Tuesday, 27 October 2026

Komparatif.ID

Situs Berita Aceh Inspirasi Indonesia

Opini

Etika Lingkungan Sangat Perlu Hari Ini

Tradisi Khanduri Uteun di Aceh Barat Daya Etika Lingkungan Sangat Perlu Hari Ini
Assauti Wahid, S.Hum., M.A. Wakil Ketua Forum Alumni Sejarah Kebudayaan Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Foto: Dok. Penulis.

Etika lingkungan secara esensial bersifat pluralistik, mencerminkan berbagai nilai dan keyakinan yang berkaitan dengan hubungan sosial dan lingkungan. Tujuan utamanya adalah mendorong perubahan dalam cara-cara yang dilakukan secara bersama-sama maupun perilaku dari setiap individu.

***

Hutan yang mulanya riuh oleh keasrian vegetasi dan keanekaragaman hayati, kini hanya menyisakan lautan arang dan abu yang membisu. Kebakaran hebat yang melahap kawasan hutan hari ini menjadi pengingat pahit betapa rapuhnya ekosistem kita di tengah ancaman kerusakan lingkungan yang kian tidak terkenda.

Hal ini yang membuat saya prihatin untuk melihat bencana yang terjadi akhir-akhir ini. Dalam perspektif etika lingkungan, dan saya tuangkan dalam bentuk tulisan yang singkat.

Kerusakan lingkungan yang terjadi di sekitar kita hari ini bukanlah sekadar bencana alam, melainkan cerminan dari krisis moral manusia. Kerap kali, alam hanya dipandang sebagai komoditas yang siap dieksploitasi demi keuntungan jangka pendek.

Oleh karena itu, penerapannya etika lingkungan sangat perlu ditanamkan secara mendesak, guna membangun kesadaran kolektif bahwa setiap tindakan kita terhadap alam memiliki konsekuensi moril bagi generasi hari ini dan masa depan.

Etika lingkungan merupakan bidang etika yang diterapkan dan berkaitan dengan aspek etis dalam hubungan antara manusia dan alam. Istilah etika lingkungan mencakup beberapa pendekatan yang secara umum dapat dibagi ke dalam dua kelompok utama, yaitu antroposentrisme dan non-antroposentrisme.

Antroposentrisme adalah pendekatan yang menempatkan manusia sebagai pusat dalam menghadapi isu lingkungan, di mana perlindungan alam dilakukan dengan pertimbangan kepentingan manusia.

Antroposentrisme radikal sering dikaitkan dengan pendapat bahwa hanya manusia yang memilki nilai intrinsik, sedangkan alam dianggap hanya memiliki nilai instrumental.

Non-antroposentrisme mencakup berbagai pendekatan yang memiliki kesamaan dalam keyakinan bahwa makhluk-makhluk yang bukan manusia juga memiliki nilai yang tidak bisa direduksi hanya sebagai kepentingan yang bersifat antroposentris.

Baca juga: Pemerintah Kucurkan Rp480 Miliar untuk Tangani Karhutla di 44 Daerah

Pandangan ini sering meninjau kembali apakah kepentingan dan preferensi manusia dapat menjadi dasar yang cukup memadai dalam mengambil keputusan terkait lingkungan, seperti yang diungkapkan oleh Routley pada tahun 1973.

Etika lingkungan secara esensial bersifat pluralistik, mencerminkan berbagai nilai dan keyakinan yang berkaitan dengan hubungan sosial dan lingkungan. Tujuan utamanya adalah mendorong perubahan dalam cara-cara yang dilakukan secara bersama-sama maupun perilaku dari setiap individu.

Etika lingkungan berkembang menjadi disiplin ilmu dan praktik terpisah sebagai respons terhadap kenyataan bahwa krisis ekologis disebabkan oleh kegiatan manusia (Attfield 2017).
Bencana yang terjadi belakangan ini menunjukkan kerusakan hutan yang diperkirakan berlangsung dengan sangat cepat, sedangkan laju perubahan lingkungan seperti hilangnya keanekaragaman hayati, polusi, dan perubahan iklim cukup sulit untuk ditangani.

Para ilmuwan sependapat bahwa isu lingkungan yang kita hadapi saat ini terutama disebabkan oleh tindakan manusia.

Di tengah ketidakpastian ilmu pengetahuan mengenai tingkat bahaya lingkungan, kita tetap harus membuat keputusan yang tidak hanya berdasarkan fakta, tetapi juga dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianut.

Memang, memiliki akses ke informasi yang benar sangat penting dalam membantu masyarakat untuk lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup.

Namun, keyakinan kita terhadap dunia, termasuk keyakinan moral dan nilai-nilai yang kita pegang, memengaruhi cara kita memandang dan mengevaluasi informasi ilmiah tersebut. Etika lingkungan dapat membantu memperluas wawasan ilmiah dengan cara melewati batas-batas sistem keyakinan yang selama ini kita ikuti.

Etika lingkungan menjelaskan intuisi moral tersebut dan mendorong nilai-nilai lingkungan dalam masyarakat yang lebih luas. Hal ini juga menimbulkan beberapa kekhawatiran yang berdampak pada perubahan kebijakan publik.

Misalnya, tanpa lingkungan yang berkelanjutan, sulit mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Melestarikan lingkungan berarti menjaga kondisi kehidupan yang baik bagi manusia maupun makhluk lain di dunia. Lebih lanjut, masalah lingkungan merupakan isu yang melintasi batas negara, dan merupakan tanggung jawab bersama kita untuk menyelesaikannya dengan perspektif global.

Solusi kebijakan yang tepat memerlukan pembatasan kebebasan ekonomi dengan menerapkan prinsip keadilan sosial dan lingkungan.

Etika lingkungan bisa mendorong kita untuk bertindak secara tepat saat menghadapi masa krisis. Etika ini juga dapat menjadi dasar bagi prinsip-prinsip lain dalam pengalokasian sumber daya serta keamanan sosial-ekonomi.

Mengingat pendidikan ekonomi sebagian besar didorong oleh perspektif yang memisahkan penalaran ekonomi dari pertimbangan moral, pelibatan etika lingkungan berpotensi membuka cara berpikir alternatif dalam menghadapi berbagai persoalan kontemporer.

Berlawanan dengan keyakinan umum, isu lingkungan tidak hanya menjadi bahan kritik terhadap teknologi di mana dampak dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dievaluasi, tetapi juga menjadi topik yang dipertimbangkan dari segi etika dan filsafat.

Dengan kata lain, meskipun kemampuan ilmiah dan teknis sangat penting dalam mencari solusi untuk masalah lingkungan, analisis kritis terhadap aspek moral dari hubungan manusia dengan alam juga sangat penting.

Pemeriksaan ini dilakukan dalam rangka etika lingkungan, yaitu sebuah disiplin ilmu filosofis yang secara sistematis menganalisis hubungan-hubungan moral, menjelaskan kepada siapa dan apa sebenarnya tanggung jawab komunitas manusia serta individu, serta berusaha menentukan asal-usul dan alasan pembenaran atas tanggung jawab tersebut.

Saat ini, banyak orang percaya bahwa tindakan manusia yang merusak lingkungan alam dan menguras sumber daya alam merupakan sesuatu yang tidak tepat secara moral.

Jika hal tersebut benar-benar salah, apakah alasan utamanya adalah karena lingkungan yang berkelanjutan sangat vital bagi kelangsungan hidup dan kesejahteraan manusia?

Apakah perilaku tersebut dianggap tidak benar karena lingkungan alam dan/atau komponen-komponennya memiliki nilai intrinsik, sehingga lingkungan tersebut seharusnya dilindungi dengan baik?

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *