Friday, 16 October 2026

Komparatif.ID

Situs Berita Aceh Inspirasi Indonesia

Wisata

Menyusuri Kompleks Makam Syiah Kuala

Menyusuri Kompleks Makam Syiah Kuala
Makam Syiah Kuala. Foto: HO for Komparatif.ID.

Komparatif.ID, Banda Aceh– Kompleks Makam Syiah Kuala hari ini menjadi salah satu tujuan utama wisata religi di Aceh sekaligus ruang sunyi yang merekam perjalanan ilmu seorang ulama besar, Syekh Abdurrauf As-Singkili.

Makam Syekh Abdurrauf As-Singkili terletak tepi laut Gampong Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh.

Syekh Abdurrauf dikenal sebagai ulama, sufi, dan pemikir Islam berpengaruh pada abad ke-17 di Kesultanan Aceh Darussalam. Ia lahir di Singkil, Aceh, lalu menempuh perjalanan menuntut ilmu ke Mekkah dan Madinah selama kurang lebih 19 tahun.

Di tanah suci, ia berguru kepada sejumlah ulama besar, di antaranya Ahmad al-Qushashi dan Ibrahim al-Kurani, sebelum kembali ke Aceh membawa khazanah keilmuan Islam yang luas.

Kepulangannya bertepatan dengan masa pemerintahan Sultanah Sri Ratu Taj’ul Alam Safiatuddin. Di lingkungan istana, Syekh Abdurrauf dipercaya menduduki jabatan Qadhi Malikul Adil, posisi penting dalam sistem hukum kerajaan. Dari peran inilah lahir ungkapan yang melekat kuat dalam sejarah Aceh, “Adat bak Poteu Meureuhom, hukom bak Syiah Kuala”, yang menegaskan keseimbangan antara adat dan hukum Islam dalam kehidupan masyarakat.

Di luar peran kenegaraan, Syekh Abdurrauf juga membangun pusat pendidikan Islam di kawasan muara Sungai Aceh. Zawiyah yang ia dirikan menjadi ruang belajar, tempat diskusi keagamaan, sekaligus pusat pembinaan masyarakat. Dari kawasan itulah berkembang perkampungan yang dikenal sebagai Kuala, yang kini melekat menjadi identitas wilayah Syiah Kuala.

Kompleks makam yang ada saat ini tidak hanya menjadi tempat peristirahatan Syekh Abdurrauf. Di kawasan tersebut juga terdapat makam sejumlah tokoh kerajaan dan keluarga Kesultanan Aceh Darussalam. Letaknya di pesisir memberi kekhasan tersendiri, seolah menghubungkan laut, muara, dan sejarah dalam satu ruang yang sama. Kisah yang berkembang di masyarakat juga menyebutkan bahwa kompleks makam ini relatif tetap utuh saat tsunami 26 Desember 2004 menerjang Aceh, sehingga kerap dikunjungi untuk mengenang sekaligus merenung.

Situs Cagar Budaya Makam Syiah Kuala pun tidak pernah sepi peziarah. Pada Minggu (26/9/2026), kompleks makam dipadati pengunjung dari berbagai wilayah di Aceh. Mereka datang untuk berziarah, melaksanakan kenduri hajat, hingga berzikir. Sejak pagi, rombongan keluarga tampak berkumpul di bawah pepohonan sambil menikmati makanan yang dibawa dari rumah, sementara beberapa kelompok melantunkan zikir yang dipimpin seorang teungku.

Baca juga: Menikmati Syahdunya Masjid Raya Baiturrahman

Seorang penjaga parkir di depan gerbang makam menuturkan bahwa kepadatan pengunjung meningkat saat akhir pekan dan libur nasional. “Hari biasa tidak terlalu ramai, tapi kalau hari libur dan ada kenduri bisa ramai begini,” ujarnya singkat.

Abdul Wahid, khadam atau penjaga Makam Syiah Kuala, membenarkan peningkatan jumlah pengunjung pada hari libur. Menurutnya, pada hari tersebut tercatat rombongan dari tujuh kampung berbeda di Banda Aceh dan Aceh Besar yang datang untuk berziarah dan menggelar kenduri. Meski begitu, kunjungan tidak bergantung pada kalender. “Pengunjung tiap hari ada, tidak mesti menunggu hari libur,” katanya.

Ia menjelaskan, para pengunjung datang dengan beragam niat. Selain berziarah, banyak yang menunaikan hajat atau niat tertentu yang diwujudkan melalui kenduri, seperti menyembelih kambing lalu makan bersama keluarga dan kerabat. Untuk memudahkan peziarah, pengelola menyediakan pemandu. “Biasanya mereka membawa teungku sendiri untuk memandu ibadah. Tapi kalau tidak ada, kami di sini juga menyediakan pemandu,” tambahnya.

Pengunjung makam, kata Abdul Wahid, tidak hanya berasal dari Banda Aceh dan Aceh Besar. Sebagian datang dari Pidie, Aceh Tengah, hingga Aceh Selatan. Beberapa rombongan dari luar kota bahkan kerap menginap di penginapan sederhana yang disediakan pihak pengelola makam, sehingga peziarah dari daerah jauh dapat bermalam tanpa harus mencari tempat lain.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Banda Aceh, kompleks makam ini menawarkan sisi lain dari perjalanan wisata: bukan hanya pemandangan pesisir, tetapi juga kesempatan mengenal sejarah keilmuan dan hukum Islam yang pernah tumbuh di Aceh Darussalam. Pengunjung diharapkan tetap menjaga adab, kebersihan, dan ketenangan selama berada di kawasan tersebut, mengingat makam ini merupakan tempat ziarah sekaligus situs cagar budaya.

Syiah Kuala hari ini bukan sekadar nama tempat. Ia menjadi penanda jejak panjang peradaban ilmu, spiritualitas, dan hukum Islam yang pernah tumbuh kuat di Aceh Darussalam, dan kisah itu masih bisa dirasakan langsung oleh siapa pun yang datang.

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *