Monday, 26 October 2026

Komparatif.ID

Situs Berita Aceh Inspirasi Indonesia

Featured

Sejarah Berdirinya Universitas Almuslim (Tamat)

Sejarah Berdirinya Universitas Almuslim (Part 8)
Amiruddin Idris. Foto: HO for Komparatif.ID.

Universitas Almuslim berdiri pada 15 Januari 2003, berdasarkan Surat Keputusan  Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor: 02/D/O/2003. Ketika diresmikan pada 5 September 2003, seluruh kalangan berbahagia. Bukan hanya para pengurus Yayasan Almuslim Peusangan, tapi seluruh tokoh pendidikan, politisi, pelaku ekonomi dari berbagai penjuru mata angin, memberikan ucapan selamat.

Di tengah kegembiraan, timbul sebuah kekhawatiran. Api dalam sekam dari kelompok yang tidak menginginkan Drs. Amiruddin Idris kembali ke Almuslim, masih menyala di bawah tanah. Mereka bekerja keras supaya Wakil Bupati Bireuen tersebut, segera angkat koper [lagi] dari kampus yang ikut ia rintis sejak 1984.

Pun demikian, pemilihan rektor tidak bisa ditunda lagi. Sebagai sebuah universitas, lembaga tersebut harus secepatnya memiliki rektor definitif.

Panitia persiapan rapat senat pemilihan Rektor Universitas Almuslim pun disusun. Di tengah kerja keras panitia mempersiapkan rapat senat, muncul dua nama sebagai bakal calon Rektor Universitas Almuslim. Mereka adalah Asnawi Hasan dan Bukhari.

Melihat masih ada kelompok yang tidak menginginkan dirinya di Almuslim, Amiruddin Idris tidak mendaftarkan diri sebagai bakal calon rektor. Setiap kali ada yang bertanya mengapa dia tidak mendaftar, dirinya mengatakan Universitas Almuslim sudah lahir. Tugasnya sudah selesai. Bayi yang telah lama diidam-idamkan, kini telah hadir dengan tubuh sehat, ia sebagai salah satu “wali” sudah merasa lebih dari cukup.

BACA: Sejarah Berdirinya Universitas Almuslim (Part 8)

Apalagi bila ia mengenang perjuangan M.A. Jangka dkk di masa lalu. Ia merasa sudah menjalankan salah satu cita-cita besar para perintis. Satu lagi yang belum, yaitu mendirikan pesantren di Almuslim, sesuai dengan aspirasi para pendiri Jamiah Almuslim dan para tokoh Peusangan.

Melihat Amir tidak mendaftar, sejumlah tokoh pun bersikap. Universitas Almuslim baru saja lahir. Butuh asuhan dari sosok yang sangat paham mengelola sebuah lembaga pendidikan tinggi.

Para tokoh yang menginginkan Amiruddin memimpin Universitas Almuslim, menyampaikan bahwa pria itu tidak boleh serta merta meninggalkan universitas tersebut. Bilapun ia harus pergi, saatnya belum tiba.

Permintaan itu membuat Amiruddin Idris luluh. Ia akhirnya mendaftarkan namanya sebagai bakal calon rektor.

Melihat banyaknya dukungan, seorang pengurus menjumpai Amiruddin Idris. Pria itu menyarankan supaya tidak perlu dilakukan pemilihan rektor. Syaratnya, Amir harus menempatkan sejumlah nama sebagai wakil rektor.

Pria berkulit kuning langsat tersebut tentu saja menolak saran tersebut. Dia tidak mau ada pihak yang menveto dirinya. Apalagi yang mencoba menciptakan kondisi dari kalangan yang selama ini membuat dia sangat kesulitan dalam mengelola Perguruan Tinggi Almuslim.

“Jangan memveto saya! Saya tidak mau diatur–atur. Kalau kalian menginginkan jabatan itu, ambil saja!” katanya dengan suara tegas. Sang utusan pun pulang dengan kecewa.

Hari pemilihan pun tiba. Banyak pihak dag-dig-dug jelang pemungutan suara. Semua bertanya-tanya siapakah yang akan menang? Dan ketika hasil pemilihan diumumkan, Amiruddin menyapu bersih dukungan. Dia menang telak atas rivalnya. Asnawi Hasan dan Bukhari terkejut. Kemenangan dengan cara sapu bersih, sungguh keajaiban.

Selesai pemilihan rektor, Amirudin pulang ke rumah. Sorenya seorang dosen di Universitas Almuslim datang ke rumahnya. Sang dosen mengatakan beberapa pihak tidak puas dengan pemilihan rektor yang baru saja selesai dilaksanakan. “Besok akan ada beberapa orang yang mengundurkan diri,” kata sang dosen sembari menyebut beberapa nama.

Amiruddin yang masih sangat lelah, meradang. Dengan suara tinggi dia mengatakan, besok pagi dia akan ke Universitas Almuslim. Dia akan menendang semua orang yang ingin memperkeruh suasana. “Kamu juga! Kalau tidak senang silahkan mundur!” katanya.

Sang dosen gugup. Malam itu dia menginap di rumah Amiruddin. Dosen tersebut tidak berani pulang ke Almuslim.

Besok pagi, ketika Amiruddin tiba di kantor, mesin faximili berbunyi. Selembar faks masuk berisi pernyataan pengunduran diri beberapa orang pengurus universitas.

Mundurnya beberapa orang penting di Almuslim, bukan bermakna persoalan selesai. Masih ada yang tidak senang kepada rektor terpilih, tapi mereka memilih bertahan. Kemungkinan memiliki misi membuat dirinya tidak nyaman dan akhirnya menyerah. Amiruddin mengenal mereka.

Ia pun melakukan langkah politik. Pihak oposisi dia pelajari satu-satu. Kemudian beberapa di antaranya –termasuk yang paling vokal—diberikan jabatan bagus. Tak ada yang menolak. Semuanya menerima SK dengan senyum lebar.

“Salah seorang di antara mereka saya berikan jabatan sebagai Kepala Bagian Akademik. Selanjutnya saya naikkan jabatannya menjadi Kepala Biro Akademik Universitas Almuslim. Ia akhirnya mundur karena tidak mampu melaksanakan tugasnya dengan baik,” kata Amiruddin Idris.

Selama periode pertama memimpin Universitas Almuslim, adik kandung Anwar Idris tersebut menjalankan roda organisasi dengan baik. Meskipun oposisi tetap bergerilya di bawah tanah, tapi gerakan mereka selalu dalam “lensa monitor” Rektor Amir. Kadang ia tersenyum melihat tingkah laku mereka. Terkadang merasa miris. Di dalam jiwanya terpatri satu tujuan; sesuai dengan janji pada suatu masa, bahwa dirinya akan menghibahkan seluruh kemampuannya untuk membesarkan Universitas Almuslim.

Tamat.

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *