Komparatif.ID, Bireuen– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi kabut asap yang menyelimuti wilayah Bireuen berasal dari sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terdeteksi melalui citra satelit Himawari-9.
Informasi tersebut berdasarkan pemantauan citra satelit Himawari-9 pada pukul 16.00 WIB. Dalam citra tersebut, sebaran asap terdeteksi di sejumlah wilayah di Sumatera hingga Kalimantan.
Asap terlihat menyelimuti Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Kepulauan Riau, Bengkulu, Bangka Belitung, Sumatera Selatan, dan Lampung. Sebaran asap juga terdeteksi di sejumlah wilayah Kalimantan, meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
BMKG menyebutkan, sebaran asap bergerak ke arah barat laut hingga utara mengikuti arah angin dari timur hingga tenggara. Kondisi tersebut menyebabkan asap dari wilayah lain berpotensi terbawa menuju wilayah Aceh, termasuk Bireuen.
Selain pergerakan asap antardaerah, BMKG juga mendeteksi adanya fenomena transboundary haze atau kabut asap lintas negara yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan.
Asap dari wilayah Sumatera terpantau bergerak menuju Thailand, Semenanjung Malaysia, dan Singapura. Sementara itu, asap yang berasal dari wilayah Kalimantan bergerak menuju Sarawak, Malaysia, dan Singapura.
Pada citra satelit yang sama, terlihat puluhan titik panas atau hotspot yang ditandai dengan warna merah di wilayah Sumatera bagian selatan. Titik panas tersebut diduga menjadi salah satu sumber utama sebaran asap yang terbawa angin hingga mencapai wilayah lain, termasuk Aceh.
Baca juga: Kabut Asap Selimuti Jeumpa, BPBD Bireuen: Masih Dipantau
Kondisi tersebut juga dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Bireuen. Kabut asap terlihat mengurangi jarak pandang dan membuat sebagian warga merasakan dampak dari kualitas udara yang berubah.
Warga Peudada, Efendi, mengatakan kabut asap masih terasa meskipun hujan sempat turun menjelang waktu Magrib. Ia mengaku matanya masih terasa perih, baik ketika berada di luar maupun di dalam ruangan.
“Meski hujan sempat turun menjelang Magrib, asap masih ada. Mata masih terasa perih, baik saat di luar maupun di dalam ruangan,” ujar Efendi.
Ia memperkirakan kondisi kabut asap akan berangsur menipis setelah hujan turun. Namun, hingga malam hari, sisa asap masih dirasakan masyarakat.
“Kemungkinan asap akan menipis dari sebelumnya karena sudah turun hujan,” katanya.
Masyarakat diimbau tetap memperhatikan kondisi udara dan mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kabut asap masih terasa. Warga juga diminta menggunakan masker ketika harus melakukan aktivitas di luar rumah sebagai langkah untuk mengurangi paparan asap.




