Suster Ngesot menjadi tema sejumlah film horor di Indonesia sejak tahun 2000-an. Belum ada sineas yang bersedia mengangkat urban legend Suster Ngesot dari cerita yang sebenarnya.
Terdapat empat sinema Indonesia yang mengangkat Suster Ngesot sebagai topik utama film. Pertama, Suster Ngesot The Movie (2007), Suster N: Dendam Suster Ngesot (2007), Kutukan Suster Ngesot (2009), dan The Secret: Suster Ngesot Urban Legend (2018).
Secara umum cerita yang disajikan, hantu perempuan tersebut digambarkan sebagai arwah gentayangan yang pemarah, jahat, dan menghabisi manusia secara acak.
Di antara beberapa cerita tentang latar belakang Suster Ngesot, yang paling menyayat hati yaitu kisah Puan Lentera Lorong yang diangkat oleh akun Instagram @gaibvisual.
Pada suatu masa di era Kolonial Belanda masih bercokol di Nusantara. Peristiwa tersebut terjadi di sebuah rumah sakit milik Pemerintah Hindia Belanda. Kala itu sebuah wabah sedang melanda Jawa—mungkin sebuah daerah di Jawa. Wabah yang sangat mengerikan.
Banyak warga yang dievakuasi ke rumah sakit tersebut. Para dokter, suster, dan petugas lainnya sibuk menangani pasien yang terus berdatangan dari berbagai penjuru. Petugas kelelahan. Korban jiwa terus berjatuhan.
Anak-anak pribumi yang ikut terjangkit ditempatkan di sebuah bangsal bawah tanah. Penyakit yang menyerang mereka, mengharuskan dilakukan isolasi.
Hingga pada suatu hari, semua angkat tangan. Penguasa memilih mengamankan diri ke tempat aman. Dokter Eropa melarikan diri. Anak-anak yang sedang dirawat di bangsal bawah tanah, dikurung dalam kegelapan. Tak seorang pun boleh membukanya. Para tentara kolonial mengendalikan penuh keadaan.
Puan Lentera Lorong, demikian seorang suster lokal disebut. Dia yang setiap malam berjalan di koridor rumah sakit sembari menjinjing sebuah lentera, demi memastikan kondisi para pasien, malam itu menolak pergi.
Baca juga: Toke Din dan Raja Itam Penguasa Lubuk
Sebagai suster lokal, ia memiliki ikatan batin teramat kuat dengan para pasien. Apalagi pada pasien anak-anak yang telah dikunci di bangsal bawah tanah. Ia memegang kunci cadangan.
“Bila orang lain memilih pergi, mungkin karena mereka tak memiliki ikatan apa pun dengan anak-anak itu. Bagaimana dengan aku? Aku adalah saudara mereka. kami berasal dari akar yang sama, dari nilai yang sama,” kata Puan Lentera Lorong, ketika batinnya bergejolak.
Ia memilih bertahan. Ia memutuskan untuk membebaskan anak-anak dari kurungan; dari kematian yang mengerikan; dibiarkan terkurung, lapar, tanpa obat-obatan, dan mati karena kelaparan dan kondisi lingkungan yang bertambah buruk.
Malam itu dia berjalan menuju bangsal bawah tanah. Lentera di tangan, diajukan ke depan sebagai penerang jalan. Dia melangkah dengan hati-hati. Dia mengira tidak ada lagi serdadu yang berjaga. Dia menyangka para serdadu telah pergi, mengingat malam telah merambat menuju pagi.
Para serdadu menemukannya. Mereka tahu di tangan Puan Lentera Lorong memegang kunci cadangan. Malam itu itu kunci dirampas. Tapi Puan melawan. Puan kalah kuat. Seorang suster yang lembut berhadap-hadapan dengan serdadu terlatih bertempur dan bertarung.
Tulang paha dan panggulnya dihantam benda tumpul hingga remuk. Ia mengalami crush injury parah. Kakinya sengaja dihancurkan agar tidak bisa berdiri lagi selama-lamanya. Supaya dia tidak bisa melakukan ikhtiar apa pun untuk menyelamatkan anak-anak lokal di ruang bawah tanah.
Tangisan pilu memenuhi koridor rumah sakit. Raungan minta tolong memecahkan keheningan malam. Anjing-anjing yang berada di halaman rumah sakit, melolong panjang. Kelelawar menangkupkan sayapnya, menutup rapat-rapat indera pendengaran, supaya tidak mendengar utuh raungan Puan yang sedang disiksa oleh serdadu.
Tubuhnya yang telah remuk, dibuang ke sudut rumah sakit yang gelap. Ia belum mati kala itu. ketika tentara melangkah meninggalkannya, ia berusaha merangkak, hendak mencapai pintu bangsal bawah tanah yang masih ratusan meter dari tempatnya tersungkur.
Sembari merangkak, ia menangis tersedu-sedu. Sesekali berteriak; mencoba mendapatkan kekuatan baru, demi anak-anak yang sedang menuju kematian menyakitkan di dalam bangsal terkunci.
Ia hanya mampu merangkak beberapa meter. Darah segar yang terus keluar, membuatnya tak mampu bertindak lebih jauh. Setiap detik tersisa, tenaganya semakin menghilang. Ia kemudian pingsan, dan tidak lama kemudian El Maut datang menjemput.
Anak-anak di dalam bangsal satu persatu menutup mata. Tangisan mereka terkurung di dalam gedung.Mereka tidak pernah tahu apa yang telah terjadi di luar. Kegelapan membuat mereka tak pernah tahu bila telah sekian hari matahari silih berganti terbit dan tenggelam. Mereka tidak pernah tahu Puan yang pernah menyuntikkan obat ke tubuh mereka, telah mati mengenaskan, demi mencoba menyelamatkan anak-anak malang itu.
Akun @gaibvisual menulis, “Batinnya yang membeku masih terjebak pada janji untuk membawa cahaya bagi mereka yang ditinggalkan.”
Hmmm, janji itu tak tunai, tapi kita mengenalnya sebagai sosok menyeramkan yang gemar menghadirkan pengalaman horor dalam setiap cerita tentangnya.




