Saturday, 17 October 2026

Komparatif.ID

Situs Berita Aceh Inspirasi Indonesia

Featured

Sejarah Berdirinya Universitas Almuslim (Part 1)

Dosen Umuslim dipecat Universitas Almuslim
Gedung Rektorat Universitas Almuslim. Foto: Dok. Umuslim.

Lahirnya Universitas Almuslim pada 2003 di dalam ruang lingkup Jamiah Almuslim Peusangan, merupakan manifestasi kerja panjang penuh keikhlasan sejak tahun 1970-an akhir.

1984, Drs. Amiruddin Idris yang baru lulus sebagai sarjana penuh di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah/USK) pulang ke Matangglumpangdua, Peusangan, Aceh Utara. Usai menyimpan barang-barangnya di rumah dan beristirahat, ia bergegas menuju Kantor Camat Peusangan.

Setelah diberikan kesempatan bertemu, dia segera menghadap Muhammad Amin alias MA Jangka, Camat Peusangan, yang dikenal sebagai birokrat lurus, sekaligus Ketua Almuslim Peusangan/Jamiah Almuslim, sebuah organisasi pendidikan yang didirikan pada tahun 1929 oleh para ulama.

“Saya Drs. Amiruddin Idris, baru saja menyelesaikan pendidikan sarjana di Unsyiah. Sebelumnya, ketika masih sarjana muda, saya pernah mengajar di SMA Peusangan, dan SMA Almuslim.” Demikian Amiruddin Idris memperkenalkan diri kepada MA Jangka.

BACA: MA Jangka, Camat Legendaris Peusangan

MA Jangka tersenyum tipis. Dia memperhatikan sosok anak muda yang duduk di seberang meja; tepat di hadapannya.

“Kamu bantu saya di Almuslim. Bukan mengajar di SMA, tapi ikut saya ke Yayasan Almuslim,” kata MA Jangka. Amiruddin mengangguk.

***

MA Jangka ditunjuk oleh para keuchik, teungku imum, dan imum mukim sebagai Ketua Almuslim Peusangan melalui Musyawarah Besar Almuslim, November 1979. Sebelum musyawarah itu digelar, Jamiah Almuslim telah vakum dalam waktu yang sangat lama. Dipilihnya MA Jangka, karena para tokoh Peusangan menaruh harapan besar di pundaknya.

Sebagai sosok yang peduli pada dunia pendidikan, Muhammad Amin menyimpan sebuah cita-cita besar. Di Peusangan harus berdiri sebuah perguruan tinggi. Cita-cita itu dia pegang erat-erat. Disosialisasikan secara bertahap kepada para tokoh dan warga. Ada yang mendukung, tidak sedikit pula yang menertawakan.

Bagi yang menganggap cita-cita itu sebagai sebuah khayalan, mereka mengejek dengan kata-kata paling nyelekit, “cet buleuen ngon puteng sadeup”. Tapi ejekan-ejekan itu tidak membuat semangatnya patah. Ia justru semakin terpicu untuk mewujudkannya.

Ia merangkul para alumni yang pernah menimba ilmu di lembaga pendidikan menengah yang dikelola Jamiah Almuslim. MA juga menghimpun dukungan tokoh. Termasuk mengajak dua orang terpelajar yang pernah menimba ilmu di Timur Tengah. Mereka adalah Iljas Daoed,Lc, lulusan Al Azhar Cairo, Mesir, dan H. Jakfar Jusuf,Lc, lulusan universitas di Damaskus, Syiria. Sosok lain yang diajak menjadi tim inti yaitu Teungku Kasem Sulaiman yang merupakan pakar pendidikan dayah, serta beberapa orang lainnya.

Kehadiran Drs. Amiruddin Idris dalam kelompok cendekia Almuslim Peusangan, menambah daya dorong gerakan. Meskipun masih minim pengetahuan lapangan, tapi ia sosok fresh gradute. Ilmu yang ia dapatkan selama menempuh pendidikan di Universitas Syiah Kuala, tentu akan sangat membantu.

Sebuah proposal pendirian Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Almuslim pun disusun secara seksama. Mereka rapat siang dan malam. Membahas model dan pola yang akan dilaksanakan. Beberapa rencana disusun. Bilamana rencana A tidak berjalan, maka rencana B harus dijalankan.

Setelah proposal selesai disusun, mereka berangkat ke Kopertais di Banda Aceh. Sekretaris Koordinatoriat Perguruan Tinggi Keagamaan Swasta (Kopertais), Azhari Bashar, tergelak. Dia tertawa terbahak-bahak.

Apa yang menyebabkan ia tertawa? Karena di dalam proposal, MA Jangka Cs, menulis Perguruan Tinggi Ilmu Tarbiyah.

“Perguruan tinggi nama umum untuk menyebutkan sekolah tinggi, akademi, institut, atau universitas. Ubah proposal ini dan ajukan kembali,” terang Azhari Bashar sembari terus tertawa.

Kepalang basah, malu tak dapat dielak, ketidaktahuan telah terbukti. Para pengurus Almuslim Peusangan yang hadir, pun ikut tergelak. Mereka terbahak-bahak bersama.

Sepanjang perjalanan pulang ke Peusangan, mereka masih tertawa, mengingat kekonyolan yang terjadi. Betapa pengetahuan mereka sangat terbatas.

Setibanya di Peusangan, para pengurus segera merevisi proposal. Kemudian mengajukan kembali ke Kopertais di Banda Aceh. Nama perguruan tinggi yang diajukan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah. Pihak Kopertais menampung usulan tersebut. Bagi pengurus Almuslim Peusangan, hal tersebut diterjemahkan bila usulan mereka telah diterima.

MA Jangka, dkk, memanjatkan syukur kepada Ilahi. Demikian juga Iljas Daoed, Jakfar Jusuf, Kasem Sulaiman, dll. Mereka memanjatkan syukur kehadirat Ilahi. Sebuah cita-cita yang dulu ditertawakan banyak orang, kini telah wujud nyata di bekas Nanggroe Peusangan. Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Almuslim telah lahir. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1985.

Amiruddin Idris ditunjuk sebagai Kepala Bagian Akademik  STIT Almuslim. Tugasnya merancang sistem perkuliahan. Setelah berdiskusi dengan Iljas Daod, Jakfar Jusuf, Kasem Sulaiman, dan lain-lain, Amiruddin dipercayakan penuh menyusun kerangka sistem perkuliahan.

Supaya menghemat waktu dan tenaga, Amiruddin Idris mengutip utuh sistem perkuliahan yang ada di Unsyiah. Setelah dievaluasi bersama dan disetujui, maka sistem tersebut dijalankan.

Meskipun STIT Almuslim telah berdiri, bukan berarti tugas besar telah selesai. Tugas selanjutnya bagaimana meyakinkan anak-anak muda di Peusangan supaya bersedia kuliah di STIT Almuslim. (Bersambung).

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *