Home Gaya Hidup Kuliner Lambai Oen Peugaga, Kuliner Ramadan Aceh yang Kian Sulit Ditemukan

Lambai Oen Peugaga, Kuliner Ramadan Aceh yang Kian Sulit Ditemukan

Lambai Oen Peugaga, Kuliner Ramadan Aceh yang Kian Sulit Ditemukan
Juliana, salah seorang pedagang lambai oen peugaga di Pasar Aceh, Kota Banda Aceh. Foto: Maulana Ahkyar.

Komparatif.ID, Banda Aceh— Di tengah popularitas mi Aceh dan timphan sebagai kuliner khas daerah, Aceh masih menyimpan satu makanan tradisional yang kini semakin jarang dijumpai, yakni lambai oen peugaga.

Hidangan sejenis urap ini umumnya hanya hadir setahun sekali sebagai menu berbuka puasa selama bulan suci Ramadan.

Lambai oen peugaga dikenal sebagai salah satu makanan tradisional yang memiliki sejarah panjang dalam khazanah kuliner masyarakat Aceh. Secara historis, makanan ini diracik menggunakan 44 jenis dedaunan yang berbeda.

Namun, lambat laun makanan khas ini semakin sulit ditemukan di pasaran karena keterbatasan bahan baku dan minimnya generasi muda yang mewarisi keahlian membuatnya.

Bahan utama pembuatannya bertumpu pada oen peugaga (daun pegagan atau Centella asiatica), serai, daun jeruk purut, cabai merah, dan bawang merah. Seluruh daun aromatik tersebut diiris tipis sebelum dicampur dengan kelapa parut yang telah dipanggang atau disangrai. Perpaduan bahan-bahan tersebut menghasilkan cita rasa pedas, gurih, sekaligus segar.

Baca juga: Manisnya Kelapa Muda Plus Meulisan di Kota Pendidikan Bireuen

Selain rasanya yang khas, lambai dipercaya oleh masyarakat setempat memiliki khasiat medis. Kandungan herbal di dalamnya diyakini mampu mengobati masuk angin serta meningkatkan konsentrasi dan daya ingat (anti-pikun).

Juliana, salah seorang pedagang lambai di Pasar Aceh, Kota Banda Aceh, mengakui bahwa bahan baku lambai saat ini sangat sulit didapatkan. Pedagang yang telah berjualan khusus di bulan Ramadhan sejak pascabencana tsunami 2004 ini bahkan terpaksa mengubah resep leluhurnya.

“Untuk bahannya biasanya kami pesan sama orang. Jadi sebelum jualan kami pesan dulu,” ujar Juliana saat ditemui di lapaknya, Rabu (13/3/2026).

Akibat sulitnya mengumpulkan bahan, Juliana kini hanya menggunakan 34 jenis dedaunan dari total 44 jenis bahan yang seharusnya ada pada resep asli lambai oen peugaga.

Saat ini, satu porsi lambai dijual dengan harga Rp10.000. Meski harganya murah, segmentasi pasarnya kini menyempit. Mayoritas pembeli didominasi oleh kalangan orang tua.

Minimnya pengetahuan anak muda zaman sekarang terhadap makanan ini membuat popularitas lambai oen peugaga semakin meredup dan terancam punah dari peta kuliner Aceh.

Laporan Maulana Ahkyar, mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Previous articleBupati Bireuen Pastikan Anak Yatim Korban Pelecehan di Samalanga Dapat Pendampingan Psikologis & Hukum
Next articleTim PKM Unsam Kembangkan Sistem Informasi Digital Data Warga Terdampak Bencana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here