Selat Malaka dulu dikuasai Aceh. Tapi kini ruang kendali dan ekonominya dikuasai Singapura, Penang, dan Johor. Wamen Komdigi Nezar Patria menyinggung soal itu.
Komparatif.ID, Banda Aceh— Nezar Patria datang ke Halaman Jeda: Ruang Bicara di Batoh, pada Sabtu malam, 6 September 2026. Dia memenuhi undangan sang sahibul bait, Rafly Kande, yang dikenal sebagai seniman musik etnik dengan lagu-lagunya yang berenergi khayali tingkat tinggi.
Langit Kota Banda Aceh telah sepenuhnya mendung, ketika Wakil Menteri Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Nezar Patria, tiba di Halaman Jeda, sebuah ruang terbuka di halaman rumah mantan anggota DPR RI Rafly Kande. Nezar yang setiap pulang ke Banda Aceh selalu hangout di warkop, menyapa sejumlah orang yang menunggu kedatangannya.
Diskusi malam itu berlangsung informal. Rafly menyanyi tiga lagu. Dendang pembuka berjudul Malahayati, sebuah lagu miliknya band ethnic-jazz Keubitbit. Setelah berdendang Rafly bermain dengan dua kata, Malahayati dan Selat Malaka. Dia mengajukan kepada hadirin. Beberapa orang mencoba memberikan makna. Sebagian lain membiarkannya berlalu.
Dari sana diskusi pun mengalir. Nezar Patria diundang duduk di depan hadirin, membelakangi tembok bertuliskan Halaman Jeda: Ruang Bicara.
Begitu Nezar mengambil tempat di depan, antusiasme hadirin meningkat. Rafly “menodong” sejumlah orang untuk bicara. mulai dari Dekan Teknik, Dekan Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala, akademisi dari Universitas Muhammadiyah, anak muda dari dayah dan perguruan tinggi, hingga pembacaan puisi oleh Muhammad Rain.
Nezar ikut membacakan puisi yang ia tulis 2015 berjudul Menghadiri Pengajian Rumi. Puisi tersebut telah tayang di Kompas Minggu, dan masuk dalam kumpulan puisi tunggal Nezar, Kedai Teh Ah Mei.
Hal utama yang mengemuka malam itu perihal digitalisasi dan potensi besar Selat Malaka. Dan Nezar menjawab satu persatu pertanyaan secara santai. Ia lebih banyak memberikan informasi, pandangan, dan apa yang bisa dilakukan, bilamana semua pihak bersepakat ingin mengubah Aceh ke arah lebih baik.
Selat Malaka, kata Nezar—dan tidak ada yang membantahnya—merupakan anugerah geografis bagi Aceh. ketika Malaka jatuh pada 1511 setelah tak mampu mengalahkan Portugis yang merangsek masuk, Selat Malaka menjadi kontestasi tiga kerajaan (negara) Aceh, Pahang, dan Johor. Mereka melakukan perlawanan terhadap Portugis yang memiliki kekuatan tempur hebat. Mereka bersatu untuk mengusir militer Peringgi yang mulai terbiasa makan nasi di Malaka.
Di tengah kontestasi laut kala itu, muncul seorang admiral Kerajaan Aceh Darussalam bernama Malahayati. Namanya harus dalam perang mempertahankan kedaulatan Aceh di Malacca Strait.
Ketika Penang dan Johor kemudian berhasil takluk, tinggallah Aceh yang tak berhenti membuat perhitungan. Aceh menggalang kekuatan luar negeri. membangun aliansi militer dengan Ottoman. Aceh menjalin persatuan dengan Pedir dan Samudra Pasai, demi menggulung Portugis yang semakin dominan.
Aceh di masa itu mampu menjadi kekuatan besar, mampu beraliansi dengan luar negeri, mampu melahirkan kader-kader visioner dan pemberani hingga mampu menjalin komunikasi dengan Inggris. Berbagai perjanjian dibuat. Hingga kemudian Belanda dan Inggris masuk. Mereka membagi Sumatra dengan seenaknya saja.
Abad 21 Aceh masih ada. Penang, Johor, masih ada. Bahkan Singapura telah menjadi raksasa di Selat Malaka. Pulau kecil dan miskin itu, kini menjadi salah satu episentrum ekonomi dunia. Pun demikian Penang dan Johor. Mereka bertiga memberikan pengaruh besar dalam sistem ekonomi dan politik.
Aceh? kita sudah lama tak punya pengaruh apa-apa. Aceh tidak bertumbuh. Kontras dengan masa lalu; Aceh merupakan port of entry bagi kapal-kapal dari berbagai belahan dunia yang melintasi selat sepanjang 500 mil.
“Di Abad 21 kita harus terima kenyataan mereka lebih maju memanfaatkan Selat Malaka,” sebut Nezar Patria yang sangat lama berkhidmat sebagai wartawan di Majalah Tempo.
Baca juga: Menjadi Pemain Penting di Selat Malaka
Berdasarkan data tahun 2025, Berdasarkan data resmi terbaru dari US Energy Information Administration (US EIA), jumlah minyak bumi (termasuk minyak mentah dan produk BBM olahan) yang diangkut melalui Selat Malaka pada tahun lalu (2025) berkisar antara 23,2 juta hingga 24,9 juta barel per hari.
Jumlah tersebut setara dengan 29% dari total seluruh perdagangan minyak maritim global. Dengan jumlah demikian mengukuhkan posisi Selat Malaka sebagai jalur transit minyak mentah dan bahan bakar minyak tersibuk di dunia, melampaui Selat Hormuz.
Belum lagi jumlah kapal yang melintasinya, mulai kargo, kapal tanker, dan lain-lain. Ditambah lagi dengan potensi lain yang ada di dalam dekapan air asin selat.
“Tantangan bagi kita, bagaimana mengambil benefit dari Selat Malaka,” kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) untuk periode 2024 – 2029 tersebut.
Digitalisasi, Selat Malaka, dan Nilai Tambah untuk Aceh
Banda Aceh, kata Nezar, masuk dalam kota mitra nasional Komdigi untuk membangun Garuda Spark Innovation Hub (GSIH). Peluncuran hub digital ini telah dilakukan di Banda Aceh pada 26 Agustus 2026 secara hybrid bersama kota besar lain seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, hingga Papua.Peluncuran penuh ditargetkan pada November tahun ini.
GSIH memiliki tujuan utama yaitu menjadi ruang Menjadi ruang kolaborasi, wadah pertukaran ilmu, serta “rumah” bagi para pelaku startup, inovator, komunitas kreatif, dan talenta digital lokal di Aceh agar bisa berkembang.
“Kenapa Aceh masuk dalam Garuda Spark? Karena kita juga ingin Aceh masuk dalam skema pertumbuhan startup nasional. Menjadi kota latih talenta digital. Artificial intelligence kita harap juga bisa menumbuhkan entrepreneurshipdi Aceh,” harap Nezar.
Kehadiran kecerdasan buatan harus mampu melahirkan value creation di Aceh. pertumbuhan ekonomi Aceh melalui penciptaan nilai (baru) memiliki potensi sangat besar. Ia menyebutkan sebagai contoh hasil pertanian/perkebunan Aceh seperti belimbing dan nilam. Bila nilam telah berhasil dikembangkan menjadi komoditas unggul Aceh, bagaimana dengan belimbing yang saat ini masih kurang mendapatkan perhatian dari pelaku usaha.
Demikian juga potensi Selat Malaka yang begitu besar. Bagaimana dengan kehadiran AI, bisa menghadirkan nilai lebih bagi nelayan dan pelaku usaha kelautan yang berbasis di Aceh.
“Kita butuh value creation. Ini hanya bisa dilakukan oleh entrepreneur. Di sinilah bedan antara entrepreneur dan businessman. Entrepreneur mengubah barang kurang bernilai menjadi lebih bernilai. Sedangkan businessman hanya melakukan kegiatan ekonomi yang telah ada,” katanya.
Kuncinya terlatak pada kolaborasi, pencitaan nilai baru, kesungguhan, dan penyiapan talenta digital yang memiliki kemampuan mumpuni, cita-cita besar, dan tidak mudah menyerah.
Di ujung diskusi, Nezar mengatakan Komdigi bisa menfasilitasi beberapa hal. Dirinya juga bisa membantu memfasilitasi ide-ide kreatif dari Aceh. Kini tinggal seberapa kuat energi dari Aceh untuk menciptakan nilai baru di tengah digitalisasi dunia.
