Home News Internasional Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei Dipilih Sebagai Pemimpin Revolusi Islam

Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei Dipilih Sebagai Pemimpin Revolusi Islam

Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei Dipilih Sebagai Pemimpin Revolusi Islam
Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei. Foto: Morteza Nikoubazl.

Komparatif.ID, Teheran— Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei, dipilih oleh Majelis Pakar Iran sebagai Pemimpin Revolusi Islam, menggantikan Ayatolah Seyed Ali Khemenei yang gugur akibat serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran.

Dipilihnya Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Revolusi Islam, menandakan bahwa Republik Islam Iram belum memberikan ruang kompromi dengan Amerika Serikat dan Israel.

Ayatolah Seyed Mojtaba Khamenei dipilih oleh Majelis Pakar Iran dengan pertimbangan yang matang. Dipilihnya sang revolusioner pengikut setia Ali Khamenei pada Minggu, 8 Maret 2026, karena telah membuktikan diri sebagai sosok yang taat, revolusioner, dan setia pada jalan revolusi Republik Islam Iran.

Dikutip dari Tasnim News—salah satu kantor berita semi resmi Iran yang merupakan bagian dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Dewan Pakar Iran segera bergerak memilih pemimpin baru di tengah bombardier Amerika Serikat dan Israel. Para dewan pakar tidak membuang waktu untuk memenuhi tugas konstitusionalnya.

Dewan tersebut juga bertugas mengawasi kegiatan pemimpin Revolusi Islam.

Biodata Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei

Mojtaba Hosseini Khamenei lahir pada 8 September 1969.Ia merupakan politikus dan ulama Syiah di Iran yang sangat terkenal. Pada 8 Maret 2026, dia dipilih sebagai Pemimpin Tertinggi Ketiga Iran, menggantikan Pemimpin Tertinggi Kedua, Ali Khamenei.Mojtaba merupakan putra kedua Ali Khamenei.

Lahir di Mashhad dalam keluarga Khamenei keturunan Azeri-Persia, ia berusia sembilan tahun ketika ayahnya muncul sebagai tokoh terkemuka dalam Revolusi Iran.

Ia menerima pendidikan awal di Sardasht dan Mahabad, dan lulus SMA dari Teheran; setelah itu, ia mempelajari teologi Islam di bawah bimbingan ayahnya dan Mahmoud Hashemi Shahroudi.

Ia bergabung dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada tahun 1987 dan bertugas dalam Perang Iran-Irak. Pada tahun 1999, ia melanjutkan studinya di Qom untuk menjadi seorang ulama, dan kemudian bergabung dengan Seminari Qom sebagai guru teologi. Ia mengambil alih kendali milisi sukarelawan paramiliter Basij pada tahun 2009.

Baca juga: Majelis Ahli Pilih Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran

Setelah pembunuhan ayahnya dalam perang Iran 2026, Mojtaba terpilih sebagai penggantinya oleh Majelis Pakar Iran. Ia sebelumnya telah dikenai sanksi oleh Departemen Keuangan Amerika Serikat pada tahun 2019 sebagai bagian dari kebijakan mereka untuk memberikan sanksi kepada individu yang terkait dengan Ali Khamenei.

Dalam ideologi politik dan yurisprudensi, ia dianggap sebagai salah satu tokoh paling garis keras di antara para penganut prinsip Iran, dan memiliki hubungan dekat dengan beberapa “ulama yang paling ekstrem secara ideologis” menurut sebuah laporan dari Atlantic Council.

Para analis umumnya melihatnya lebih mendukung pengembangan program senjata nuklir Iran daripada ayahnya, sehingga mendukung penafsiran ulang fatwa Ali Khamenei terhadap senjata nuklir.

Mojtaba Hosseini Khamenei merupakan anak kedua dari Ali Khamenei dan Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh. Lima saudara kandungnya adalah Mostafa, kakak laki-lakinya, Masoud dan Meysam, adik laki-lakinya, dan Boshra dan Hoda, adik perempuannya.

Kakek dari pihak ayahnya, Javad Khamenei, adalah seorang ulama dan cendekiawan Syiah yang miskin dan berpenghasilan rendah tetapi sangat dihormati.

Khamenei memiliki keturunan Persia dengan akar Azerinya dapat ditelusuri kembali ke Khamaneh, sebuah kota kecil di Azerbaijan Timur tempat asal nama keluarganya, dan ia juga memiliki akar jauh dari Tafresh.

Keluarganya menelusuri garis keturunannya hingga Husain bin Ali, putra Ali bin Abi Thalib, Imam Syiah pertama, dan cucu Nabi Muhammad dari pihak ibu, oleh karena itu nama tengah Khamenei adalah Hosseini.

Pada usia 17 tahun, setelah menamatkan pendidikan menengahnya, ia bergabung dengan Korps Garda Revolusi Iran.

Seyed Mojtaba ditempatkan di Batalyon Habib bin Muzahir. Selama berkarir sebagai prajurit militer, Seyed Mojtaba ikut dalam beberapa operasi, termasuk Operasi Beit Al-Muqaddas, Operasi Dawn, dan Operasi Mersad.

Sumber: Laporan ini disitat dari Kantor Berita Tasnim, serta sumber-sumber lainnya yang kredibel.

Previous articleIkmali Gelar Bukber dan Santuni Anak Yatim
Next articleRamadan di Aceh Bikin Mahasiswa Palestina USK Merasa Punya Rumah Kedua

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here