Kisah bangkitnya arwah Nek Rabi Tanjong alias Nek Seurabi Tanjong, merupakan salah satu folklore di tengah masyarakat Aceh bertema cerita hantu. Kisah ini diceritakan dari mulut ke mulut oleh masyarakat sebelum era 1990-an.
Cerita tentang bangkitnya arwah Nek Rabi Tanjong mulai disampaikan pada akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20. Saat itu Pemerintah Kolonial Belanda masih bercokol di Aceh.
Kisah ini bermula di Gampong Tanjong, Aceh Rayek, berjarak empat kilometer dari pusat Kutaraja (sekarang Banda Aceh). Desa Tanjong terletak di lintasan rel Kereta Api Aceh (Atjeh Staatsspoorwegen/ASS), tidak jauh dari aliran Krueng Aceh.
Begini kisahnya:
Namanya Rabiyah, seorang dara berparas perpaduan antara Asia Selatan dan Asia Barat. kulitnya kuning langsat, hidung mancung, mata bulat, rambut hitam, dan tubuh semampai dengan tinggi badan kira-kira 163 cm.
Rabiyah merupakan putri seorang ulama terkenal di Tanjong. Sehari-hari dia berada di rumah. Jarang bepergian, karena demi menjaga citra sebagai seorang putri agamawan terpandang.
Sehari-hari dia belajar agama langsung dari ayahnya. Belajar keterampilan rumah tangga dari ibunya. Ia nyaris tidak pernah berteman dengan laki-laki, lazimnya perempuan kalangan terpandang kala itu.
Baca: 4 Burong Legendaris Dalam Mitologi Aceh
Baca: Sophia, Hantu Belanda di Pendopo Gubernur Jenderal di Aceh
Sebagai seorang ulama, sang ayah begitu bahagia. Dia menaruh banyak harapan kepada sang dara jelita. Dia meyakini, dalam pingitan lingkungan rumah yang aman, takkan ada kumbang liar yang akan mengisap madu mawar merah tersebut.
Sebagai seorang gadis yang sedang bertumbuh dewasa,Rabiyah ingin tahu lebih banyak tentang laki-laki selain ayah dan keluarga dekatnya. Dia penasaran dengan suara laki-laki tampan yang ada di desanya.
Diam-diam dia menjalin hubungan asmaraloka dengan seorang pemuda yang rupawan, bagus ekonominya, dan pandai pula ianya. Semakin hari bertambah pula rasa cinta antara keduanya. Di bawah sinar rembulan, mereka bertemu pada waktu-waktu tertentu. Ketika Rabiyah memastikan penghuni lainnya telah terlelap, dia diam-diam keluar rumah, bertemu sang kekasih yang menunggu di luar pagar.
Cinta mereka semakin dalam. Bertambah dalam, hingga kemudian hubungan mereka seperti sebuah kegilaan. Sehari tak bertemu, rasanya seperti dipenjara setahun. Rindu yang begitu menyiksa.
Rindu-rindu itulah yang kemudian menjerumuskan keduanya ke liang dosa. Mereka yang pertama kali masih serba penasaran, terlena dengan bujukan setan dan raungan nafsu, sehingga menyicip satu sama lain. Sekali, dua kali, tiga kali, empat kali, hingga kemudian benih di dalam rahim Rabiyah maujud sebagai calon manusia. Dia hamil.
Ketika mengetahui dirinya telah mengandung, Rabiyah dilanda cemas luar biasa. Demikian juga sang kekasih. Keduanya dilanda ketakutan tiada tara. Pada suatu malam, dengan bekal seadanya, mereka berdua melarikan diri dari Tanjong.
Kedua anak manusia itu menyusuri tepian Krueng Aceh. Tujuan mereka lari ke Meulaboh. Di sana tidak ada sanak famili, mereka bisa hidup lebih aman.
Perjalanan itu sangat melelahkan. Keduanya belum berpengalaman. Sepanjang jalan Rabiyah menangis. Sepanjang jalan pula si lelaki gundah gulana.
Pergi tanpa pamit, pergi demi menutup aib, merupakan perjalanan yang tidak mudah. Ketika keduanya telah jauh mencapai hulu Krueng Aceh, si lelaki berhasil dibujuk oleh setan.
“Kau habisi saja dia. Kemudian kau buang mayatnya ke sungai. Dengan demikian kau akan terbebas dari segala beban,” bisik Ifrit kepada si lelaki.
Tanpa pikir panjang, si lelaki kemudian menghabisi Rabiyah. Sang perempuan muda sempat terkejut ketika tiba-tiba si kekasih menyerang dirinya dengan cara ditenggelamkan. Tapi serangan yang tiba-tiba itu, membuat Rabiyah tak sempat melawan. Dia pun mati kehabisan nafas di dalam air.
Ketika Rabiyah mati, si lelaki baru sadar bahwa tindakannya salah. Tapi nasi telah menjadi bubur. Sebesar apapun penyesalan, Rabi telah tiada.
Karena rasa takut, dia pun tak sempat berpikir panjang untuk kedua kalinya. Dia membiarkan mayat Rabitetap di dalam Krueng Aceh. Selanjutnya dia melanjutkan perjalanan.
Jenazah itu hanyut ke hilir. Tersangkut di tepian sungai di sekitar Lambhuk atau Beurawe. Seisi kampung geger. Tapi nyaris tak ada yang mengenalinya. Keluarga sang ulama yang sedang mencari Rabiyah, ketika mendengar kabar ada mayat perempuan di tepi sungai, segera bergegas ke lokasi. Ketika melihat jenazah, sang ulama hanya bisa menangis.
Siapa pembunuhnya? Tak ada yang tahu. Desas-desus beredar sangat tidak bisa dipertanggung jawabkan.
Pembalasan Arwah Nek Rabi Tanjong
Tapi arwah Rabiyah tak tenang. Dia sangat marah kepada lelaki yang telah menghamilinya kemudian menghabisi nyawanya. Lelaki yang tak tahu diri, lelaki yang tak memiliki mental sebagai jantan. Hanya mau enaknya saja. giliran harus berpahit-pahit, dia tak mau.
Pada malam ketujuh setelah dia dikuburkan, kuburannya merekah. Rabiyah bangkit dari kuburnya. Sebagai makhluk astral, tak ada halangan baginya untuk menemukan lelaki pengecut itu. Pria tak bertanggung jawab itu dihabisi degan cara dicekik ketika sedang tidur di dalam sebuah gubuk di hulu Krueng Aceh.
Tidak ada yang tahu tentang kematian sang pria.
Teror arwah Rabiyah tak berhenti. Setiap kali ada perempuan hamil, dia selalu datang menganggu. Setiap kali ada bayi, dia selalu datang menakuti. Bila ada perempuan kesurupan, dan meminta diberikan hidangan sayur daun kelor dan telur asin, warga langsung tahu bila yang datang adalah arwah Nek Rabi Tanjong.
Mengapa disebut Nek Rabi Tanjong? Ketika cerita tersebut disalin dari generasi ke generasi, maka cerita tentang arwah Rabi Tanjong berganti menjadi cerita arwah Nek Rabi Tanjong.
Teror arwah Nek Rabi Tanjong baru berhenti ketika seorang dukun dari Aceh Tengah yang dikenal dengan panggilan Pak Gayo, berhasil menutup lubang kuburan sang kuntilanak.
Catatan redaksi: Cerita misteri bukan produk jurnalistik. Kisah yang diangkat berdasarkan cerita rakyat (folklore) yang dikisahkan dari mulut ke mulut.
