
Komparatif.ID, Bireuen— Aidil Zikri (4), balita asal Gampong Alue Gandai, Mukim Pintoe Batee, Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen, didiagnosis mengalami kebocoran jantung sejak April 2025. Kondisi kesehatannya terus menurun dan kini membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Gejala awal yang dialami Aidil berupa demam. Dalam beberapa hari terakhir, ia bahkan tidak bisa lagi dimandikan secara rutin. Setiap kali tubuhnya terkena air, jari tangan dan lidahnya berubah menjadi kebiruan. Napasnya tersendat-sendat seperti penderita asma dan ia cepat merasa lelah saat berjalan.
Kedua orang tuanya semula mengira Aidil hanya mengalami demam biasa. Ia kemudian dibawa ke Polindes desa setempat untuk berobat. Namun setelah tidak kunjung sembuh, bidan desa, Ina Sazaina, merujuknya ke Puskesmas Peudada untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Setelah menjalani pemeriksaan di tingkat kecamatan, Mursyiah (40), ibunda Aidil, meminta rujukan pengobatan khusus kepada dr. Abdul Gani berdasarkan saran keluarganya. Ia mengaku kondisi anaknya semakin hari semakin menurun.
“Keluarga saya prihatin saat melihat perkembangan kesehatannya makin hari makin menurun, pandangan mereka seperti mengalami penyakit dalam,” ujar Mursyiah dengan mata berkaca-kaca, Rabu (11/12/2026).
Hasil pemeriksaan dr. Abdul Gani di Rumah Sakit Malahayati menyarankan agar Aidil menjalani pengobatan rutin selama kondisinya masih sanggup bergerak. Untuk pemeriksaan lebih lanjut, ia kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh.
Dari hasil USG, terlihat jelas adanya kebocoran pada jantung Aidil. Solusi yang disarankan adalah operasi di Jakarta agar penyakitnya dapat segera ditangani.
Mursyiah mengaku terkejut saat mendengar penjelasan tersebut. “Umurnya baru empat tahun segera lakukan pengobatan, jika tidak beberapa tahun lagi fisiknya makin lemas hingga harus terbaring di tempat tidur,” ujarnya menirukan saran dr. Abdul Gani.
Di tengah kondisi tersebut, keluarga Aidil menghadapi keterbatasan ekonomi. Ayahnya, Zulfikar (32), bekerja sebagai buruh tani harian lepas dengan penghasilan sekitar Rp100.000/hari yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dapur. Sementara Mursyiah membantu ekonomi keluarga dengan meraut sapu lidi yang menghasilkan sekitar lima puluh ribu rupiah per minggu.
Beberapa hari terakhir Zulfikar tidak dapat bekerja secara rutin. Setiap kali kondisi anaknya memburuk dan mengalami panas, ia harus pulang setelah dihubungi istrinya. Untuk biaya pemeriksaan dan kebutuhan lainnya, keluarga ini mengandalkan sedekah dari warga yang datang membesuk, termasuk bantuan dari Ismaniah, kakak Mursyiah, pada 2 Februari 2026.
Pemeriksaan tahap pertama dan obat-obatan ditanggung BPJS. Namun terdapat biaya sebesar dua juta empat ratus ribu rupiah, dengan sisa sekitar empat ratus ribu rupiah yang digunakan untuk transportasi dan kebutuhan makan selama pemeriksaan.
Baca juga: Mengenal Operasi Bypass Jantung
Pada 11 Februari 2026, Aidil kembali menjalani pemeriksaan dengan didampingi Keuchik Gampong Alue Gandai, Adahari.
Adahari mengaku kecewa karena dokter yang menangani pasien bocor jantung tidak berada di tempat saat kunjungan tersebut. Keluarga hanya diberikan obat oleh petugas piket dan diminta pulang kembali ke Bireuen tanpa hasil pemeriksaan lanjutan.
Rujukan berikutnya tercantum pada 13 Maret 2026, atau tiga puluh satu hari kemudian, sementara kondisi Aidil dinilai semakin mengkhawatirkan.
“Zulfikar dan Mursyiah terlihat sedih. Mereka sering termenung memikirkan bagaimana cara agar anaknya cepat tertangani, dan saat sudah pulang dari rumah sakit, mereka memikirkan dari mana uang dikumpulkan untuk pergi lagi,” ungkap Adahari.
Dijelaskan bahwa keluarga tersebut baru pindah dari Gampong Pulo Reudeup, Kecamatan Jangka, pada 8 April 2025. Meski demikian, pemerintah gampong tetap memfasilitasi sesuai kemampuan keuangan desa melalui pos operasional tiga persen dana desa.
Pada 11 Februari 2026, Adahari juga mendampingi langsung keluarga tersebut ke Rumah Sakit Zainal Abidin, termasuk rencana pengurusan tiket pesawat ke Jakarta jika operasi dilaksanakan.
Untuk tahun 2026, keluarga Aidil akan diprioritaskan sebagai penerima Bantuan Langsung Tunai Dana Desa karena termasuk keluarga dengan anggota sakit menahun. Selain itu, akan diusulkan ke Data Tunggal Ekonomi Nasional agar dapat menjadi calon penerima Program Keluarga Harapan atau Bantuan Pangan Non Tunai.
Adahari berharap para dermawan dapat membantu kebutuhan keluarga tersebut melalui rekening BSI nomor 7169054438 atas nama Zulfikar.
Menurutnya, keluarga ini hidup dalam keterbatasan. Jika sehari tidak bekerja, maka sehari pula tidak memiliki penghasilan. Selama ini mereka terpaksa berutang untuk memenuhi kebutuhan, menutup kekurangan dengan pinjaman lainnya.












