Friday, 16 October 2026

Komparatif.ID

Situs Berita Aceh Inspirasi Indonesia

Wisata

Bustanussalatin, Taman Raja yang Kini Jadi Tempat Berkumpul Warga

Bustanussalatin, Taman Raja yang Kini Jadi Tempat Berkumpul Warga
Taman Bustanussalatin. Foto: Komparatif.ID/Zikril Hakim.

Komparatif.ID, Banda Aceh– Menjelang sore, suasana di Taman Bustanussalatin mulai ramai. Anak-anak berlarian di area taman, sejumlah keluarga duduk santai menikmati semilir angin, sementara wisatawan sibuk mengabadikan momen dengan latar bangunan megah yang berdiri di tengah kawasan tersebut.

Di jantung Kota Banda Aceh, taman ini menjadi salah satu ruang publik yang paling digemari warga maupun pelancong.

Bustanussalatin tidak hanya menawarkan ruang terbuka yang nyaman, tetapi juga menyimpan jejak sejarah panjang Kesultanan Aceh. Taman kota yang juga dikenal sebagai Tamansari ini menyuguhkan ketenangan dan beragam aktivitas tanpa mengharuskan pengunjung merogoh kocek dalam-dalam.

Lokasinya strategis, tepat di seberang Kantor Wali Kota Banda Aceh di Jalan Tengku Abu Lam U, dan hanya berjarak sekitar 100 hingga 200 meter dari Masjid Raya Baiturrahman, ikon kota ini. Dari berbagai penjuru kota, taman ini mudah dijangkau.

Di sekelilingnya terdapat sejumlah destinasi populer lain, seperti Museum Tsunami, Peutjoet Kerkhof, dan Museum Aceh, sehingga kunjungan ke taman dapat dipadukan dengan wisata sejarah dalam satu hari.

Taman yang berada di kawasan Taman Sari ini merupakan bagian dari satu kompleks bersejarah bersama Masjid Raya Baiturrahman, Krueng Daroy, Pinto Khop, Rumoh Aceh, dan Gunongan.

Perpaduan nilai sejarah dengan suasana perkotaan modern menjadikan kawasan ini layak masuk daftar kunjungan saat berada di Banda Aceh. Taman Sari sendiri sudah ada sejak abad ke-17.

Sejarawan Aceh, Tarmizi A. Hamid, menjelaskan nama Bustanussalatin diambil dari karya ulama besar Aceh, Syekh Nuruddin Ar-Raniry. Dalam bahasa Melayu klasik, nama itu berarti “Taman Raja-Raja”.

“Dulu namanya tetap Taman Sari, bukan Bustanussalatin. Nama Bustanussalatin sendiri berasal dari naskah karya Syekh Nuruddin Ar-Raniry yang berarti Taman Raja-Raja,” kata Tarmizi.

Pada masa Kesultanan Aceh, kawasan ini menjadi tempat bersantai bagi keluarga kerajaan. Kedekatannya dengan Gunongan memperkuat fungsinya sebagai ruang rekreasi bagi sultan dan para putri.

Seiring perkembangan zaman, kawasan tersebut direvitalisasi oleh Pemerintah Kota Banda Aceh dan sejak 2017 difungsikan sebagai ruang publik yang dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat.

Tak banyak yang tahu bahwa sebelum dikenal sebagai Bustanussalatin, kawasan ini lebih dulu populer dengan nama Taman Ghairah, kemudian berganti menjadi Taman Sari.

Aktivitas di taman ini beragam. Pengunjung bisa bersantai dengan dukungan fasilitas internet gratis, menikmati area taman, atau mengajak anak bermain di aneka wahana yang tersedia. Taman ini juga sering menjadi lokasi pameran seni lokal, pertunjukan musik akustik, dan bazar kuliner.

Berbagai acara itu tidak hanya menambah keramaian, tetapi juga menjadi sarana mengenalkan kekayaan budaya dan kuliner Aceh kepada khalayak lebih luas. Sejumlah komunitas, mulai dari pesepeda, pegiat fotografi, hingga pencinta tanaman, juga kerap berkumpul di sini.

Salah seorang pengunjung, Munira, mengaku sengaja memilih Bustanussalatin sebagai tempat santai bersama rekan-rekannya. Selain lokasi yang strategis, menurutnya suasana taman nyaman dan asri berkat pepohonan rindang.

“Karena lokasinya di tengah kota, jadi nggak jauh-jauh kali sama rumah dan kampus, tempatnya juga asik,” ujarnya.

Dengan beragam daya tarik tersebut, Bustanussalatin kini tak sekadar tempat melepas penat. Taman ini menjadi ruang pertemuan warga sekaligus pintu masuk bagi wisatawan untuk mengenal sejarah Banda Aceh.

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *