Tuesday, 3 November 2026

Komparatif.ID

Situs Berita Aceh Inspirasi Indonesia

Daerah

Kisah Abon Dolah, Ulama Jeunib yang Warisi Qadhi Nanggroe dari Sang Ayah

Kisah Abon Dolah, Ulama Samalanga yang Mengemban Amanah Qadhi Nanggroe
Tgk. Abdullah bin Tgk. Muhammad Saleh (Abon Dolah). Foto: HO for Komparatif.ID.

Komparatif.ID, Bireuen– Tgk. Abdullah bin Tgk. Muhammad Saleh atau yang lebih dikenal dengan sapaan Abon Dolah mengemban amanah sebagai Qadhi Nanggroe GAM usai menerima titipan jabatan tersebut dari ayahnya, almarhum Tgk. Muhammad Saleh.

Amanah itu disampaikan melalui abangnya, almarhum Tgk. Abdul Aziz bin Tgk. Muhammad Saleh, yang dikenal sebagai pimpinan Dayah Ma’hadal Ulum Diniyyah Islamiyyah (MUDI) Mesra, Gampong Mideun Jok, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen.

Kisah tersebut disampaikan Tgk. Muhammad Qasem bin Tgk. Abdullah, putra Abon Dolah yang saat ini memimpin Dayah Darul Atiq Putra. Ia menjelaskan, penunjukan ayahnya sebagai Qadhi Nanggroe bukan berlangsung secara langsung, melainkan melalui perantara Abon Aziz yang menyampaikan amanah keluarga tersebut.

Dalam catatan sejarah Kesultanan Aceh, Qadhi Nanggroe atau Qadhi Malikul Adil merupakan otoritas peradilan tertinggi. Jabatan ini memiliki peran penting dalam memimpin pelaksanaan hukum syariat sekaligus menjadi tempat terakhir bagi masyarakat untuk mencari keadilan atau mengajukan banding.

Pada masa perjuangan Darul Islam-Tentara Islam Indonesia (DI/TII), posisi Qadhi Nanggroe dipimpin oleh almarhum Tgk. Muhammad Saleh. Setelah itu, kepemimpinan Qadhi dalam Gerakan Aceh Merdeka dilanjutkan oleh putranya, Abon Dolah.

Abah Kasem, sapaan akrab Tgk. Muhammad Qasem, menceritakan dirinya pernah bertemu dengan sang ayah di Gampong Lheue Barat, Kecamatan Jeunieb, pada masa proses perdamaian antara Republik Indonesia dan GAM yang dimediasi Henry Dunant Centre for Humanitarian Dialogue (HDC) pada 2002.

Dalam pertemuan tersebut, ia sempat menanyakan alasan ayahnya bergabung dalam barisan perjuangan Aceh Merdeka.

“Kenapa Abon bergabung ke dalam organisasi Aceh Merdeka, apa alasannya? Jawabannya, jika sudah ditanyakan maka akan Abon jelaskan,” ujar Abah Kasem mengingat percakapannya dengan sang ayah, Minggu (2/11/2026).

Ia juga mengungkapkan cerita mengenai keinginan Abon Dolah untuk merantau ke Arab Saudi. Sebelum itu, Abon Dolah beberapa kali meminta izin kepada abangnya, Abon Aziz, tetapi permintaan tersebut belum mendapat persetujuan.

Abon Aziz saat itu beralasan tidak ada orang yang dapat menggantikannya untuk berdakwah dan mengajari masyarakat sekitar apabila Abon Dolah pergi. Namun, Abon Dolah terus menyampaikan keinginannya untuk merantau karena banyak warga Aceh telah menetap di Arab Saudi.

“Tgk. Abang, izinkan saya pergi merantau ke Arab Saudi, karena di sana sudah banyak warga Aceh menetap. Jawabannya, jangan pergi, tidak ada pengganti saya,” tutur Abah Kasem mengulang percakapan tersebut.

Baca juga: Ziarah ke Pusara Abon Dolah Jeunib di Belantara Rimba Ilahi

Dalam kesempatan itulah Abon Aziz menyampaikan amanah almarhum ayah mereka, Tgk. Muhammad Saleh, bahwa tanggung jawab sebagai Qadhi Nanggroe dititipkan kepada Tgk. Abdullah bin Tgk. Muhammad Saleh. Amanah tersebut diharapkan tetap dijalankan sebagaimana pernah dilaksanakan oleh ayahnya.

Selain menceritakan perjalanan amanah Qadhi Nanggroe dalam keluarganya, Abah Kasem juga mengungkapkan hubungan darah keluarganya dengan para pejuang Aceh yang gugur dalam pertempuran melawan penjajah.

Ia menyebut para syuhada delapan yang gugur di Cot Bate Geulungku, Kecamatan Simpang Mamplam, memiliki hubungan kekerabatan dengan kakeknya, almarhum Tgk. Muhammad Saleh.

Menurut cerita keluarga yang disampaikan Abah Kasem, pada hari pertempuran melawan pasukan Marsose Belanda tersebut, kakeknya bahkan harus ditahan oleh sejumlah orang agar tidak ikut bertempur.

Setelah mengetahui saudara-saudaranya gugur, sang kakek ingin ikut berperang. Namun, keinginannya dicegah oleh teman-temannya karena kondisi emosinya saat itu.

“Setelah tahu saudaranya telah syahid, kakek saya ingin berperang juga, tapi dilarang karena beliau sedang emosi, sambil dijelaskan oleh teman-temannya perjuangan masih panjang,” ungkap Abah Kasem.

Ia juga menyebut keluarganya memiliki hubungan darah dengan para syuhada 44 yang gugur saat melawan tentara Jepang di Gampong Lheue Simpang, Kecamatan Jeunieb.

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *