMA dan PGE Mulai Bor Sumur Eksplorasi di Aceh Utara

BPMA dan PGE Mulai Bor Sumur Eksplorasi di Aceh Utara
Foto: Dok. BPMA.

Komparatif.ID, Lhoksukon– Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) bersama PT Pema Global Energi (PGE) resmi memulai pengeboran sumur eksplorasi Rayeu D-1 di Desa Alue Serdang, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara.

Pengeboran ini dilakukan untuk membuktikan potensi hidrokarbon sekaligus membuka peluang penemuan cadangan minyak dan gas bumi baru di Wilayah Kerja (WK) B atau Blok B, Aceh.

Kepala BPMA, Mawardi Nur, mengatakan pengeboran Rayeu D-1 menjadi salah satu langkah untuk mendorong kegiatan eksplorasi dan pengembangan potensi migas di Aceh. Penemuan cadangan baru dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan produksi minyak dan gas bumi pada masa mendatang.

“Pengeboran Rayeu D-1 merupakan bagian dari upaya kita untuk terus membuka peluang penemuan cadangan migas baru di Aceh. Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan hasil yang positif sehingga mampu menambah potensi cadangan minyak dan gas bumi, sekaligus memperkuat keberlanjutan operasi hulu migas di Wilayah Kerja Blok B,” ujar Mawardi di Banda Aceh, Minggu (1/11/2026).

Meski demikian, Mawardi mengingatkan potensi yang teridentifikasi melalui studi teknis belum dapat dipastikan sebelum dibuktikan melalui pengeboran. Hasil kegiatan eksplorasi juga harus melalui evaluasi untuk mengetahui keberadaan hidrokarbon dan kelayakannya untuk dikembangkan secara komersial.

Menurutnya, pengeboran eksplorasi tidak serta-merta menjamin adanya penemuan cadangan yang dapat diproduksikan. Karena itu, seluruh hasil pengeboran perlu dinilai berdasarkan kondisi teknis di lapangan.

“Potensi yang terlihat dari studi harus dibuktikan melalui pengeboran, kemudian dinilai apakah layak dikembangkan atau tidak,” katanya.

Sumur Rayeu D-1 dibor menggunakan metode pengeboran berarah atau directional drilling dengan rig BMA-16 berkapasitas 1.500 HP. Rig tersebut dioperasikan oleh PT Bina Mitra Artha (BMA).

Pengeboran ditargetkan mencapai kedalaman akhir 6.953 kaki terukur berarah (feet measured depth/feetMD) atau 6.894 kaki kedalaman vertikal sebenarnya (true vertical depth/TVD).

Kegiatan ini bertujuan mengonfirmasi hasil survei seismik 3D yang telah dilakukan sebelumnya sekaligus membuktikan potensi hidrokarbon pada prospek Rayeu D. Target utama dan sekunder pengeboran berada pada reservoir batupasir Formasi Lower Seurula, khususnya lapisan LS-1 dan LS-2.

Prospek pengeboran tersebut disusun berdasarkan studi Geology, Geophysics, and Reservoir (GGR) yang dilakukan PGE bersama Institut Teknologi Bandung (ITB).

Baca juga: Kepala BPMA Serahkan Bantuan Pembangunan Balai Pengajian di Madat

Dari kegiatan ini, PGE menargetkan potensi produksi awal sebesar 300 barel kondensat per hari (BCPD) dan gas sebesar 11,4 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD). Target tersebut masih bergantung pada hasil pengeboran serta evaluasi teknis setelah sumur selesai dikerjakan.

Pengembangan struktur Lower Seurula diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap keberlanjutan produksi hidrokarbon di Blok B. Namun, potensi tersebut baru dapat dipastikan setelah seluruh tahapan pengeboran dan pengujian selesai dilakukan.

Berdasarkan persetujuan Authorization for Expenditure (AFE) sebesar 17,5 juta dolar AS, pengeboran Rayeu D-1 diperkirakan membutuhkan waktu 50 hari operasi rig. Sementara itu, keseluruhan kegiatan hingga penyelesaian sumur ditargetkan berlangsung selama 74 hari.

Durasi tersebut mencakup sejumlah tahapan pekerjaan, mulai dari pengeboran, komplesi, pembersihan sumur (clean-up well), hingga pengujian sumur (well testing).

Mawardi menekankan pentingnya sinergi BPMA, PGE, dan seluruh pihak yang terlibat agar kegiatan pengeboran berjalan sesuai target dengan tetap mengutamakan keselamatan kerja dan perlindungan lingkungan.

“Setiap kegiatan eksplorasi memiliki tantangan dan risiko tersendiri. Karena itu, kami meminta seluruh pihak memastikan standar keselamatan kerja diterapkan secara konsisten, operasi berjalan efektif, serta setiap tahapan dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku,” ujarnya.

Ia menambahkan, keberhasilan kegiatan eksplorasi tidak hanya diukur dari pencapaian target teknis, tetapi juga dari pelaksanaan operasi yang aman dan bertanggung jawab. Seluruh rangkaian kegiatan mengacu pada pedoman manajemen keselamatan dan standar operasional yang berlaku, termasuk penerapan prinsip efektivitas biaya serta pengelolaan risiko.

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *