Komparatif.ID, Banda Aceh— Banda Aceh menyimpan banyak situs sejarah yang kerap luput dari perhatian wisatawan. Salah satunya adalah Tugu Hier Rusten 10 Strijders, monumen kecil berwarna putih di Gampong Peulanggahan yang menjadi saksi salah satu episode awal Perang Aceh.
Monumen tersebut berkaitan dengan Ekspedisi Kedua Belanda ke Aceh pada 1874. Saat itu Jenderal J. van Swieten memimpin pasukan KNIL untuk merebut istana kesultanan di Koetaradja, yang kini bernama Banda Aceh.
Sebelum menyerang istana, pasukan Belanda lebih dulu menggempur sejumlah benteng pertahanan Aceh di sekitarnya, termasuk sebuah masjid yang dikenal sebagai Missigit di Kampung Jawa.
Pertempuran pada 6 Januari 1874 itu menewaskan sepuluh prajurit KNIL. Tugu ini didirikan pada 1875 untuk mengenang mereka. Plakat berbahasa Belanda di Tugu Hier Rusten 10 Strijders tersebut menyebut sepuluh prajurit beristirahat di sana setelah gugur dalam aksi penyerangan benteng di depan masjid.
Dari sisi sejarah, kawasan ini memang bukan lokasi sembarangan. Kampung Jawa menjadi salah satu benteng pertahanan penting pasukan Aceh. Karena itu, monumen ini tidak hanya menandai gugurnya prajurit Belanda, tetapi juga mengingatkan betapa sengitnya perlawanan Aceh dalam mempertahankan wilayahnya.
Tugu ini juga punya riwayat tersendiri. Pada 1923, De Sumatra Post melaporkan kondisinya yang mulai terbengkalai. Atas inisiatif Mayor Infanteri A.J.C. Bannink, monumen dipugar oleh batalion garnisun ke-2, lalu diresmikan dengan upacara sederhana berisi pidato singkat dan peletakan karangan bunga.
Sekitar 1880, perwira KNIL O.G.H. Heldring sempat mendokumentasikan monumen di sekitar kawasan ini lewat sketsa dan lukisan cat air yang kini tersimpan di KITLV, Belanda.
Setelah pemugaran 1923, informasi mengenai tugu ini sangat terbatas dan banyak pihak menduga monumen tersebut sempat dianggap hilang pada masa perang.
Namun tugu ini ternyata bertahan. Bahkan tsunami 2004 yang mengubah wajah Aceh tidak merobohkannya. Monumen ini telah tercatat sebagai struktur cagar budaya pada 2021 setelah proses pendaftaran yang dimulai sejak 2017.
Bagi pengunjung, bentuk tugu ini cukup khas. Sekilas ia menyerupai komadai, bidak catur Jepang berbentuk segi lima, dengan warna putih dan sudut-sudut mengarah ke langit.
Baca juga: Gedung De Javasche Bank, Bangunan Kolonial yang Masih Berfungsi di Jantung Banda Aceh
Lokasinya berada di halaman rumah warga, sehingga akses masuk melalui pagar rumah dan sebaiknya dilakukan dengan sopan serta seizin penghuni. Sebuah keluarga yang telah tinggal di sana selama beberapa generasi menjadi penjaga tidak resmi monumen ini.
Di Gampong Peulanggahan, terdapat pula monumen serupa dengan nama yang sama, yang didirikan untuk mengenang sepuluh serdadu Belanda yang tewas saat merebut kawasan tersebut.
Pertempuran yang melibatkan sekitar 140 prajurit itu dihadapi pejuang Aceh di bawah pimpinan Teuku Nanta Setia. Pasukan Belanda akhirnya mampu membangun bivak pertama di sana. Monumen di Peulanggahan juga kini kurang terawat, sehingga kedua tugu dapat dikunjungi sebagai satu rangkaian wisata sejarah.
Bagi wisatawan yang ingin memahami Aceh lebih utuh, kunjungan ke tugu-tugu ini bisa melengkapi rute wisata sejarah Banda Aceh.
Monumen kolonial memang dibangun untuk menghormati pihak Belanda, tetapi justru dari situ pengunjung dapat melihat sisi lain cerita, yakni ketangguhan rakyat Aceh yang membuat perang berlangsung puluhan tahun. Dengan pengelolaan dan perawatan yang lebih baik, situs-situs kecil seperti ini berpotensi menjadi bagian dari edukasi sejarah dan pariwisata budaya di ibu kota Aceh.




