Saturday, 7 November 2026

Komparatif.ID

Situs Berita Aceh Inspirasi Indonesia

Ekonomi

BPMA Incar Investor UEA Kembangkan Potensi Migas Aceh

BPMA Incar Investor UEA Kembangkan Potensi Migas Aceh
Foto: HO for Komparatif.ID.

Komparatif.ID, Abu Dhabi— Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) menjajaki peluang investasi sektor minyak dan gas bumi (migas) dari Uni Emirat Arab (UEA) untuk mendorong pengembangan potensi energi di Aceh.

Pengembangan kawasan migas Andaman menjadi salah satu peluang yang dibahas dalam pertemuan BPMA dengan perwakilan pemerintah Indonesia di UEA.

Peluang tersebut dibahas dalam pertemuan Kepala BPMA, Mawardi Nur, dengan Duta Besar Republik Indonesia untuk UEA, Judha Nugraha, di Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Abu Dhabi, Senin (2/11/2026).

Pertemuan itu membahas kerja sama investasi sektor energi antara Indonesia dan UEA, khususnya dalam mendorong pengembangan potensi hulu migas di Aceh.

Dalam pertemuan tersebut, Judha Nugraha menyarankan BPMA bersama pemerintah menyiapkan proposal bisnis yang komprehensif mengenai rencana pengembangan sektor hulu dan hilir migas di Aceh.

Menurutnya, proposal tersebut diperlukan agar peluang investasi dapat ditawarkan secara lebih konkret kepada calon mitra usaha di UEA. Penyusunannya perlu memperhatikan aspek kelayakan ekonomi, kebutuhan infrastruktur, skema bisnis, hingga potensi pasar.

Judha juga menilai rencana pengembangan lapangan gas di Wilayah Kerja (WK) South Andaman dapat menjadi momentum untuk mempersiapkan ekosistem industri hilir migas di Aceh.

Baca juga: BPMA dan PGE Mulai Bor Sumur Eksplorasi di Aceh Utara

Potensi sumber daya gas tersebut perlu dihubungkan dengan rencana pengembangan industri pengolahan, infrastruktur pendukung, serta peluang investasi jangka panjang.

Ia memandang kerja sama investasi antara UEA dan Indonesia merupakan peluang jangka panjang yang perlu dipersiapkan secara serius. Aceh sebagai bagian dari Indonesia dinilai memiliki potensi untuk mengambil peran lebih besar dalam kerja sama tersebut.

Menurut Judha, keberhasilan satu perusahaan dalam mengembangkan investasi di suatu wilayah dapat menjadi daya tarik bagi perusahaan lain dari berbagai negara.

“Ketika satu perusahaan berhasil mengembangkan investasinya di suatu wilayah, hal itu dapat menarik perhatian perusahaan lain dari berbagai negara. Keberhasilan tersebut menjadi referensi bahwa wilayah tersebut memiliki prospek dan lingkungan investasi yang menjanjikan,” jelasnya.

Ia mencontohkan, apabila pengembangan potensi migas di kawasan Andaman melalui Mubadala Energy berhasil, hal itu berpotensi meningkatkan kepercayaan investor lain untuk masuk dan melihat peluang investasi di Aceh.

UEA sendiri telah berkembang menjadi salah satu hub energi internasional dengan kapasitas finansial yang kuat dan jaringan investasi global yang luas. Pengalaman negara tersebut dalam membangun posisi strategis di sektor energi dinilai dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia, termasuk Aceh.

Dalam menarik investasi, UEA juga menempatkan aspek keamanan, kenyamanan, dan kepastian berusaha sebagai perhatian penting. Karena itu, keberhasilan investasi tidak hanya bergantung pada besarnya potensi sumber daya, tetapi juga kesiapan lingkungan usaha dan kemitraan yang dibangun.

Sementara itu, Kepala BPMA Mawardi Nur menilai keberhasilan investasi migas tidak hanya diukur dari kegiatan eksplorasi dan produksi. Lebih dari itu, diperlukan kemampuan membangun kepercayaan investor serta menciptakan ekosistem investasi yang berkelanjutan.

“Iktiar dan langkah yang kita lakukan hari ini akan memberikan dampak bagi masa depan. Namun, perubahan besar tidak dapat diwujudkan dalam ruang dan waktu yang terbatas. Dibutuhkan proses, konsistensi, kerja keras, serta kesabaran untuk menjawab setiap tantangan yang ada,” ujar Mawardi.

Mawardi juga menilai kedekatan hubungan budaya antara Indonesia dan UEA menjadi modal positif dalam membangun kemitraan investasi. Aceh yang memiliki karakter budaya ketimuran dinilai dapat memanfaatkan kedekatan tersebut untuk membuka peluang kerja sama.

Meski demikian, pengembangan investasi di Aceh perlu tetap memperhatikan kondisi daerah, karakteristik sosial budaya, serta kearifan lokal agar kerja sama yang dibangun dapat berjalan secara berkelanjutan.

Dalam pertemuan tersebut, Judha Nugraha didampingi Deputi Direktur BKPM Indonesia untuk Abu Dhabi, Oki R. Tiba. Sementara itu, Mawardi Nur hadir bersama Direktur Utama PT Pema Global Energi (PGE) Firdaus Noezula, Deputi Perencanaan BPMA Afrul Wahyuni, serta Kepala Divisi Formalitas dan Hubungan Eksternal BPMA Radhi Darmansyah.

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *