BREAKING
Daerah

35 Hektare Sawah Terdampak di Cot Uno Kembali Digarap

35 Hektare Sawah Terdampak di Cot Uno Kembali Digarap
Helmi, petani di Gampong Cot Uno, Kecamatan Kuala, Bireuen, saat membersihkan sawah miliknya, Jumat (11/9/2026). Foto: HO for Komparatif.ID.

Komparatif.ID, Bireuen— Petani di Gampong Cot Uno, Kecamatan Kuala, Kabupaten Bireuen, mulai kembali menggarap areal persawahan yang terdampak becana. Sekitar 35 hektare sawah yang sebelumnya terdampak banjir direncanakan dibajak kembali untuk ditanami padi.

Helmi Bin M Saleh, petani sawah sekaligus warga Gampong Cot Uno, mengatakan rencana penggarapan kembali sawah tersebut merupakan bagian dari persiapan masyarakat untuk kembali melakukan aktivitas pertanian.

Menurut Helmi, beberapa hari lalu para keuchik yang memiliki areal persawahan di wilayah masing-masing telah mengadakan rapat bersama Camat Kuala. Salah satu hasil pembahasan tersebut berkaitan dengan persiapan pengolahan lahan dan penanaman padi.

Areal persawahan di Cot Uno dan Geudong Alue, Kecamatan Kota Juang, yang lokasinya berdekatan, melaksanakan kenduri pada Sabtu, 12 September 2026. Selanjutnya, pada Minggu, 13 September 2026, masyarakat direncanakan melakukan gotong royong membersihkan saluran irigasi.

Sementara penanaman padi secara serentak direncanakan berlangsung pada 25 September 2026.

Helmi berharap instansi terkait dapat membantu memenuhi kebutuhan pupuk ketika musim tanam berlangsung. Ia juga berharap tersedia bantuan khusus bagi petani yang terdampak banjir, baik untuk biaya membajak sawah, pupuk maupun benih padi.

“Sebelum musibah banjir terjadi, biasanya saya membeli lebih awal pupuk agar tidak sibuk mencari-cari saat dibutuhkan. Tapi saat ini saya tidak memiliki modal lagi, harus bangkit dari nol lagi, solusinya berutang,” ujar Helmi, Jumat (11/9/2026).

Baca juga: Reza Idria Jadi Wakil Rektor III UIN Ar-Raniry, Gantikan Mursyid Djawas

Ia mengatakan dampak banjir tidak hanya dirasakan dari kerusakan lahan, tetapi juga dari meningkatnya pengeluaran rumah tangga akibat tidak dapat memanen padi pada akhir 2025 dan tidak dapat menanam padi pada awal 2026.

Menurutnya, sebelum terjadi gangguan pada musim tanam, kebutuhan beras rumah tangga dapat dipenuhi dari hasil sawah sendiri. Ketika persediaan beras habis, ia masih memiliki padi yang dapat dijemur dan diolah kembali menjadi beras.

“Biasanya saat musim tanam lancar, saya tidak merasakan dampak kenaikan harga beras karena tersedia stok padi di rumah. Saat beras habis, tinggal jemur padi lagi. Tapi beberapa bulan tidak bisa menanam padi sangat terasa dampaknya,” jelasnya.

Sementara itu, Yuraddin, warga Geulanggang Kulam, Kecamatan Kota Juang, mengatakan petani juga mulai berkeinginan kembali menggarap sawah karena ketersediaan air di saluran tersier dan saluran kuarter atau yang biasa disebut saluran cacing sudah tersedia.

Untuk kembali menggarap sawah, Yuraddin menyebutkan biaya membajak lahan, membeli bibit dan pupuk masih dibelanjakan secara mandiri oleh petani.

“Kami tidak menunggu surat edaran turun ke sawah dari dinas terkait, tapi hanya berpedoman pada penyediaan air di saluran,” ujar Yuraddin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *