Komparatif.ID, Banda Aceh– Gedung Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh (eks De Javasche Bank) menyimpan jejak panjang perjalanan ekonomi dan politik Aceh, sekaligus menjadi salah satu titik wisata sejarah yang layak disinggahi.
Gedung ini awalnya merupakan kantor cabang De Javasche Bank (DJB) yang dibuka di Koetaradja, nama lama Banda Aceh, pada 2 Desember 1918. Pembukaannya sempat tertunda akibat pecahnya Perang Dunia I pada 1914.
Keberadaan kantor cabang tersebut tidak semata untuk mengatur peredaran uang, tetapi juga mendukung kegiatan ekonomi kolonial yang kala itu berkembang di Aceh.
Latar belakang pendiriannya tidak lepas dari kepentingan Belanda di kawasan Aceh. Setelah Terusan Suez dibuka pada 1869, jalur pelayaran Eropa ke Asia menjadi lebih singkat dan Asia Tenggara menjadi arena persaingan dagang negara-negara Barat.
Letak Aceh di gerbang Selat Malaka membuat wilayah ini strategis. Pada awal abad ke-20, Aceh juga dipandang sebagai tempat investasi yang menjanjikan, terutama di sektor perkebunan karet, kelapa sawit, lada, dan pinang.
Pembangunan jalan raya, jalur kereta api, dan pelabuhan mendorong kebutuhan akan lembaga keuangan yang dapat melayani para pengusaha dan pemodal.
De Javasche Bank menyediakan fasilitas kredit bagi pelaku usaha perkebunan sehingga mereka dapat memperluas lahan dan meningkatkan produksi. Lembaga ini juga mengatur peredaran mata uang agar stabilitas ekonomi tetap terjaga meski harga komoditas di pasar internasional berfluktuasi.
Dari sisi politik, pemilihan Koetaradja sebagai lokasi, yang merupakan pusat Kesultanan Aceh Darussalam, dibaca sebagai upaya menegaskan kendali Belanda, meskipun dalam kenyataannya Belanda hanya berkuasa penuh di sebagian kecil wilayah Aceh. Pendirian kantor ini juga sejalan dengan kebijakan Politik Pasifikasi yang diterapkan sejak akhir abad ke-19.
Bagi pengunjung, daya tarik utama gedung ini ada pada arsitekturnya. Bangunan dirancang oleh biro arsitek N.V. Architecten-Ingenieurs Bureau Hulswit en Fermont te Weltevreden en Ed. Cuypers te Amsterdam, yang didirikan Eduard Cuypers dan Marius J. Hulswit.
Gayanya neo-klasik yang disesuaikan dengan iklim tropis. Di bagian atap terdapat balustrade dan sebuah cupola besar dengan jendela kaca di keempat sisinya. Dua menara berlantai tiga beratap sirap berbentuk kubah mengapit bangunan utama, dan jendela-jendela besarnya memungkinkan cahaya alami masuk.
Banyaknya ventilasi menjaga sirkulasi udara tetap baik. Garis-garis lurus pada dinding serta tiang semu pada jendela dan ventilasi menambah kesan formal dan kokoh.
Setelah kemerdekaan, fungsi gedung berubah. DJB dinasionalisasi pada 1953 dan menjadi Bank Indonesia, bank sentral Republik Indonesia. Gedung di Banda Aceh kemudian berfungsi sebagai Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh.
Pada 1999, bangunan ini ditetapkan sebagai cagar budaya. Gedung ini telah melewati masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, hingga era kemerdekaan, dan tetap berdiri setelah gempa dan tsunami 2004.
Baca juga: Menjelajahi Museum Aceh: Jejak Sejarah yang Tak Lekang oleh Waktu
Dalam konteks pariwisata, gedung ini kerap dijadikan latar foto oleh wisatawan dan menjadi bagian dari paket wisata sejarah di Banda Aceh. Pemerintah daerah dan Bank Indonesia beberapa kali berkolaborasi mempromosikannya sebagai destinasi bernilai edukatif.
Pelajar, mahasiswa, dan peneliti juga dapat melakukan kunjungan edukatif untuk mempelajari sejarah perbankan dan arsitektur kolonial. Perlu dicatat, karena gedung ini tetap berfungsi sebagai kantor, akses kunjungan memiliki batasan tertentu. Calon pengunjung, terutama rombongan, sebaiknya mengoordinasikan rencana kunjungan terlebih dahulu dengan pihak Bank Indonesia.
Ke depan, pelestarian gedung ini dipandang perlu dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya menjaga bentuk fisiknya, tetapi juga nilai sejarah yang melekat padanya. Kolaborasi Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan komunitas lokal menjadi kunci agar bangunan ini tetap terawat dan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi, edukasi, dan pariwisata.
Bagi warga maupun wisatawan yang berkunjung ke Banda Aceh, gedung ini bisa menjadi salah satu pilihan untuk memahami bagaimana sejarah ekonomi dan arsitektur kota ini terbentuk.




