Monday, 2 November 2026

Komparatif.ID

Situs Berita Aceh Inspirasi Indonesia

Daerah

Sahrial Abadi Penggerak Perbaikan Tajuk Enang-Enang Meninggal Dunia

Sahrial Abadi Penggerak Perbaikan Enang-Enang Meninggal Dunia Sahrial Abadi Berpulang, Jual Tanah Demi Buka Enang-Enang
Sahrial Abadi. Foto: HO for Komparatif.ID.

Komparatif.ID, Bener Meriah– Kabar duka menyelimuti masyarakat Tanoh Gayo. Sahrial Abadi, sosok yang dikenal sebagai penggagas sekaligus penggerak pembukaan kembali akses Tajuk Enang-Enang di Gampong Arul Cincin, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, meninggal dunia pada Senin (2/11/2026) pagi.

Berdasarkan informasi keluarga, jenazah almarhum saat ini berada di salah satu rumah sakit di Kabupaten Bireuen dan direncanakan akan disemayamkan di desa Blang Rakal, Kecamatan Pintu Rime Gayo.

Sebelum meninggal dunia, Sahrial Abadi diketahui tengah berjuang melawan penyakit serius, yakni tumor otak dan paru-paru.

Nama Sahrial Abadi dikenal luas setelah ia menginisiasi upaya membuka kembali akses Tajuk Enang-Enang yang terputus akibat longsor. Jalan tersebut merupakan bagian dari jalur lintas tengah nasional Bireuen–Takengon yang memiliki peran penting bagi masyarakat di kawasan dataran tinggi Gayo.

Jalur itu sebelumnya tidak dapat dilalui setelah banjir dan longsor pada 26 November 2025. Terputusnya akses membuat warga harus menempuh jalan alternatif yang lebih jauh dan kondisinya tidak mudah dilalui.

Melihat kondisi tersebut, Sahrial yang pernah menjabat sebagai Mukim Pintu Rime Gayo selama dua periode merasa terpanggil untuk bertindak. Bersama rekannya, Mus Musliadi, dan sejumlah warga, ia menggagas pembersihan material longsor yang menutupi kawasan Tajuk Enang-Enang.

Keputusan itu bukan tanpa risiko. Sahrial bukan seorang insinyur yang memiliki keahlian khusus dalam pembangunan jembatan. Namun, kepeduliannya membuatnya berani memulai pekerjaan dengan kemampuan dan sumber daya yang tersedia.

Ia bahkan mengawali pembiayaan pekerjaan dengan menjual tanah miliknya. Sahrial menjual satu rante tanah miliknya seharga Rp15 juta untuk membiayai operasional alat berat dan mobil pengangkut material.

“Modal awal saya jual tanah di gampong satu rante seharga Rp15 juta. Itu hanya cukup membiayai operasional alat berat selama dua hari dan mobil dump truck pengangkut material,” ujar Sahrial saat itu.

Baca juga: Warga Buka Kembali Tajuk Enang-Enang Bener Meriah Secara Swadaya

Karena biaya yang dibutuhkan tidak sedikit, upaya tersebut kemudian dilanjutkan melalui penggalangan donasi. Dukungan masyarakat dan sejumlah konten kreator yang mengangkat kondisi Enang-Enang turut membantu mengumpulkan dana lebih dari Rp1 miliar.

Berkat kerja bersama dan dukungan berbagai pihak, akses yang sebelumnya terputus akhirnya kembali dapat dilalui masyarakat. Upaya tersebut mendapat perhatian luas, bahkan mengundang kedatangan sejumlah pejabat pemerintah dan tokoh nasional ke kawasan Enang-Enang.

Di balik perjuangannya, Sahrial juga dikenang karena sikapnya ketika menerima tawaran untuk menunaikan ibadah umrah sebagai bentuk apresiasi atas kepeduliannya. Ia menolak tawaran tersebut dengan alasan masih banyak masyarakat di kawasan pegunungan Aceh yang membutuhkan bantuan setelah bencana.

Dengan penuh haru, ia meminta agar biaya yang dialokasikan untuk umrah diberikan kepada warga yang lebih membutuhkan.

Kini, Sahrial telah berpulang. Namun, inisiatif dan perjuangannya membuka kembali akses Enang-Enang menjadi bagian dari catatan kepedulian terhadap masyarakat Tanoh Gayo.

Kepergian Sahrial meninggalkan duka, tetapi upaya yang pernah ia mulai akan terus dikenang oleh masyarakat yang merasakan manfaatnya.

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *