Terpilih sebagai Wakil Bupati Bireuen mendampingi Mustafa Glanggang, bukan berarti jalan Drs.Amiruddin Idris mulus di Almuslim. Cita-citanya mendirikan Universitas Almuslim, sempat terganggu karena dia “disingkirkan” dari Yayasan Almuslim Peusangan.
Pada pemilihan pengurus Yayasan Almuslim Peusangan pada periode tersebut, Amiruddin Idris “dikebiri”. Ia tidak diberikan jabatan strategis. Bila pada periode sebelumnya dia dipercaya sebagai Sekretaris YAP, kini dia ditempatkan sebagai anggota Divisi Pendidikan. Namanya ditaruh di nomor urut terakhir pada divisi tersebut.
Melihat dirinya “dibuang”, Amiruddin Idris menarik diri dari upaya pendirian Universitas Almuslim. Dia memilih all out untuk menjalankan tugasnya sebagai Wakil Bupati Bireuen.
Bila sesekali berkunjung ke Almuslim, sekadar mengobati rasa rindu terhadap perguruan tinggi yang ikut ia bangun bersama senior-seniornya di Yayasan tersebut.
Pada suatu hari timbul gejolak. Mahasiswa D-II Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) STKIP Almuslim, tak kunjung mendapatkan izin operasional. Mahasiswa gelisah. Pengelola Yayasan gundah karena setiap hari diprotes oleh mahasiswa.
Di titik puncak kegelisahan, mahasiswa menggelar unjuk rasa. Mereka meminta pertanggungjawaban pihak kampus.
Di tengah tekanan mahasiswa, sebanyak 20 orang pengurus Yayasan bersilaturahmi ke rumah dinas Wakil Bupati Bireuen. delegasi tersebut dipimpin oleh M. Nur Ismail. Ketua Yayasan Ali Ishak berhalangan hadir membersamai rombongan.
Mereka membujuk supaya Amiruddin kembali ke Almuslim. Tapi ia bergeming. Rasa sakit dipermalukan belum sembuh. Sebagai orang yang ikut berdarah-darah membangun Perguruan Tinggi Almuslim, dia merasa apa yang ia terima akhir-akhir ini, tidak dapat ditolerir oleh hati nurani.
Di tengah kondisi dialog yang nyaris deadlock, H. Man Dayah dengan suara agak keras mengatakan, bahwa Amiruddin dikenal luas karena Almuslim. Ia menjadi Wakil Bupati juga karena kampus tersebut. Tidak sepatutnya dia menolak kembali ke kampus.
Kalimat itu menyentuh hati Amiruddin. Ia teringat janjinya dulu kepada diri sendiri, bila kelak terpilih menjadi Wakil Bupati, dirinya akan membangun Almuslim.
Pertemuan malam itu masih menyisakan persoalan di internal. Masih terdapat sebagian pengurus Yayasan yang menolak kepulangan Amiruddin ke kampus. Mereka berdalih tidak boleh rangkap jabatan.
Akibat sengkarut itu, Amiruddin benar-benar hilang dari kampus selama tiga bulan. Ia menepi, tak ingin pulang bila penolakan masih terus berlanjut.
Ali Ishak dilanda dilema. Dia harus berdiri di tengah. Tapi risiko besar mengadang. Bila ia tidak bersikap, masa depan D-II PGSD dan nasib perjuangan melahirkan Universitas Almuslim akan bubar di tengah jalan.
Dengan sikap tegas, ia kemudian mengundang Amiruddin pulang ke kampus. Melalui sepucuk surat ia meminta pria asal Tanoh Mirah, Peusangan, itu kembali.
Setelah terjadinya musyawarah di musalla kampus, Amiruddin diberikan sepucuk surat mandate supaya melanjutkan advokasi masa depan D-II PGSD dan rencana melahirkan universitas.
Mandat itu diterima dengan lapang dada. Dibantu oleh Staf Ahli Bupati Bireuen Azwar Thaib, ke Jakarta, menghadap Profesor Sukamto, M.M., yang merupakan Direktur Dirjen Pendidikan Dasar di Kementerian Pendidikan.
Kepada Sukamto, Amiruddin memperkenalkan Azwar Thaib sebagai Rektor Almuslim. Amiruddin sendiri mengaku sebagai Bupati Bireuen, datang ke sana karena ada persoalan besar di Almuslim. Pada pertemuan kedua, izin penyelenggaraan PGSD Almuslim diterbitkan. Mereka menang dan pulang ke Bireuen.
Selanjutnya, melalui lobi-lobi lanjutan, izin pendirian Universitas Almuslim pun berhasil didapatkan.
tapi sebuah tragedi politik kembali terulang. Pihak Yayasan membuat surat mandat kepada dua orang pengurus menjemput izin pendirian Universitas Almuslim ke Jakarta. Nama Amiruddin tidak dicantumkan. Hal yang lebih menyakitkan, kabar adanya dua orang utusan yang datang menjemput izin, dia terima dari seorang staf Kemendikbud.
Bahkan ketika surat itu akhirnya dibawa pulang ke Almuslim, tidak ada yang memberitahu kepada Amiruddin.
Baca juga: Sejarah Berdirinya Universitas Almuslim (Part 6)
Kali ini kemarahannya meledak. Dia mendamprat Ketua Yayasan Almuslim Peusangan.
“Kukira selama ini Anda adalah orangtua di Almuslim. Rupanya Anda belum tua. Setelah Anda menugaskan saya membantu semua prosesnya, hasilnya diambil oleh orang lain tanpa memberitahukan kepada saya. Jangan permainkan saya, karena saya juga punya batas kesabaran!”
Banyak pihak terkejut, mereka tak mengira Amiruddin bisa marah seperti itu.
Karena kemarahannya sudah meledak, mau tak mau upaya rekonsiliasi harus dilakukan. Mereka kembali berkomitmen kembali ke tujuan awal. Bahwa segenap jerih payah ditujukan untuk melahirkan Universitas Almuslim. Tak ada kepentingan lebih besar dari itu.
Secara khusus Ali Ishak juga meminta maaf. Mereka kembali berangkulan. Ali Ishak, Amiruddin Idris, dan lain-lain sepakat kembali fokus untuk Almuslim.
“Orang Jamiah Almuslim itu punya ciri khas. Dinamika organisasi diselesaikan dengan cara-cara bermartabat. Bila ada yang terlanjur, maka tak segan kembali sembari meminta maaf,” sebut seorang tokoh pada suatu kesempatan.
(Bersambung).


