
Komparatif.ID, Peudada– Kecamatan Peudada menetapkan jadwal turun sawah Musim Tanam (MT) 2026 untuk enam desa binaan. Penetapan tersebut dituangkan dalam Surat Nomor 500.6.1/339/VI/2026 yang ditandatangani Camat Peudada, Erry Seprinaldi, S.STP., S.Sos., M.Si., pada 5 Juni 2026.
Keputusan tersebut merupakan tindak lanjut dari Rapat Koordinasi Teknis Turun Sawah yang digelar di Aula Kantor Camat Peudada pada Kamis, 4 Juni 2026. Rapat itu dilaksanakan berdasarkan Undangan Camat Peudada Nomor 400.10/328 tanggal 4 Juni 2026 yang ditujukan kepada enam keuchik dan ketua kelompok tani gampong guna mempersiapkan pelaksanaan teknis tanam serta pengelolaan musim tanam.
Enam desa yang masuk dalam jadwal Brigade Pangan tersebut yakni Gampong Meunasah Baroh, Meunasah Krueng, Meunasah Rabo, Meunasah Tunong, Meunasah Tambo, dan Cot Keutapang.
Berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan, pembukaan pintu air dilakukan pada awal Juni 2026. Pengolahan tanah dijadwalkan berlangsung pada 10 hingga 25 Juni 2026, sedangkan penyemaian benih dilakukan pada 20 hingga 30 Juni 2026. Adapun tanam serentak ditetapkan pada 5 hingga 20 Juli 2026.
Sementara itu, penutupan pintu air direncanakan pada pertengahan September 2026, dengan perkiraan masa panen berlangsung pada akhir September hingga awal Oktober 2026. Untuk kegiatan khanduri blang, gotong royong serta pembersihan saluran, pihak kecamatan meminta agar pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.
Baca juga: PMI Bireuen dan UPD RSUD dr. Fauziah Gelar Donor Darah, Target 200 Kantong
Dalam surat tersebut juga dianjurkan penggunaan sejumlah varietas benih padi unggul, di antaranya Cigeulis, Inpari 32 HBD, Mustajab, Inpari Sidenuk, Ciherang, Inpari 30 Ciherang Sub 1, Situ Bagendit, Mekongga, Mustaban Agritan, dan Suluttan Unsrat.
Keuchik Gampong Meunasah Tambo, Elvi Suryadi, menjelaskan lahan sawah di kawasan tersebut sebelumnya rutin ditanami padi dua kali dalam setahun karena pasokan air dari Brandang Hagu, Mukim Krueng, Kecamatan Peudada, berjalan lancar.
Namun kondisi itu berubah setelah banjir yang terjadi pada 8 Maret 2022 merusak brandang tersebut. Akibatnya, sekitar 523 hektare sawah di 16 gampong mengalami gagal tanam.
Menurut Elvis, kerusakan sepanjang sekitar 200 meter di bagian barat Brandang telah diperbaiki oleh Dinas Pengairan Aceh dengan anggaran Rp20 miliar yang bersumber dari Pokok Pikiran (Pokir) anggota dewan Zulfadli (Abang Samalanga).
Hingga saat ini kerusakan pada bagian timur tersebut belum diperbaiki. Sebagai alternatif untuk mendukung musim tanam tahun ini, para petani mengandalkan program optimalisasi lahan (oplah) yang telah siap dibangun oleh Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bireuen.












