Komparatif.ID, Bireuen— Penantian masyarakat untuk kembali menggunakan Jembatan Krueng Tingkeum (Jembatan Kuta Blang) di Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen, setelah rusak akibat banjir pada November 2025, berakhir.
Jembatan permanen tersebut mulai bisa digunakan masyarakat usai diresmikan Bupati Bireuen, Ir. H. Muklis ST, bersama stakeholder terkait pada Minggu (20/9/2026).
Peresmian tersebut menandai berakhirnya penggunaan jembatan bailey sebagai akses utama pada lintasan nasional Banda Aceh-Medan. Selama pembangunan duplikasi jembatan Kuta Blang permanen berlangsung, kendaraan yang melintas di jalur tersebut harus menggunakan jembatan darurat dengan sistem buka tutup.
Kondisi itu sebelumnya menyebabkan antrean kendaraan, bahkan masyarakat harus menunggu berjam-jam untuk dapat melintasi jalur nasional yang menjadi salah satu akses utama penghubung Banda Aceh dan Medan.
Ratusan masyarakat turut memenuhi ruas jalan di sekitar lokasi saat peresmian Jembatan Krueng Tingkeum A. Prosesi peresmian juga ditandai dengan peusijuek oleh tokoh ulama setempat.
Baca juga: 3 Jembatan Terdampak Bencana di Aceh Tenggara Rampung Ditangani
Jembatan Krueng Tingkeum A sebelumnya terputus akibat banjir yang menerjang kawasan tersebut pada November 2025 lalu. Untuk menjaga konektivitas masyarakat dan kelancaran arus transportasi, pemerintah langsung bertindak cepat membangun jembatan bailey.
Pembangunan jembatan permanen ini dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2026 melalui penanganan pascabencana Kementerian Pekerjaan Umum (PU), dengan nilai proyek sekitar Rp251 miliar.
Pelaksanaan pembangunan dilakukan PT Adhi Karya (Persero) Tbk bersama kontraktor lokal PT Krueng Meuh.
Jembatan Krueng Tingkeum memiliki panjang 149,7 meter dengan struktur baja girder. Pembangunannya menggunakan metode incremental launching. Metode tersebut digunakan dalam pembangunan jembatan untuk mendukung peningkatan kapasitas sekaligus memperkuat struktur terhadap risiko bencana.
Selain struktur utama, bahu dan pembatas tepi jembatan dibangun menggunakan beton bertulang atau reinforced concrete yang dicor secara monolitik. Struktur tersebut dibentuk menjadi parapet atau dinding pengaman beton pada kedua sisi jembatan dan dilengkapi trotoar pelat beton.
