BREAKING
Gaya Hidup

Kupat Jembut, Ketupat Khas Kota Semarang

kupat jembut
Kupat jembut salah satu kuliner khas Kota Semarang ketika perayaan Syawalan. Foto: Joglosemar.id

Kupat jembut merupakan kuliner khas Kota Semarang, ibukota Jawa Tengah. Meskipun namanya terdengar agak aneh, tapi sesungguhnya kupat jembut merupakan hidangan favorit di sana.

Sekilas nama kupat jembut terdengar nyeleneh. Tidak tahu sopan santun, tidak beretika, dan segenap penghakiman lainnya. Tapi tahukah kamu, bila kudapan yang satu ini lahir dari kondisi serab tak menentu seusai Perang Dunia II.

Perang Dunia II yang terjadi berdampak juga ke Nusantara. Di sisi ekonomi, banyak sekali rakyat Indonesia yang dipaksa oleh Tentara Pendudukan Jepang menjadi pekerja paksa (romusha). Para lelaki dihela ke proyek-proyek yang diawasi militer—umumnya proyek pertahanan—tanpa makanan yang cukup, tanpa jaminan kesehatan, dan tanpa gaji. Mereka hanya bekerja hingga mati kelelahan.

Kemiskinan merajalela. Secara umum warga menderita kelaparan. Di tengah kondisi tak menentu seusai Perang Dunia II, Jepang yang kejam mencoba segala cara supaya tidak harus pulang dengan kepala tertunduk. Mereka yang sejak masuk ke Nusantara telah bertindak kejam, memaksa rakyat tetap menanam tanaman industri perang. Lahan pertanian diubah menjadi kebun jarak, kapas, rami, rute, dan rosella.

Pemilik lahan juga dipaksa menanam kina dan karet. Sawah-sawah yang diperbolehkan menanam padi, 70-sampai 80 persen hasilnya disita oleh imperialis Jepang.

Kelaparan menjalar di mana-mana. Busung lapar memangkas banyak jatah kehidupan.

Di tengah ketidakpastian, seusai perang tahun 1950-an, ibu-ibu di perkampungan di timur Kota Semarang, mulai berkreasi dengan bahan-bahan seadanya. Perempuan-perempuan di Desa Jaten Cilik, Genuksari, dan Pedurungan Tengah mencoba membuat ketupat kreasi baru.

Inisiatif tersebut bermula dari upaya tetap merayakan Syawalan di tengah krisis ekonomi. Hari Raya tetap harus meriah, meski keadaan ekonomi sedang terpuruk. Mereka yang baru pulang dari pengungsian pascaperang pun berupaya keras supaya tradisi makan ketupat pada hari ketujuh Idulfitri tetap lestari.

Mereka mengumpulkan bahan seadanya. Dengan menggunakan beras sisa dari Idulfitri, ibu-ibu membuat ketupat ukuran kecil. Karena tidak ada uang untuk membeli lauk mahal, mereka berkreasi. Bahan urap terdiri dari tauge, kubis, kelapa parut. Bahan itu dimasukkan ke dalam ketupat yang dibelah setelah matang.

BACA: Menikmati Manisnya Kontol Kejepit di Bantul

Celah ketupat yang dijejali urap menghadirkan visualisasi unik. Tauge acak-acakan, parutan kelapa yang menyebar dalam bentuk tipis dan panjang, menyembul di sela-sela anyaman ketupat. Dari visualisasi tersebut lahirlah nama tupat jembut alias ketupat berbulu.

Makna filosofis Kupat jembut

Orang-orang dulu memberikan nama kupat jembut, tentu mengandung makna tersirat. Sebagai pengejawantahan supaya setiap manusia harus hidup sederhana, rendah hati, dan tidak sombong, dan mampu bertahan dalam kondisi apa pun.

Perayaan berburu kupat jembut sering disebut sebagai lebarannya anak-anak. Setelah salat Subuh atau pagi hari saat perayaan Syawalan, anak-anak akan berkumpul di depan masjid atau berjalan keliling kampung. Para tetua kampung atau pemilik rumah akan membagikan kupat jembut ini kepada anak-anak.

Menariknya, seiring perkembangan zaman dari tahun 1980-an hingga sekarang, warga tidak hanya mengisi ketupat dengan tauge, melainkan juga menyisipkan uang koin atau uang kertas pecahan kecil di dalamnya sebagai simbol kedermawanan dan berbagi berkat.

Sebagai makanan yang lahir di tengah kondisi serba terbatas, kupat jembut bisa dikonsumsi langsung tanpa perlu disiram kuah opor. Makanan tersebut langsung dimakan tanpa lauk tambahan. Citarasanya gurih dan sedikit pedas. Rasa pedas bersumber dari bumbu urap.

Pun demikian, menikmat kupat jembut yang disiram kuah opor, atau ditambahkan sambal ati, tetap bukan kesalahan.

Nama lain dari kudapan ini yaitu kupat tauge, ketupat sayur, dan kupat gudangan.

Apakah kamu sudah pernah mencobanya? Kalau belum, maka berkunjunglah ke Semarang pada Syawalan depan.

Sumber: detik, Kompasiana, radartegal, joglosemar. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *