Friday, 16 October 2026

Komparatif.ID

Situs Berita Aceh Inspirasi Indonesia

Wisata

Lonceng Cakra Donya Saksi Persahabatan Tiongkok dan Aceh

Lonceng Cakra Donya Saksi Persahabatan Tiongkok dan Aceh
Lonceng Cakra Donya. Foto: Komparatif.ID/Rizki Aulia Ramadan.

Komparatif.ID, Banda Aceh– Pelancong yang berkunjung ke Banda Aceh dan menyusuri Jalan Alauddin Mahmud Syah akan menemukan Museum Aceh, tempat yang menyimpan beragam peninggalan sejarah masyarakat Aceh sejak era prasejarah. Begitu melangkah masuk ke halamannya, pengunjung langsung disapa sebuah benda bersejarah yang menjadi ikon museum ini, yakni Lonceng Cakra Donya.

Lonceng yang menggantung kokoh di halaman Museum Aceh itu merupakan benda cagar budaya yang hingga kini terjaga dengan baik.

Bagi masyarakat Aceh, Cakra Donya bukan benda asing. Bentuknya menyerupai stupa, dengan tinggi sekitar 125 sentimeter dan lebar 25 sentimeter. Terbuat dari besi, lonceng Cakra Donya dibuat di Tiongkok pada 1409 Masehi, meski ada pendapat lain yang menyebut tahun 1469.

Lonceng ini disebut sebagai salah satu yang terbesar dan tertua di Indonesia, sekaligus menjadi bukti perjalanan sejarah dan peradaban Aceh di masa lampau.

Pada sisi luarnya terdapat inskripsi aksara Arab yang kini tidak terbaca lagi, serta tulisan Tionghoa yang dilafalkan “Sing Fat Niat Toeng Juu Kat Yat Tjo”. Tulisan tersebut diartikan sebagai Sultan Ling Tang yang telah dituang pada bulan ke-12 tahun ke-5. Sebagian aksara Tionghoa pada lonceng Cakra Donya juga sudah tidak terbaca jelas karena termakan usia.

Menurut catatan sejarah, lonceng Cakra Donya adalah hadiah persahabatan dari Kaisar Yongle dari Dinasti Ming kepada Kesultanan Samudera Pasai. Hadiah itu diantarkan langsung oleh Laksamana Cheng Ho saat berkunjung ke Aceh untuk membangun kerja sama di bidang keamanan dan perdagangan.

Sumber yang dihimpun menyebut penyerahan tersebut terjadi pada 1414 Masehi. Dengan demikian, lonceng Cakra Donya melambangkan hubungan diplomatik yang baik antara Tiongkok dan Samudera Pasai.

Nama Cakra Donya sendiri memiliki makna yang dalam. Cakra berarti poros kereta, yang melambangkan Dewa Wisnu, peredaran tahun, garis cakrawala, dan matahari, yang semuanya membentuk sebuah lingkaran.

Sementara Donya berarti dunia. Dalam bahasa Sanskerta, istilah Cakra Watin merujuk pada penguasa tunggal atau penguasa dunia. Nama Cakra Donya pun dimaknai sebagai lambang kekuasaan yang meliputi dunia, bagi siapa pun yang memerintah kerajaan hingga ke ujung samudra.

Perjalanan lonceng ini tidak berhenti di Samudera Pasai. Setelah Kesultanan Aceh Darussalam menaklukkan Samudera Pasai pada awal abad ke-16, Sultan Ali Mughayat Syah membawa lonceng itu ke ibu kota Aceh, Kutaraja, yang kini menjadi Banda Aceh.

Lonceng tersebut disimpan di kompleks keraton Aceh. Sebagian sumber mencatat peristiwa ini terjadi pada 1520, sementara sumber lain menyebut 1524.

Pada masa kejayaan Sultan Iskandar Muda yang memerintah tahun 1607 hingga 1636, lonceng ini ditempatkan di kapal perang andalan kerajaan yang juga bernama Cakra Donya.

Di atas kapal itu, lonceng berfungsi sebagai pemberi aba-aba bagi armada Aceh. Armada Portugis bahkan menjuluki kapal tersebut Espanto the Mundo, yang berarti teror dunia.

Kapal itu sempat dirampas Portugis, tetapi lonceng Cakra Donya berhasil direbut kembali oleh Kesultanan Aceh. Karena itulah lonceng ini kerap disebut sebagai saksi bisu kekuatan militer Kerajaan Aceh Darussalam di masa jayanya.

Seiring waktu, fungsi lonceng ini berubah. Ia sempat digunakan sebagai penanda waktu azan, tanda waktu berbuka puasa, serta alat pengumuman bagi masyarakat. Pada 1915, Gubernur Militer Belanda di Aceh, H.N.A. Swart, memindahkannya ke halaman Museum Aceh yang baru.

Menurut cerita rakyat, pemindahan dilakukan karena dahan pohon tempat lonceng digantung di keraton sudah rapuh dan lonceng itu tidak lagi berfungsi. Cerita yang beredar di masyarakat juga menyebut pemindahan ini sempat memicu kekhawatiran warga yang meyakini lonceng tersebut memiliki kekuatan magis. Setelah banjir besar terjadi, masyarakat disebut meminta agar lonceng ditempatkan dengan layak.

Kini, Lonceng Cakra Donya telah ditetapkan sebagai cagar budaya melalui SK Wali Kota Banda Aceh Nomor 613 Tahun 2021 tertanggal 29 November 2021. Penetapan tersebut menegaskan nilai penting lonceng ini sebagai warisan sejarah yang perlu dijaga bersama.

Bagi wisatawan, berdiri di depan lonceng ini memberi kesempatan melihat langsung benda yang pernah menjadi bagian dari diplomasi lintas bangsa, pelayaran armada perang, hingga kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh.

Setelah itu, pengunjung dapat melanjutkan penjelajahan ke dalam museum untuk menyaksikan beragam koleksi lain yang merekam jejak peradaban Aceh dari masa ke masa. Museum Aceh dapat menjadi titik awal yang tepat bagi siapa pun yang ingin mengenal sejarah Aceh secara lebih dekat.

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *