Lahirnya Universitas Almuslim bukan sekadar karena lobi yang dilakukan oleh Amiruddin Idris. Sebelum izin pendirian universitas diterbitkan, pihak Yayasan Almuslim Peusangan harus melampirkan referensi bank Rp11 miliar.
Sebagai Ketua Yayasan Almuslim Peusangan, Ali Ishak tidak memiliki uang sebesar itu. Almuslim juga tidak memiliki uang dalam jumlah besar. Saat itu tak satupun tokoh di Peusangan mampu menyediakan dana sebesar itu. baik yang pro maupun yang kontra ketika dihadapkan pada fakta; sebelum izin terbit, pihak Yayasan harus melampirkan referensi bank Rp11 miliar.
Ketika tidak ada seorang pun mampu menyanggupi menyediakan referensi bank, Amiruddin Idris memanfaatkan pengaruhnya sebagai Wakil Bupati Bireuen.
Dia mengetahui bahwa setiap tanggal 23 bulan berjalan, Pemerintah Pusat mentransfer Dana Alokasi Umum (DAU) untuk gaji pegawai negeri sipil. Amiruddin melihat hanya itu peluang yang dapat dipergunakan.
Dia pun menyusun rencana sangat detail, tidak bolah ada kekeliruan sedikitpun. Bila terjadi kesalahan, maka dampak besar yang sangat buruk akan terjadi.
Setelah penyusunan rencana selesai dilakukan. Dia menghubungi Kepala Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bireuen. setelah menyampaikan maksud mengapa Amiruddin harus melakukan itu, Kepala BPD Bireuen setuju membantu.
Mereka pun membuat dua lembar cek. Satu lembar uang keluar dan satu lembar uang masuk pada dua hari kemudian.
Pihak BPD membuatkan laporan referensi bank. Menyatakan bahwa pada tanggal tersebut Almuslim memiliki kas Rp11 miliar. Pihak bank tidak menjamin bila dana tersebut akan berada di rekening itu untuk hari-hari selanjutnya.
Baca juga: Sejarah Berdirinya Universitas Almuslim (Part 7)
Setelah referensi bank selesai dibuat, uang yang sebelumnya dipindahkan ke rekening Almuslim, segera ditarik balik ke kas daerah. Bukti bahwa Almuslim memiliki dana Rp11 miliar telah didapat. Amiruddin Idris berangkat ke Jakarta mengurus izin pendirian Universitas Almuslim.
Pihak yang dibuat syok luar biasa tentu saja Bupati Bireuen Mustafa Glanggang. Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tersebut berkeringat dingin ketika mengetahui bahwa Wakil Bupati dan Kepala Bank BPD melakukan atraksi keuangan.
Menanggapi kepanikan Mustafa Glanggang, Amiruddin Idris terkekeh. “Tenang, Pak Bupati. DAU gaji hanya saya pinjam beberapa jam saja. saat ini sudah masuk kembali ke kas daerah,” kata Amiruddin kala itu.
Mustafa Glanggang menyapu keringat dingin. Ia mengingatkan bahwa apa yang dilakukan oleh Amiruddin Idris merupakan tindakan berbahaya.
“Sudah tidak ada masalah lagi. Tindakan saya sifatnya darurat untuk menyelamatkan Almuslim. Sekarang tidak ada masalah lagi. Uang sudah masuk kembali ke rekening Pemerintah Bireuen,” kata Amiruddin Idris.
***
Jelang lahirnya Universitas Almuslim, pengurus Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah—cikal bakal Universitas Islam Aceh—memilih tidak bergabung dengan Universitas Almuslim. Mereka mengatakan STIT Almuslim berdiri sendiri sebagai entitas terpisah di bawah Yayasan Almuslim Peusangan.
Beberapa pengurus Yayasan kecewa. Termasuk Amiruddin Idris. STIT merupakan sekolah tinggi pertama di lingkungan Jamiah Almuslim. Kampus yang ikut dia dirikan bersama para senior.
Rencana melahirkan Fakultas Tarbiyah di lingkungan Universitas Almuslim, dibatalkan.
***
Universitas Almuslim Berdiri di Peusangan
Kamis, 5 September 2003 adalah hari bersejarah bagi Almuslim. Pada tanggal tersebut Universitas Almuslim diresmikan sebagai kampus pertama di Peusangan. Peresmian itu dilakukan oleh Gubernur NAD Ir. H. Abdullah Puteh. Peresmian itu dilakukan secara besar-besaran. Ribuan tamu hadir ke kampus untuk merayakan peristiwa besar tersebut.
Semua tamu yang hadir mengucapkan selamat kepada pengurus Yayasan Almuslim Peusangan dan jajaran rektorat. Mereka bangga bila di tanah Peusangan telah berdiri universitas, yang tidak pernah dibayangkan oleh orang ramai. Mimpi yang sempat ditertawakan, akhirnya maujud dalam bentuk nyata.
Setelah dari Universitas Almuslim, rombongan Gubernur NAD berangkat ke Kecamatan Makmur untuk meresmikan Program Gema Assalam di Gampong Blang Mane. Ketika rombongan pulang, di Simpang Leubu, sekitar pukul. 16.30 WIB, sekelompok orang bersenjata yang disebut-sebut GAM, menyerang.
Kapolres Aceh Utara AKBP Sunardi tertembak. Menurut informasi jumlah GAM yang menyerang rombongan Gubernur NAD sekitar 30 orang.
Peristiwa itu diketahui oleh Amiruddin Idris beberapa saat kemudian. Dia gundah luar biasa. Karena di dalam rombongan itu, ada istrinya Nuryani Rachman, S.Pd. Nuryani yang waktu itu baru 30 hari melahirkan, dibawa ikut rombongan Gubernur NAD, menggantikan Ketua Pembina PKK Bireuen, yang saat itu berada di Turki membawa rombongan kesenian.
Setelah rombongan tiba di Pendopo Bireuen, Amiruddin mendapatkan berita saat terjadinya penyerangan dari kelompok sipil bersenjata, aparat keamanan memasukkan Nuryani ke dalam gorong-gorong di tepi jalan. Sementara Gubernur NAD Abdullah Puteh tidak terluka karena dia berada di dalam kendaraan taktis (rantis).
Malam itu kekalutan dan ketakutan menjalari rombongan Gubernur NAD. Khususnya ibu– ibu PKK dari Banda Aceh. Mereka tidak menyangka akan diserang oleh GAM. Amiruddin memerintahkan Kabag Umum Pemerintah Bireuen, Saiful, membelikan 30 daster untuk baju pengganti ibu–ibu PKK.
Tawa sempat di tengah kekalutan. Orang yang ditugaskan membeli baju pengganti, ternyata membawa pulang daster dengan motif dan warna yang sama seluruhnya.
(Bersambung)



