Komparatif.ID, Banda Aceh— UIN Ar-Raniry Banda Aceh menargetkan masuk dalam 500 besar universitas Asia pada 2029 seiring penguatan kemandirian bisnis berbasis Badan Layanan Umum (BLU).
Rektor UIN Ar-Raniry Prof. Dr. Mujiburrahman menyampaikan bahwa dalam tiga tahun terakhir pendapatan Penerimaan Negara Bukan Pajak BLU menunjukkan tren meningkat.
Namun demikian, struktur belanja masih didominasi kebutuhan pegawai dan operasional rutin. Ia menilai, untuk mencapai lompatan yang lebih jauh, kampus perlu memperkuat belanja produktif dan investasi pengembangan.
“Pendapatan PNBP memang menunjukkan tren positif, tetapi struktur belanja masih didominasi operasional rutin. Jika ingin melompat lebih jauh, kita harus memperkuat belanja produktif dan investasi pengembangan,” ujarnya saat membuka raker 2026, Kamis (12/2/2026).
Menurut Mujiburrahman, model pengelolaan BLU tidak cukup hanya menjaga stabilitas operasional, tetapi harus bergerak menuju ekspansi produktif berbasis optimalisasi aset dan keunggulan institusi.
Resiliensi BLU, kata dia, berarti kampus memiliki daya tahan finansial, fleksibilitas operasional, serta sumber pendapatan yang terdiversifikasi dan berkelanjutan.
Baca juga: Mahasiswa UIN Ar-Raniry Bisa Ikut Program Student Exchange ke UNISSA Brunei
Target masuk 500 besar Asia tertuang dalam Rencana Induk Pengembangan 2015–2039, khususnya tahap III periode 2025–2029. Sasaran tersebut selaras dengan Renstra 2025–2029 yang menekankan peningkatan daya saing institusi, mutu tridharma, dan tata kelola menuju universitas bereputasi internasional.
Dalam roadmap 2025–2029, UIN Ar-Raniry menargetkan kontribusi sektor bisnis mencapai 20 persen dari total pendapatan institusi. Strategi yang ditempuh meliputi optimalisasi aset dan pengembangan unit usaha berbasis profesionalisme serta manajemen risiko.
Program prioritas yang disiapkan antara lain penguatan klinik utama dan layanan kesehatan terpadu, pengembangan Ar-Raniry Store dan lini produk komersial, revitalisasi asrama mahasiswa berbasis layanan bisnis, pembentukan pusat pelatihan dan Lembaga Sertifikasi Profesi, pengembangan lab school dan rencana rumah sakit pendidikan, serta transformasi digital sistem bisnis dan pemasaran.
Kepala Pusat Pengembangan Bisnis UIN Ar-Raniry, Hendra Syahputra, mengatakan diversifikasi pendapatan menjadi kunci ketahanan institusi di tengah dinamika pembiayaan pendidikan tinggi.
Ia menyebut aset yang dimiliki harus dikelola secara produktif, akuntabel, dan terintegrasi dengan visi akademik. Penguatan kemandirian juga menyasar tata kelola, sistem digital, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pendekatan business continuity management.
Di sisi lain, akselerasi rekognisi global dikawal melalui penguatan regulasi internasionalisasi, peningkatan mobilitas mahasiswa dan dosen, pengembangan kelas internasional, serta penguatan posisi dalam pemeringkatan global seperti QS dan Times Higher Education.












