Thursday, 15 October 2026

Komparatif.ID

Situs Berita Aceh Inspirasi Indonesia

Wisata

Menelusuri Sejarah Menara Air Peninggalan Belanda di Banda Aceh

Menelusuri Sejarah Menara Air Peninggalan Belanda di Banda Aceh
Water Toren, Schoon Water Systeem in Koetaradja. Foto: Komparatif.ID/Rizki Aulia Ramadan.

Komparatif.ID, Banda Aceh– Water Toren, menara air peninggalan pemerintah kolonia Belanda kini menjadi salah satu situs budaya sekaligus daya tarik wisata sejarah di Banda Aceh. Bangunan berbentuk silinder yang berdiri di kawasan Taman Sari, Kampung Baru, Kecamatan Baiturrahman.

Menara air ini dibangun pada 1904 sebagai solusi atas kebutuhan air bersih bagi masyarakat dan kawasan pemerintahan di Koetaradja —nama Banda Aceh pada masa itu.

Kehadirannya menjadi bagian penting dari sistem penyediaan air bersih yang mulai dikembangkan untuk mendukung aktivitas penduduk dan administrasi pemerintahan kolonial.

Berdasarkan catatan sejarah, pada tahun yang sama pemerintah kolonial Belanda merintis pusat pengolahan air bernama Geni Water Loading di area bekas Istana Kerajaan Aceh.

Setahun kemudian, aktivitas produksi air di Banda Aceh mulai berjalan dan sekaligus memfungsikan menara air tersebut.

Air yang ditampung di menara berasal dari kawasan Mata Ie di pegunungan Glee Taron, Aceh Besar. Dari sana, air didistribusikan ke sejumlah titik penting di pusat kota, termasuk kawasan sekitar bekas Keraton Aceh, Taman Sari, hingga wilayah di sekitar Masjid Raya Baiturrahman.

Pemanfaatannya mencakup kebutuhan pemerintahan, militer, dan aparatur sipil Belanda yang bermukim di Koetaradja, di samping kebutuhan masyarakat.

Yang menarik, sistem distribusinya tergolong modern untuk ukuran zamannya. Menara sengaja dibangun lebih tinggi dibandingkan bangunan di sekitarnya agar gaya gravitasi dapat dimanfaatkan untuk mengalirkan air ke berbagai lokasi tanpa bantuan mesin pompa.

Di bagian depan bangunan terdapat bak penampungan yang terhubung dengan jaringan pipa bawah tanah. Infrastruktur ini dirancang untuk menjaga kelancaran pasokan sekaligus melindungi saluran distribusi dari kerusakan akibat faktor lingkungan.

Dari sisi arsitektur, Water Toren masih menampilkan karakter bangunan kolonial yang jelas hingga kini. Struktur utamanya berbentuk silinder dan dibangun menggunakan beton yang kokoh.

Bagian atas menara memuat ruang penampungan air berukuran lebih besar yang ditopang konstruksi kuat, lengkap dengan ventilasi dan jendela untuk menjaga sirkulasi udara. Bangunan ini memiliki pola simetris dengan warna putih, serta corak khas bangunan Belanda yang tampil sederhana.

Atapnya berbentuk kubah dengan puncak segi enam yang menjadi ciri pembeda menara ini. Meski tampil bersahaja, desainnya mencerminkan pendekatan arsitektur kolonial yang mengutamakan fungsi sekaligus estetika.

Kini Water Toren tidak lagi berfungsi sebagai penampung maupun distributor air bersih. Meski demikian, bangunan bersejarah ini masih berdiri kokoh dan telah ditetapkan Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh sebagai salah satu situs cagar budaya yang dilindungi.

Upaya pemeliharaan pun terus dilakukan agar kondisi bangunan tetap lestari. Perawatan berkala, perbaikan struktur, hingga pengecatan ulang menjadi bagian dari komitmen pelestarian warisan sejarah kota. Langkah tersebut penting mengingat usia menara yang sudah melewati satu abad dan lokasinya yang berada di tengah kawasan perkotaan yang terus berkembang.

Saat ini, Water Toren menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang menarik perhatian masyarakat maupun wisatawan. Selain menyimpan nilai arsitektur kolonial, bangunan ini juga merekam perjalanan panjang pengelolaan air bersih di Banda Aceh.

Bagi pengunjung yang ingin memahami sisi lain sejarah kota selain kisah perang dan tsunami yang kerap menjadi sorotan, menara ini menawarkan sudut pandang berbeda, yakni bagaimana kebutuhan dasar warga dipenuhi pada awal abad ke-20.

Lokasinya yang berada di Taman Sari juga memudahkan akses. Kawasan ini berada di pusat kota dan dekat dengan sejumlah titik bersejarah lain, termasuk Masjid Raya Baiturrahman, sehingga menara dapat dikunjungi sebagai bagian dari rangkaian wisata sejarah di jantung Banda Aceh.

Bagi masyarakat dan wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat jejak sejarah ibu kota Aceh, Water Toren layak masuk dalam daftar kunjungan.

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *