BREAKING
Opini

Akademia, Susanah, dan Bahaya Menjadikan Orang Kecil sebagai Simbol

Akademia, Susanah, dan Bahaya Menjadikan Orang Kecil sebagai Simbol Ada kisah tentang dunia akademik yang belakangan membuat saya kembali berpikir tentang bagaimana seseorang bisa diangkat menjadi simbol, lalu dijatuhkan ketika simbol itu tidak lagi sesuai dengan harapan. Kisah itu bermula dari Jason Arday, profesor Sosiologi dari Universitas Cambridge. Arday dikenal sebagai profesor termuda yang pernah diangkat oleh Cambridge. Ia juga merupakan seorang akademisi kulit hitam yang berasal dari kawasan miskin di London Selatan. Kisah hidupnya mudah dijadikan cerita inspiratif. Seorang anak dari lingkungan miskin berhasil mencapai salah satu institusi pendidikan paling bergengsi di dunia. Cerita semacam ini dengan mudah berubah menjadi pesan bahwa siapa pun bisa berhasil selama bekerja keras dan memiliki semangat untuk menjadi pemenang.
Susanah, buruh pengupas bawang asal Bogor, viral setelah Presiden menyebut upah kupas bawangnya Rp700 ribu/kg. Foto: HO for Komparatif.ID.

Ada kisah tentang dunia akademik yang belakangan membuat saya kembali berpikir tentang bagaimana seseorang bisa diangkat menjadi simbol, lalu dijatuhkan ketika simbol itu tidak lagi sesuai dengan harapan.

Kisah itu bermula dari Jason Arday, profesor Sosiologi dari Universitas Cambridge. Arday dikenal sebagai profesor termuda yang pernah diangkat oleh Cambridge. Ia juga merupakan seorang akademisi kulit hitam yang berasal dari kawasan miskin di London Selatan.

Kisah hidupnya mudah dijadikan cerita inspiratif. Seorang anak dari lingkungan miskin berhasil mencapai salah satu institusi pendidikan paling bergengsi di dunia. Cerita semacam ini dengan mudah berubah menjadi pesan bahwa siapa pun bisa berhasil selama bekerja keras dan memiliki semangat untuk menjadi pemenang.

Cambridge pun dapat menjadikan sosok seperti Arday sebagai contoh bahwa institusi tersebut terbuka bagi siapa saja yang memiliki kemampuan. Ia bisa menjadi simbol emansipasi dan keberagaman di lingkungan akademik yang selama ini identik dengan kelompok elite.

Namun, cerita itu kemudian berubah.

Sejumlah orang mulai meneliti karya-karya Arday. Mereka menemukan dugaan plagiarisme dalam beberapa bagian disertasinya. Ia juga dituduh mengarang sejumlah data penelitian. Reputasinya sebagai akademisi muda yang menjanjikan pun runtuh.

Baca juga: Warung Kopi dan Hal-hal yang Seharusnya

Arday kemudian mengundurkan diri. Tidak lama setelah itu, muncul kabar bahwa ia ditemukan meninggal dunia.

Kisah tersebut tragis. Media Inggris yang sebelumnya ikut mengamplifikasi kasus Arday kemudian ramai memberitakan kematiannya. Sejumlah politisi, termasuk Perdana Menteri Inggris dan Wali Kota London, ikut menyoroti persoalan tersebut. Cambridge dipertanyakan karena dianggap tidak cukup teliti dalam memeriksa latar belakang dan karya akademiknya.

Di luar persoalan Arday, dunia akademik memang memiliki tekanan yang besar. Menjadi dosen atau profesor bukan jalan cepat menuju kekayaan. Penghasilan seorang akademisi tidak akan membawa seseorang mendekati kekayaan para miliarder dunia.

Namun, persaingannya sangat tinggi. Jalan menuju posisi akademik juga panjang. Seseorang harus menjalani pendidikan bertahun-tahun, menulis penelitian, menerbitkan karya ilmiah, mengikuti konferensi, dan terus membangun reputasi.

Ketika seseorang akhirnya mendapatkan posisi tetap, kehidupannya memang menjadi lebih stabil. Tetapi bukan berarti otomatis menjadi berlebihan. Bahkan sejumlah profesor masih harus menghitung pengeluaran dengan ketat.

Di dunia akademik juga terdapat hierarki yang kuat. Ketika seorang ilmuwan menghasilkan buku atau karya yang banyak dibaca dan menjadi rujukan, posisinya bisa meningkat. Di konferensi akademik, perbedaan itu terlihat jelas. Ruang ceramah ilmuwan yang sudah terkenal dapat dipenuhi peserta. Sementara ilmuwan junior atau mereka yang tidak pernah benar-benar naik kelas bisa hanya berbicara di hadapan beberapa orang.

Ada kisah lain yang memiliki kemiripan dengan kasus Arday, meskipun persoalannya berbeda. Kisah itu menyangkut Alice Goffman, penulis buku On the Run: Fugitive Life in an American City.

Goffman melakukan penelitian etnografi selama bertahun-tahun di lingkungan miskin Philadelphia. Ia mengikuti kehidupan kelompok yang terlibat dalam perdagangan narkoba dan menulis mengenai hubungan mereka dengan polisi serta kekerasan yang terjadi di lingkungan tersebut.

Pada awalnya, Goffman dipandang sebagai salah satu bintang baru dalam bidang sosiologi. Metode etnografinya dianggap memberikan perspektif penting untuk memahami sistem keadilan dan kehidupan masyarakat yang ditelitinya.

Namun, karyanya kemudian mendapat sorotan. Sejumlah pihak mempertanyakan konsistensi antara waktu kejadian yang ditulis dalam bukunya dengan catatan kepolisian. Goffman juga menghancurkan sejumlah catatan etnografisnya. Tindakan tersebut menimbulkan pertanyaan karena catatan itu berpotensi menjadi bagian penting untuk menguji penelitiannya.

