Nama PSSB Bireuen pernah menjadi salah satu warna menarik dalam perjalanan kompetisi sepak bola Indonesia pada pertengahan dekade 2000-an. Dengan julukan Laskar Bate Kureng, klub asal Bireuen tersebut tampil penuh semangat ketika bersaing di Liga Djarum Indonesia, khususnya pada musim 2007.
PSSB memperoleh kesempatan tampil di level Divisi Utama setelah meraih Juara 1 Grup Wilayah 1 Divisi I pada musim sebelumnya. Selain meraih tiket promosi ke divisi utama Liga Indonesia sekaligus lolos ke babak 8 besar untuk memperebutkan juara.
Saat itu, PSSB di bawah kepemimpinan Ketua Umum Mustafa A. Geulanggang, yang pada saat itu juga menjabat sebagai Bupati Bireuen. Keberhasilan menembus Divisi Utama pada tahun 2006/2007 merupakan pencapaian tertinggi klub sejak berdiri pada tahun 1970, sekaligus menyejajarkan mereka dengan tim-tim elite Indonesia lainnya saat itu seperti Persija Jakarta, Persib Bandung dan PSMS Medan.
Saat berlaga di divisi 1 Liga Indonesia 2006, PSSB sangat perkasa di Grup Wilayah 1 yang dihuni Persiraja Banda Aceh, PSPS Pekanbaru, PSP Padang, PSKPS Padang Sidempuan, PSBL Langsa, PS. Palembang, PS. Medan Jaya, dan PSBL Bandar Lampung.
Mereka tidak sekadar menjadi pelengkap kompetisi. PSSB justru mampu memberikan perlawanan kepada sejumlah klub yang lebih berpengalaman. Bagaimana tidak, bermain 16 kali, PSSB menang 11 kali, imbang 4 kali, dan hanya 1 kali kalah.
Pada musim 2006, salah satu sosok yang paling mencuri perhatian adalah Suheri Daud. Penyerang tersebut menjadi andalan lini depan PSSB dan tampil produktif sepanjang kompetisi.
Tundukkan Persiraja
Mentalitas PSSB juga terlihat ketika mereka bertandang menghadapi Persiraja Banda Aceh Makassar di Stadion H. Dimurthala Lampineung.
Pada 16 April 2006, PSSB mampu menang atas Persiraja dengan skor 1-0. Hasil tersebut menjadi pencapaian penting bagi PSSB karena Stadion H. Dimurthala Lampineung dikenal sebagai kandang yang sulit ditaklukkan tim tamu.
Suheri mencetak satu gol untuk PSSB kalai itu, produktivitas Suheri pula yang menjadi salah satu alasan PSSB mampu bersaing dengan klub-klub mapan di Grup Wilayah 1.
Lalu pada 25 Juni 2006, PSSB menjamu Persiraja Banda Aceh di Stadion Cot Gapu, Bireuen. Di hadapan pendukungnya, PSSB tampil luar biasa dan menang 2-0. Dua gol dicetak Afrizal dan Erik Saputra, masing-masing pada menit ke 26 dan 62.
Baca juga: Lepas PSSB U-13, Bupati Bireuen Cerita Perjuangan Membiayai Laskar Batee Kureng
Stadion Cot Gapu kemudian menjadi salah satu kekuatan utama PSSB. Dukungan publik PSSB membuat lawan harus bekerja keras ketika menghadapi Laskar Bate Kureng di kandangnya. Bahkan, PSSB dikenal sulit ditaklukkan di stadion tersebut
Berkutat di Papan Bawah
PSSB memang belum mampu bersaing pada musim debutnya di Divisi Utama 2007. Dalam klasemen Wilayah Barat pada fase kompetisi 2007, PSSB lebih banyak berjuang di papan bawah dan hanya mencatat 6 kali menang, 6 kali seri, serta 22 kali kalah dari 34 pertandingan.
Pada akhirnya, PSSB menutup musim 2007 di posisi juru kunci. Meski demikian, musim tersebut menjadi prestasi penting bagi PSSB.
Memasuki Liga Djarum Indonesia 2008, PSSB tampil lebih percaya diri. Mereka ditangani Anwar, yang kemudian membawa tim tersebut menunjukkan performa kuat, khususnya ketika bermain di kandang.
Pada akhir kompetisi, mereka finis di posisi ke-12 klasemen akhir grup barat dari 15 peserta.
Salah satu kemenangan epik saat PSSB Bireuen berhasil menundukkan Persisam Putra Samarinda 3-0 dalam laga sengit Divisi Utama Liga Indonesia yang berlangsung pada bulan Agustus 2008 di Stadion Cot Gapu.
Meski Persisam Putra merupakan tim papan atas bertabur bintang di musim itu, keangkeran Stadion Cot Gapu berhasil meredam kekuatan tim Elang Borneo dan memberikan poin penuh bagi kubu PSSB Bireuen di hadapan sekitar 10.000 penonton.
Pertandingan klasik ini dikenang karena menyajikan permainan bertensi tinggi dan menjurus keras dari kedua belah pihak.
Bertumpu pada Pemain Lokal Asli Daerah
Kekuatan PSSB Bireuen secara historis memang selalu bertumpu pada talenta pemain lokal asli daerah. Bireuen memiliki reputasi sebagai salah satu lumbung pesepak bola berbakat di Aceh.
Sebut saja gelandang bertahan Zulfiandi. Ia merupakan pilar penting dari generasi emas Timnas U-19 yang menjuarai Piala AFF U-19 pada tahun 2013 di bawah asuhan Indra Sjafri, serta menjadi andalan di Timnas Senior pada masanya.
Ada juga Syakir Sulaiman Gelandang Timnas U-23 Indonesia (2013–2014) serta Pemain Muda Terbaik Liga Super Indonesia 2013.
Sebelum Zulfiandi dan Syakir, PSSB juga memiliki nama seperti Iskandar Jalil. Legenda sepak bola Aceh dari era lawas yang dihormati sebagai maestro lapangan tengah asal Bireuen yang juga pernah merasakan seragam Timnas Indonesia.
Perpaduan pemain lokal dan talenta daerah serta dukungan suporter membuat PSSB menjadi salah satu klub yang menarik perhatian di Liga Indonesia.
Berakhirnya Era PSSB Bireuen
Waktu berjalan, kejayaan itu perlahan meredup hingga nama PSSB harus lama vakum dari kompetisi nasional.
Sayangnya, perjalanan PSSB di kompetisi nasional tidak berlangsung panjang. Setelah berhasil promosi ke kasta tertinggi, performa tim Kota Juang perlahan menurun akibat inkonsistensi performa dan mulai dilanda krisis keuangan pada musim-musim berikutnya, hingga akhirnya harus berkompetisi di kasta bawah. PSSB kemudian vakum dan tidak lagi berkiprah di kompetisi nasional untuk beberapa waktu.
Meski demikian, periode 2006/2007 tetap menjadi bagian penting dalam sejarah sepak bola Bireuen. PSSB telah membuktikan bahwa klub dari kecamatan mampu bersaing, mengalahkan klub-klub besar, bahkan membuat Stadion Cot Gapu (kini Ruang Terbuka Hijau) menjadi salah satu tempat yang ditakuti lawan.
Kisah PSSB pada era tersebut pun terus dikenang sebagai salah satu periode emas sepak bola Bireuen—masa ketika nama PSSB Bireuen mampu berkibar dan salah satu kekuatan sepak bola yang sangat disegani di pulau Sumatera.
Saat itu, Stadion Cot Gapu yang berkapasitas 15.000 penonton selalu bergemuruh menjadi saksi bisu saat tim-tim raksasa sekelas Persib Bandung, Persija Jakarta, hingga PSMS Medan harus bertandang ke Bireuen.
Harapan Itu Masih Ada
Setelah sempat absen panjang dan mengalami pasang surut akibat kendala finansial serta alih fungsi Stadion Cot Gapu, kini PSSB Bireuen di bawah Ketua Umum Mustafa A. Geulanggang menolak untuk sepenuhnya mati.
Klub ini terus merajut asa baru dengan berfokus pada kompetisi kelompok umur, seperti keikutsertaan aktif tim PSSB U-13 di ajang Piala Soeratin tingkat regional.
Sebagai langkah awal PSSB wajib memulai perjalanan dari Liga 4 tahun 2027 dengan target promosi secara bertahap hingga kembali tampil di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Kebangkitan PSSB bukan hanya soal membentuk sebuah tim sepak bola. Lebih dari itu, PSSB adalah identitas, kebanggaan, dan simbol persatuan masyarakat yang selama bertahun-tahun merindukan atmosfer kompetisi nasional kembali hadir di Kabupaten Bireuen. Sepakat ya.




