Home Politik Keuchik Pulo Ara Minta Sedimentasi Waduk Paya Laot Dibersihkan

Keuchik Pulo Ara Minta Sedimentasi Waduk Paya Laot Dibersihkan

Keuchik Pulo Ara Minta Sedimentasi Waduk Paya Laot Dibersihkan
Waduk Paya Laot yang kondisinya dipenuhi sedimentasi atau lumpur, sehingga kapasitas tampung air berkurang. Foto: Komparatif.ID/Rizal Bank Pineung.

Komparatif.ID, Bireuen— Muhammad Amin, Keuchik Gampong Pulo Ara, Mukim Alue Rheng, Kecamatan Peudada, mengusulkan pembersihan lumpur atau sedimentasi Waduk Paya Laot untuk mendukung kebutuhan air bagi lahan pertanian di wilayah tersebut.

Menurutnya, kondisi waduk yang dipenuhi endapan lumpur berdampak terhadap kemampuan waduk menampung air, sehingga memengaruhi aktivitas pertanian masyarakat.

Muhammad Amin menuturkan sebagian kawasan persawahan, terutama di Mukim Blang Birah dan Mukim Krueng, bergantung pada sistem irigasi dari Sungai Peudada.

Namun, selama empat tahun terakhir, sebagian areal persawahan mengalami gagal tanam setelah tanggul Brandang Hagu bagian kanan jebol akibat banjir pada akhir 2023. Kondisi tersebut mengganggu pasokan air bagi lahan pertanian yang sebelumnya mengandalkan jaringan irigasi.

Saat ini, enam gampong berupaya kembali membuka lahan persawahan dengan memanfaatkan bantuan penampung air dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bireuen. Upaya tersebut dilakukan agar lahan yang sebelumnya tidak dapat ditanami kembali bisa dimanfaatkan oleh petani.

Di sisi lain, sebagian besar sawah tadah hujan di Kecamatan Peudada telah ada sejak masa kemerdekaan hingga kini belum berubah status menjadi sawah irigasi.

Kondisi tersebut terutama terdapat di wilayah Mukim Alue Rheng, Mukim Tgk Di Paya, dan Mukim Pintoe Batee yang masih bergantung pada curah hujan serta aliran air dari Waduk Paya Laot.

Sedikitnya 14 gampong terdampak kondisi tersebut, yakni Pulo Ara, Cot Laot, Dayah Mon Ara, Blang Bati, Keude Alue Rheng, Pulo Lawang, Paya Timu, Paya, Paya Barat, Seuneubok Paya, Blang Geulumpang, Gampong Baro, Karing, dan Dusun Teungoh Meunasah Alue.

“Petani hanya panen sekali setahun saat musim hujan. Tetapi jika salah waktu, sering gagal tanam atau gagal panen karena kekurangan air,” kata Muhammad Amin, Minggu (28/6/2026).

Ia berharap pemerintah dapat melakukan pembersihan sedimentasi Waduk Paya Laot sehingga kapasitas tampung air kembali optimal. Dengan demikian, petani di wilayah tersebut diharapkan dapat menanam padi secara rutin hingga dua kali dalam setahun.

Muhammad Amin juga menjelaskan pembersihan sedimentasi terakhir dilakukan pada 2020 oleh Gubernur Irwandi Yusuf (BW). Namun, selama lima tahun terakhir waduk tersebut belum kembali dibersihkan.

Menurutnya, endapan lumpur semakin bertambah setelah banjir pada 26 November 2025 membawa material baru yang menumpuk di atas sedimentasi lama. Akibatnya, air hanya tertampung di bagian atas lapisan lumpur sehingga genangan lebih cepat penuh dan mendekati tanggul.

Ia menilai kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan risiko apabila debit air tidak dikendalikan saat hujan melalui pintu air. Jika tidak dikelola dengan baik, tanggul dikhawatirkan dapat jebol dan menyebabkan genangan di sejumlah wilayah, di antaranya Gampong Keude Alue Rheng, Pulo Lawang, Seuneubok Paya, Paya Timu, dan Karing.

Sementara itu, Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Peudada, Zulfikar, menyebut luas sawah tadah hujan di Kecamatan Peudada mencapai sekitar 442 hektare. Khusus di Desa Cot Laot terdapat sekitar 20 hektare sawah tadah hujan.

“Luas sawah tadah hujan keseluruhan untuk Kec. Peudada sekitar 442 Ha. Untuk Desa Cot Laot sekitar 20 Ha dan sampai saat ini warga melakukan penanaman sekitar 8 Ha,” ujar Zulfikar melalui pesan WhatsApp.

Ia mengatakan data tersebut berdasarkan laporan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) yang mencatat hingga saat ini masyarakat di Desa Cot Laot telah menanami sekitar 8 hektare lahan sawah.

Previous articleDisdik Aceh Siapkan Skema Baru Penyaluran Beasiswa untuk Anak Yatim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here