Home Opini Pendidikan sebagai Pelopor Penggerak Perjuangan

Pendidikan sebagai Pelopor Penggerak Perjuangan

Nyak Sandang dan Bukti Kontribusi Aceh untuk Indonesia. Melihat Posisi Indonesia dalam Konflik Amerika Serikat vs Iran Tgk Habibi: Dari Tradisi Dayah ke Panggung Nasional Pendidikan sebagai Pelopor Penggerak Perjuangan
Dr. (Cand) Kaipal Wahyudi, S.j., S.Hum., M.Ag. Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam, Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Penulis dan pengkaji isu-isu sosial keagamaan. Aktif sebagai anggota Majelis Surah Buku Aceh serta menjadi presenter dalam berbagai forum seminar nasional dan internasional. Foto: Dok. Penulis.

Setiap tanggal 2 Mei, bangsa ini kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Bagi sebagian orang, momentum ini mungkin hanya sebatas seremoni tahunan: upacara, pidato, dan ucapan-ucapan normatif tentang pentingnya pendidikan.

Namun jika dibaca lebih dalam, Hardiknas sesungguhnya adalah ruang refleksi—sebuah kesempatan untuk menanyakan kembali hal yang paling mendasar: ke mana arah pendidikan Indonesia hari ini, dan apakah ia masih setia pada ruh awalnya sebagai alat pembebasan.

Sejarah Indonesia memberi pelajaran penting bahwa perjuangan bangsa ini tidak pernah lahir dari ruang hampa. Ia tidak bermula dari dentuman senjata, tetapi dari kesadaran yang tumbuh perlahan.

Dan kesadaran itu tidak jatuh dari langit. Ia lahir dari proses panjang, dari ruang-ruang belajar yang sederhana, dari diskusi-diskusi kecil, dari kegelisahan intelektual yang kemudian berubah menjadi gerakan.

Di titik inilah pendidikan menemukan makna terdalamnya: bukan sekadar tempat mentransfer pengetahuan, tetapi ruang yang melahirkan keberanian untuk berpikir.

Pada awal abad ke-20, ketika kolonialisme Belanda masih mencengkeram Nusantara, pendidikan memang tidak dirancang untuk membebaskan. Kebijakan Politik Etis yang sering disebut sebagai “balas budi” sejatinya lebih bersifat pragmatis.

Pendidikan dibuka bukan untuk memerdekakan pribumi, tetapi untuk mencetak tenaga kerja terdidik yang dapat membantu jalannya administrasi kolonial. Namun sejarah sering bergerak dengan caranya sendiri. Dari ruang-ruang pendidikan yang sempit itulah justru lahir generasi baru yang mulai melihat dunia dengan cara berbeda.

Sekolah seperti STOVIA menjadi titik balik penting. Di sana, para pelajar tidak hanya belajar ilmu kedokteran, tetapi juga menyerap gagasan-gagasan modern tentang kebebasan, kesetaraan, dan kemanusiaan.

Mereka mulai memahami bahwa penjajahan bukanlah sesuatu yang alamiah, melainkan sistem yang dibangun dan karena itu bisa dilawan. Dari kesadaran inilah kemudian lahir Budi Utomo, yang menandai babak baru dalam sejarah perjuangan Indonesia.

Apa yang terjadi pada fase ini menunjukkan satu hal yang sering luput disadari: pendidikan memiliki kekuatan yang tidak selalu tampak, tetapi sangat menentukan. Ia tidak langsung mengubah keadaan, tetapi ia mengubah cara manusia melihat keadaan. Dan ketika cara pandang berubah, tindakan pun ikut berubah. Dari kesadaran individu yang terbangun di ruang-ruang pendidikan, lahirlah kesadaran kolektif yang kemudian menjelma menjadi gerakan.

Baca juga: Hardiknas: Antara Retorika Kemajuan dan Realitas Ketimpangan

Di tengah dinamika itu, muncul sosok yang kemudian menjadi simbol arah baru pendidikan Indonesia, yakni Ki Hajar Dewantara.
Filosofi “ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” bukan sekadar rangkaian kata indah. Ia adalah refleksi dari cara pandang yang menempatkan manusia sebagai subjek, bukan objek.

Dalam konteks perjuangan, gagasan ini memiliki makna yang sangat dalam. Sebab kemerdekaan sejati tidak hanya berarti bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga bebas dari ketertundukan cara berpikir.

Merdeka Belajar

Kebijakan Merdeka Belajar yang berkembang dalam beberapa tahun terakhir bisa dibaca sebagai upaya untuk menjawab tantangan pendidikan di era teknologi. Merdeka Belajar mencoba mengembalikan pendidikan pada esensinya sebagai ruang kebebasan.

Dalam banyak hal, ini adalah kelanjutan dari gagasan Ki Hajar Dewantara, tetapi dalam konteks zaman yang berbeda.

Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed, mengkritik pendidikan yang hanya menjadikan peserta didik sebagai objek pasif. Ia menawarkan pendekatan dialogis, di mana pendidikan menjadi proses bersama untuk membangun kesadaran kritis. Pendidikan, dalam pandangannya, bukan sekadar memahami dunia, tetapi mengubahnya.

Jika kita tarik ke konteks Indonesia hari ini, tantangan pendidikan tidak lagi sederhana. Ketimpangan akses masih nyata, kualitas belum merata, dan literasi digital masih menjadi persoalan serius. Di sisi lain, arus globalisasi membawa tekanan baru berupa krisis identitas dan nilai.

Di banyak wilayah pinggiran, persoalan ini bukan sekadar wacana. Masih ada anak-anak yang harus menempuh jarak jauh untuk bersekolah dengan fasilitas yang terbatas. Di sisi lain, mahasiswa hari ini juga menghadapi tantangan yang berbeda: akses informasi yang melimpah, tetapi sering kali tanpa pendampingan yang memadai untuk mengolahnya secara kritis. Pendidikan hadir, tetapi belum sepenuhnya setara baik dalam akses maupun kualitas.

Di sinilah pendidikan diuji. Apakah ia masih mampu menjadi ruang pembentukan karakter, atau justru terjebak menjadi mesin produksi lulusan tanpa arah? Pendidikan tidak boleh hanya mengejar kecerdasan intelektual. Ia harus kembali pada akar moral dan spiritualnya. Nilai kejujuran, tanggung jawab, dan integritas tidak bisa dipisahkan dari proses pendidikan.

Hardiknas

Tema Hardiknas 2026 tentang partisipasi semesta menegaskan pendidikan bukan hanya tanggung jawab negara. Ia adalah tanggung jawab bersama. Guru, orang tua, dan masyarakat memiliki peran yang sama penting. Pendidikan tidak bisa hidup hanya di ruang kelas. Ia harus tumbuh dalam lingkungan sosial yang mendukung.

Ketika semua elemen terlibat, pendidikan tidak lagi sekadar program, tetapi menjadi gerakan. Dan sebagai gerakan, ia memiliki daya untuk mengubah masyarakat.

Namun ada satu pertanyaan yang tidak bisa dihindari: Indonesia ingin menjadi apa?

Indonesia tidak bisa terus berjalan tanpa arah. Kita harus berani menentukan fokus. Tetapi dalam proses itu, ada satu hal yang tidak boleh ditinggalkan: nilai moral dan spiritual. Pendidikan tanpa tiga dasar tersebut, hanya akan melahirkan manusia yang cerdas tetapi kehilangan arah.

Pada akhirnya, pendidikan adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan. Ia bukan sekadar proses belajar, tetapi proses menjadi. Ia membentuk cara kita melihat dunia, memahami diri sendiri, dan menentukan arah hidup.

Sejarah telah membuktikan bahwa dari ruang-ruang pendidikan lahir perubahan besar. Dan hari ini, pertanyaan yang sama kembali hadir: apakah pendidikan kita masih mampu melahirkan kesadaran itu?

Jika jawabannya ya, maka masa depan Indonesia masih memiliki harapan. Jika tidak, maka persoalannya bukan pada generasi, tetapi pada arah pendidikan itu sendiri.

Dan mungkin di situlah makna paling jujur dari Hardiknas hari ini: bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi keberanian untuk mengoreksi arah dan membenahi diri. Sebab jika kita tidak mulai sekarang membangun generasi yang luas cara berpikirnya, kuat nilai agamanya, dan kokoh integritasnya, maka yang kita hadapi bukan lagi sekadar ketertinggalan, melainkan kehilangan arah masa depan itu sendiri.

Previous articleHardiknas: Antara Retorika Kemajuan dan Realitas Ketimpangan
Next articleSolusi Bangun Indonesia Catat Lonjakan Laba 111 Persen di Awal 2026

1 COMMENT

  1. Aceh ni klo mau bikin anak-anak mudanya pande cukup mudah sebenarnya. dana abadi yang dibagiin tiap haji itu, alihkan ke dana pendidikan aja. yang pande-pande ambil “beasiswa” ke sekolah-sekolah di arab-saudi atau kampus-kampus di arab-saudi nanti biaya pendidikan dibayar/dibiayai oleh “al-asyi” itu. al-asyi juga kerjasama ke sekolah-sekolah di mesir atau kampus-kampus sainstek di iran atau di negara islam manapun secara bertahap.

    tiap siswa/mahasiswa yang dapat LoA (surat penerimaan) dari sekolah-sekolah atau kampus-kampus di arab/iran (hanya boleh di negara islam) terus kirim ke al-asyi buat cek dan dikonfirmasi (teknisnya oleh mereka).

    lebih bermanfaat secara jangka panjang daripada dibagiin ke jamaah haji tiap tahun. dan bisa bikin “jaringan” yang bagus juga. apalagi lowongan2 dari perusahaan global juga banyak disana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here