Komparatif.ID, Banda Aceh— Kompleks Makam Kandang Meuh menyimpan cerita tentang para sultan dan keluarga Kesultanan Aceh Darussalam. Berada di tengah kawasan perkotaan, jejak Kesultanan Aceh Darussalam juga masih dapat ditemukan melalui sejumlah kompleks makam yang menyimpan nama para sultan, keluarga kerajaan, dan tokoh penting pada masanya.
Salah satunya adalah Kompleks Makam Kandang Meuh. Berada tidak jauh dari Gedung Juang dan Museum Aceh, kompleks makam ini menjadi salah satu titik yang menarik untuk ditelusuri dalam perjalanan wisata sejarah di Banda Aceh.
Kini, kawasan tersebut tampak lebih tertata setelah revitalisasi. Salah satu bagian yang terlihat adalah pagar yang mengelilingi kompleks makam. Pagar Kandang Meuh menggunakan warna hitam dengan bagian ujung tiang berwarna kuning keemasan. Penataan tersebut membuat kawasan makam terlihat lebih rapi.
Kompleks Makam Kandang Meuh berada di Jalan Sultan Alauddin Mahmudsyah Nomor 12, Kelurahan Peuniti, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh.
Kompleks ini terbagi menjadi dua lokasi. Salah satunya berada di sebelah kiri Gedung Juang, dekat makam Sultan Iskandar Muda, sedangkan lokasi lainnya berada di sebelah kanan Gedung Juang, dekat Museum Aceh.
Bagi wisatawan yang ingin mengenal Banda Aceh melalui jejak sejarahnya, keberadaan Kandang Meuh menawarkan ruang untuk melihat lebih dekat peninggalan Kesultanan Aceh Darussalam. Nama-nama yang tertera pada papan informasi menjadi bagian penting dari cerita yang masih dapat ditelusuri hingga kini.
Menelusuri Jejak Kesultanan Aceh di Kandang Meuh
Kandang Meuh dikenal sebagai kompleks pemakaman para sultan Aceh Darussalam beserta keluarga dan tokoh yang memiliki hubungan dengan kesultanan. Informasi yang terpampang di kompleks makam memuat sembilan nama yang dimakamkan di Kandang Meuh.
Di antaranya Pocut Rumoh Geudong atau Meurah Limpah, yang juga disebut Pocut Lambseupeung, permaisuri Sultan Alaidin Ibrahim Mansur Syah. Ada pula Pocut Sri Banun, putri Sultan Alaidin Ibrahim Mansur Syah, serta Sultan Alaidin Ibrahim Mansur Syah yang disebut wafat pada 1870 Masehi.
Baca juga: Museum Tsunami Aceh Gelar Pameran Temporal Kebencanaan 2025
Nama lainnya adalah Sultan Alaidin Muhammad Syah yang tercatat dalam rentang 1781–1795 Masehi dan Sultan Alaidin Jauhar Alam Syah yang juga disebut Sultan Husen, dengan masa 1795–1824 Masehi.
Papan informasi tersebut juga mencatat Putroe Bineu atau Pocut Meurah Di Awan, ibu dari Sultan Alaidin Jauhar Alam Syah. Berikutnya terdapat nama Tuanku Pangeran Husein yang disebut wafat pada Safar 1281 Hijriah atau 1860 Masehi. Ia disebut sebagai putra Sultan Alaidin Ibrahim Mansur Syah dan memiliki peran sebagai panglima armada Aceh dalam memperkuat kekuasaan Aceh di Deli, Serdang, dan Langkat pada 1854.
Nama Tuanku Zainal Abidin juga tercantum. Ia disebut wafat pada 1288 Hijriah atau 1867 Masehi dan merupakan panglima perang Kesultanan Aceh Darussalam pada masa Sultan Alaidin Ibrahim Mansur Syah. Papan informasi menyebutnya sebagai ayahanda Sultan Aceh terakhir, Sultan Alaidin Muhammad Daud Syah.
Nama terakhir yang tercantum adalah Teungku Chik, yang disebut sebagai kakak perempuan Sultan Alaidin Ibrahim Mansur Syah.
Selain nama-nama tokoh, nisan menjadi bagian penting yang dapat diperhatikan ketika berkunjung. Kompleks Kandang Meuh memiliki corak nisan yang berbeda, di antaranya nisan pipih dengan penataan bahu dan nisan gada segi enam.
Pada nisan gada, bagian bawahnya berbentuk segi empat dengan hiasan motif bunga lidah api. Ukiran pada nisan Kandang Meuh disebut tidak serumit nisan di Makam Kandang XII, sementara penggunaan kaligrafinya juga lebih sedikit.
Secara historis, Kompleks Makam Kandang Meuh telah ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya melalui SK Nomor 014/M/1999 pada 12 Januari 1999. Luas situs tercatat 221 meter persegi dengan status tanah negara.
Secara historis, Kompleks Makam Kandang Meuh telah ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya melalui SK Nomor 014/M/1999 pada 12 Januari 1999. Luas situs tercatat 221 meter persegi dengan status tanah negara.
Letaknya yang berdekatan dengan Museum Aceh, Gedung Juang, makam Sultan Iskandar Muda, dan sejumlah bangunan penting lainnya membuat Kandang Meuh memiliki posisi yang dekat dengan sejumlah titik sejarah di Banda Aceh.
Kandang Meuh bukan sekadar kompleks pemakaman. Di tempat ini, nama-nama para sultan, keluarga kerajaan, dan tokoh Kesultanan Aceh masih dapat dibaca dan ditelusuri. Bagi wisatawan yang ingin mengenal Banda Aceh melalui sisi sejarahnya, Kandang Meuh dapat menjadi salah satu persinggahan untuk melihat peninggalan kesultanan yang masih berada di tengah kehidupan kota. (*)