Ia juga menghadapi persoalan etik. Salah satu kritik menyangkut keputusannya untuk tidak melaporkan kepada polisi ketika menyaksikan kekerasan, termasuk dugaan pembunuhan. Ia juga mendapat tuduhan melakukan racial profiling karena melakukan penelitian di kawasan miskin yang dihuni komunitas kulit hitam.

Kritik tersebut akhirnya memengaruhi perjalanan akademiknya. Universitas tempatnya bekerja tidak memberikan posisi tetap kepadanya. Goffman kemudian meninggalkan dunia akademik. Kisah itu menjadi semakin menarik karena ia merupakan putri dari sosiolog terkenal Erving Goffman.

Dua kisah tersebut menunjukkan satu persoalan penting. Dunia akademik bukan hanya soal kecerdasan dan kerja keras. Dunia ini juga dibangun oleh reputasi, verifikasi, etika, serta mekanisme pengawasan yang menentukan apakah seseorang layak mendapatkan pengakuan.

Persoalan serupa tentu memiliki konteks berbeda di Indonesia. Akademisi tidak hanya menghadapi tuntutan ilmiah. Mereka juga berhadapan dengan tekanan politik dan sosial. Ada topik tertentu yang tidak mudah dibicarakan secara terbuka.

Saya sering mendengar cerita dari kawan-kawan akademisi yang memilih berhati-hati. Mereka bahkan menghindari menjadi pembimbing atau penguji bagi politisi dan pejabat tertentu karena tidak ingin posisi akademiknya terseret ke dalam kepentingan kekuasaan.

Gelar akademik di Indonesia juga memiliki posisi sosial yang kuat. Gelar doktor dan profesor kadang diperlakukan seperti simbol status. Karena itu, tidak mengherankan jika ada pejabat dan politisi yang begitu mengejar gelar akademik.

Namun, persoalan ini membawa kita kepada kisah lain yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat biasa. Kisah Susanah, seorang pekerja yang disebut Presiden Prabowo Subianto dalam pidato kenegaraannya.

Susanah kemudian menjadi perhatian publik setelah disebut menerima upah Rp700 ribu per kilogram sebagai pengupas bawang. Namanya menyebar luas di media sosial. Foto dan ekspresi wajahnya ketika disebut dalam pidato Presiden ikut beredar dan menjadi bahan candaan serta berbagai komentar.

Padahal Susanah adalah orang biasa. Ia bekerja sebagai penjahit. Pada sore hari, ia juga mencuci ompreng di dapur program Makan Bergizi Gratis. Selain itu, ia bekerja sebagai pengupas bawang.

Saya bisa membayangkan bagaimana beratnya situasi ketika seseorang yang sebelumnya menjalani kehidupan biasa tiba-tiba menjadi perhatian publik dalam skala besar. Orang kecil yang kemudian dijadikan contoh dalam sebuah pidato dapat kehilangan kendali atas bagaimana dirinya dipersepsikan masyarakat.

Di titik inilah saya melihat kemiripan antara Susanah dan kisah Jason Arday. Keduanya, dalam konteks yang sangat berbeda, pernah ditempatkan sebagai simbol. Arday menjadi simbol keberhasilan dan keberagaman akademik. Susanah menjadi simbol pekerja kecil yang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Masalah muncul ketika manusia diperlakukan sebagai simbol tanpa mempertimbangkan konsekuensi yang harus mereka tanggung.

Dalam kasus Susanah, persoalan yang paling mengganggu saya adalah tidak segera munculnya klarifikasi dari pihak Istana mengenai informasi tersebut. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi disebut hanya mengatakan akan mengecek persoalan itu.

Menurut saya, Presiden Prabowo Subianto sebagai pribadi sekaligus Presiden Republik Indonesia perlu meminta maaf kepada Susanah apabila penyebutan tersebut ternyata tidak tepat. Jika muncul tekanan mental dan dampak sosial terhadap Susanah serta keluarganya, negara juga perlu memikirkan bentuk tanggung jawab yang layak.

Persoalannya bukan semata-mata mengenai angka Rp700 ribu per kilogram. Persoalannya adalah kehidupan seseorang yang tiba-tiba dibawa ke ruang publik tanpa kendali atas konsekuensinya.

Susanah bukan pejabat. Ia bukan akademisi. Ia bukan orang yang memiliki mesin komunikasi untuk membela dirinya. Ia hanya pekerja yang menjalani beberapa pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Karena itu, ia seharusnya tidak dijadikan bahan olok-olok.

Susanah adalah bagian dari kelompok pekerja yang sering disebut dalam pidato politik sebagai kelompok yang harus diangkat dari kemiskinan. Jika demikian, maka martabat mereka juga harus dijaga.

Saya percaya Susanah memiliki daya tahan yang kuat. Ia terbiasa bekerja dan menghadapi kehidupan yang tidak mudah. Semoga ia dapat melewati semua perhatian publik ini dengan baik.

Pada akhirnya, kisah Jason Arday, Alice Goffman, dan Susanah mengingatkan kita pada satu hal sederhana. Jangan terlalu cepat menjadikan manusia sebagai simbol. Sebelum mengangkat seseorang ke panggung publik, pastikan fakta telah diperiksa dan pikirkan konsekuensi yang mungkin muncul setelahnya.

Sebab ketika simbol itu runtuh, yang menanggung akibatnya bukan hanya institusi atau orang yang membuat keputusan. Sering kali, orang yang berada paling jauh dari kekuasaan justru harus menanggung beban paling besar.

Opini Made Supriatma Dikutip dari linimasa Facebook.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *